“Tidak ada alasan untuk tidak mencintai lingkungan”, kalimat ini sering saya ucapkan kepada siapapun terutama kepada anak didik saya.  Setiap kesempatan disela-sela jam mengajar selalu saya selipkan kalimat, “Jaga lingkungan, lestarikan tanaman”. 

Banyak sekali manfaat yang bisa kita peroleh dengan mencintai lingkungan maupun melestarikan tanaman. Seluruh kebutuhan hidup disiapkan oleh alam, pemenuhan hidup: sandang, pangan, dan papan adalah kontribusi dari alam. Masihkah kita tidak mencintai alam?

Dalam konsep biologi, manusia, tumbuhan dan hewan merupakan suatu komponen mahluk hidup yang saling berinteraksi dan punya hubungan timbal balik dengan lingkungan.  Manusia sebagai konsumen tidak bisa hidup tanpa komponen lain dan sebaliknya. Dari ketiga komponen mahluk hidup itu, manusia adalah komponen yang paling sempurna. Manusia diberikan akal dan pikiran. Oleh karena itu, manusia harus mampu menjaga dan melestarikan lingkungan. Masalahnya adalah, mampukah kita sebagai manusia mengemban amanah ini?

Akal dan pikiran manusia digunakan untuk mengelola sumber daya alam, menjaga dan melestarikan agar tidak punah bukan malah mengeksploitasi alam. Pemanfaatan alam secara berlebihan akan mengakibatkan kepunahan beberapa jenis tanaman yang mungkin anak cucu kita kelak hanya akan mengenal beberapa tumbuhan dalam bentuk sejarah saja, tidak lagi bisa melihatnya secara langsung. Menyedihkan, bukan?

Fenomena di atas menggerakkan hati seorang pemuda bernama H. Darmawan Daeng Nassa yang lebih akrab dengan sapaan “Denassa” singkatan dari Daeng Nassa. Pemuda asal Bontonompo Kabupaten Gowa yang juga pernah menjabat sebagai ketua HIPMI (Himpunan Pengusaha Muda Indonesia) Kabupaten Gowa, membangun sebuah rumah dengan konsep rumah hijau secara suka rela. Rumah dan lahan yang digunakan untuk membangun rumah hijau ini adalah miliknya pribadi. Pengelolaannya pun secara pribadi, hanya bersama istri dan anak-anaknya.

Berawal dari kegelisahan hati seorang Denassa yang rindu akan masa kecilnya dulu, saat berinteraksi dengan beberapa jenis tanaman yang sekarang ini telah jarang di jumpainya.  Kegelisahan itu semakin menjadi  setelah mendapat pertanyaan dari anaknya tentang bentuk fisik nyata beberapa tanaman  dari cerita Denassa tapi tanaman yang dimaksud telah jarang bahkan tak lagi dijumpai saat ini. Denassa mulai bergerak melestarikan pohon dan tanaman yang ada disekelilingnya dengan menanam beberapa jenis tanaman baik jenis tanaman yang sama maupun yang belum ada dalam tanaman koleksinya.

Seiring berjalannya waktu, Denassa telah melakukan banyak hal bersama rumah hijaunya. Rumah Hijau Denassa yang disingkat dengan RHD, kini telah menjadi kebanggaan banyak orang.  Berjalan mengelilingi rumah hijau membawa kita merasa seakan berada di hutan, padahal letak rumah hijau berada di pinggir jalan kota Kecamatan Bontonompo yang lumayan ramai. Disekeliling pekarangan  terdapat berbagai jenis tanaman yang memperkaya nuansa alamiah sebuah desa di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.  Salah satu hal yang menarik dari koleksi tanamannya adalah dua pohon unik yang saling melengkapi yaitu jenis pohon beracun yang ditanam berdampingan dengan tanaman penangkalnya.

Belakangan ini RHD mulai dilirik oleh banyak orang.  RHD telah mendapat apresiasi dari berbagai pihak yang di tandai dengan beberapa penghargaan yang telah di terima oleh Denassa baik dari lembaga sosial maupun dari pihak pemerintah.  Bentuk apresiasi lainnya juga di tandai dengan seringnya menerima kunjungan dari berbagai kalangan baik secara personal, komunitas hingga pihak pemerintah terutama yang terkait dengan dinas pertanian.  RHD menjadi pilihan yang tepat sebagai bagian wajib kunjung untuk meningkatkan kecintaan terhadap tanaman karena dapat mengedukasi masyarakat dan meningkatkan pemahaman tentang pentingnya melestarikan tanaman, sekaligus menikmati suasana alam RHD yang sejuk alami bebas polusi. (sm)