Kisah Salsa

34

Hai teman!

Namaku Salsa, usiaku 6 tahun. Sama dengan anak-anak lain, aku sangat suka bermain, berlari, belajar hal yang baru.

Main boneka dan makan permen adalah hobiku. Kata orang aku anak yang ceria dan pintar. Aku bisa menyusun puzzle yang sulit dengan waktu cepat.

Saat ini aku sedang sedih, karena banyak hal yang aku ingin lakukan tapi tidak bisa kulakukan lagi.

Aku sedang dirawat di rumah sakit. Tak seorangpun dari keluargaku mau menemaniku.

Oh iya teman, aku lupa cerita. Ayahku marinir angkatan laut. Ayahku ganteng sekali, tapi ayahku sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Katanya beliau sakit sepertiku.

Ibuku adalah perempuan yang cantik dan sederhana. Ibu selalu di rumah kadang-kadang beliau menjual makanan di warung belakang rumahku. Tapi aku tidak tahu kenapa ibuku tidak bersamaku lagi sekarang.

Kata pamanku, ibuku sakit dan ada gangguan. Aku tidak mengerti. Pamanku awalnya menemaniku di rumah sakit. Aku tidak suka dengan pamanku. Dia sering memarahiku. Aku sebal. Namun sudah seminggu ini, pamanku tidak lagi menemaniku.
Mungkin karena aku nakal ya? Aku juga tidak tahu.

Hari ini aku dikunjungi lagi oleh tante bunga. Tante bunga dari forum peduli anak indonesia. Tante bunga membawakan buku, puzzle dan boneka untukku.

Aku senang tante bunga datang, tante membacakan dongeng, mengajakku main puzzle dan menemaniku seharian. Tante bunga baik sekali. Kemarin aku minta bubur instan kesukaanku dan dibelikan. Aku sekarang sudah bisa makan sendiri walaupun perutku masih dilobangi, kata bu dokter jaga-jaga kalau saya dapat gangguan pencernaan lagi. Tante bunga kalau datang selalu bawa sesuatu yang aku pesan.

Kalau tante bunga datang lagi aku mau minta dibawakan permen dan mainan.

Tante bunga pulang, katanya sudah malam, aku jadi sedih lagi. Karena tidak ada yang menemaniku terus di rumah sakit.

Aku bosan di rumah sakit, kata ibu dokter aku sudah boleh pulang tapi masih menunggu ada keluargaku yang menjemput.

Aku sudah merasa sehat walau kata bu dokter, walaupun sudah pulang dari rumah sakit,  setiap 2 minggu sekali harus ke rs untuk ambil obat.

Kata bu dokter, aku mengidap HIV dengan Infeksi Oportunistik TB.  Setiap hari seumur hidupku, aku harus minum obat namanya ARV dua kali sehari di waktu yang sama dan tidak boleh telat.

Aku heran kenapa ya aku tidak seperti anak yang lain. Kenapa aku sakit? Kenapa keluargaku tidak pedulikan aku? Aku sedih!

 

Kisah ini adalah kisah nyata, saat ini Salsa (nama samaran) masih dirawat di salah satu rumah sakit rujukan di Jakarta dengan status anak yang ditelantarkan keluarga.  Masih banyak anak dengan HIV positif yang memiliki nasib yang sama dengan Salsa. Setiap bulannya ada anak HIV positif baru yang terinfeksi karena ketidaktahuan ibunya (orangtuanya) akan status HIVnya.  Kasus HIV pada perempuan di Indonesia setiap tahunnya meningkat dan mayoritas perempuan yang positif adalah bukan dari kelompok berisiko (PSK, pemakai narkoba, perempuan dengan gaya hidup seks bebas) melainkan dari kelompok umum yaitu ibu rumah tangga.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan, kumulatif jumlah kasus AIDS sampai September 2013 sebesar 34,3% atau sebanyak 13.309 kasus terjadi pada perempuan dan jumlah kasus menurut kelompok umur 0-14 tahun (kelompok anak) sebesar 3,66%.  Ketidaktahuan perempuan akan status HIV sejak dini menyebabkan status HIV pada perempuan meningkat menjadi AIDS, bahkan menyebabkan penularan HIV antara ibu dan anak.