Sosok perempuan tak pernah ada habisnya untuk dibahas. Tidak kita pungkiri jika sekarang ini perempuan tampaknya sudah berperan dalam ruang publik, dengan posisi yang semakin beragam. Tapi di sisi lain  dalam memainkan peran di ruang publik tersebut  tidak sedikit perempuan yang sebenarnya masih dalam posisi sub-ordinasi.

Apakah konsep diri perempuan tergantung siapa yang menyebut atau siapa yang memandang? Perempuan menurut pandangan orang, atau perempuan menurut diri perempuan itu sendiri? Kompleks dan tidak mudah menjawabnya. Jawaban dari pertanyaan ini sangat tergantung pada bagaimana perempuan memandang dirinya sebagai perempuan, dan bagaimana masyarakat memandang perempuan.

Konsep diri dan mitosnya

Apakah konsep diri itu? Self concept atau konsep diri adalah bagaimana seorang individu  berpikir dan merasakan tentang dirinya yang sebagai APA dan SIAPA. Penjelasan tentang APA dan SIAPA diri, merupakan refleksi pemikiran setiap individu. Sementara refleksi sangat dipengaruhi oleh interaksi antara individu dengan dunia luar, termasuk orang terdekat, kawan-kawan, kelompok, dan masyarakat luas. Interaksi sosial itulah yang akan diolah oleh individu untuk dijadikan konsep diri. Konsep diri yang terbentuk akan mempengaruhi keputusan individu dalam memilih peran dalam kehidupannya.

Ada banyak sekali mitos tentang perempuan yang lalu lalang di sekitar kita. Mitos bahkan sudah ada jauh sebelum kita dilahirkan, dan terus menerus berkembang dan tersebar luas dari masa ke masa. Masih jelas dalam ingatan kita tentang kisah-kisah seperti Cinderalla, Rapunzel, Sleeping Beauty atau kisah-kisah lokal terkait citra perempuan, seperti  Jaka Tarub dan tujuh bidadari, Kleting Kuning dan Yuyu Kangkang dan sebagainya.

Kisah-kisah tersebut diwariskan dari gegerasi ke generasi sehingga memperoleh pengakuan dan pembenaran dari masyarakat. Yang dapat kita simpulkan dari berbagai mitos-mitos tersebut di antaranya adalah bahwa perempuan haruslah penurut, tidak boleh melawan sekalipun diperlakukan buruk, pemimpi, pemaaf, atau tukang tebar pesona.

Masih tampak di berbagai kesempatan baik ruang domestik maupun ruang publik, jika hubungan antara laki-laki dan perempuan masih mirip dengan berbagai mitos tadi–bukan hubungan kesetaraan yang egaliter, melainkan hubungan antara penguasa dan yang dikuasai, antara yang dilayani dan yang melayani. Dominasi laki-laki masih saja terjadi.

Sampai di sini, sebenarnya masih sumir apakah perempuan Indonesia memiliki konsep diri secara mandiri atau merupakan bentukan dari masyarakat. Bahkan, di masyarakat  modern seperti sekarang pun mitos-mitos itu masih mendapatkan pembenaran secara kultural. Kultur masih membenarkan adanya dominasi yang memposisikan perempuan sebagai obyek.

Konsep diri melalui pemberdayaan

Ketika pembangunan semakin cepat di era globalisasi ini, lebih sering perempuan adalah pihak yang tidak siap dengan perubahan itu. Hal tersebut disebabkan perempuan masih lebih banyak bergulat di ruang domestik. Untuk mengatasi hal tersebut, kuncinya adalah kembali pada pemberdayaan perempuan di berbagai bidang.

Pemberdayaan perempuan pada dasarnya adalah sebuah upaya untuk meningkatkan kemampuan perempuan, agar memperoleh akses dan kontrol terhadap sumber daya, politik, ekonomi, sosial, budaya di sekitarnya. Diharapkan dengan akses tersebut, perempuan mampu mengatur dirinya, meningkatkan rasa percaya diri, sehingga bisa berpartisipasi aktif  dalam memecahkan masalah-masalah sosial kemasyarakatan.

Pemberdayaan perempuan merupakan sebuah proses untuk memperkuat sebuah kelompok yang dianggap lemah dalam masyarakat.  Dengan pemberdayaan secara berkelanjutan, konsep diri perempuan lama kelamaan akan terpupuk. Jika sebelumnya konsep diri perempuan cenderung tergantung pada cara pandang masyarakat terhadap dirinya, maka pemberdayaan perempuan akan membuat perempuan lebih mampu menilai diri sendiri sehingga tercipta konsep diri yang positif.(nf)