Lebaran di Tanah Rantau

0
52

Hari kemenangan telah tiba, ada suka cita dan ungkapan syukur di sana sini. Dari hunianku yang sepi aku mendengar gema takbir dikumandangkan. Suara beduk bertalu-talu, tak ketinggalan bunyi terompet memecah keheningan malam. Semua larut dalam kemeriahan dan kebahagiaan menyambut hari yang suci. Aku masih di sini di hunianku, hunian sederhana berkamar sepuluh.

Hanya ada aku dan seorang sahabat yang menikmati dari jauh suasana meriah dari luar sana. Entahlah bunyi-bunyian itu berasal dari mana, terasa dekat di telinga namun sejauh mata memandang hanyalah sepi. Tidak terlihat hiruk pikuk pedagang kaki lima yang menguasai kiri kanan jalan, juga para mahasiswa yang tak pernah lelah melewati seputaran Babakan Raya untuk sekedar mencari makan atau melakukan aktivitas lainnya di jalan yang “tak pernah tidur”. Tidak ada suara klakson–pertanda kesabaran sang pengendara telah habis akibat lalu lintas yang padat merayap–yang berlomba-lomba.

Aku masih di sini, di tanah rantau ini. Jauh dari rumahku di ujung paling timur ibu pertiwi. Merauke adalah rumahku, sebuah rumah yang paling aman dan nyaman dari negeri di timur matahari. Rumah yang mengajarkanku arti toleransi, kebersamaan dan persaudaraan dalam perbedaan. Kata toleransi yang benar-benar diwujudnyatakan dalam peri kehidupan sehari-hari, bukan sekadar bacaan wajib di buku pelajaran PPKn.

lebaran

Suasana Dramaga sunyi sepi. Sebagian besar penghuni daerah ini adalah para perantau, baik para mahasiswa yang meninggalkan kampung halaman untuk menuntut ilmu maupun mereka yang mengadu nasib demi mengais rezeki. Bogor ditinggal oleh para perantau sampai usai Lebaran nanti.

Aku tiba-tiba rindu suasana lebaran di rumahku. Suasana lebaran yang hangat–ada canda tawa, senyum sumringah di setiap silahturahmi sekaligus reuni. Ya, selain sebagai ajang silahturahmi antarkeluarga, momentum lebaran juga saat yang tepat untuk reunian bersama para sahabat lama. Sahabat yang terpisah kota dan akhirnya disatukan pada saat hari raya. Tidak lupa juga saatnya “wisata” kuliner dari rumah yang satu ke rumah yang lain. Karena dipastikan semua rumah yang dikunjungi pasti menyiapkan “makanan berat”, tips dari saya, ada baiknya dari rumah pertama kalau ditawari makanan hanya sekadar icip-icip. Ini untuk mencegah terjadi kekenyangan dan “tidak bisa makan” di rumah-rumah yang lain. Hahahahahahahahahaha.

Ada yang menarik ketika saya menonton acara infotainment di salah satu stasiun televisi swasta nasional edisi hari ini, Selasa, 5 Juli 2016. Berita artis yang menarik menurut saya: artis yang ikut berlebaran meskipun sebenarnya tidak merayakan hari yang fitri ini. Mereka adalah artis Gita Sinaga dan presenter John Martin Tumbel, atau yang dikenal sebagai John Pantau. Tradisi di rumah artis Gita Sinaga adalah sang ibu juga turut memasak menu opor ayam, ketupat lengkap dengan sambal goreng ati–hal yang sudah berlangsung bertahun-tahun di keluarganya. Lain halnya dengan John Pantau, presenter satu ini sering ikut teman-temannya buka bersama. Momen libur lebaran pun dimanfaatkan John untuk mudik ke kampung halaman, menikmati liburan bersama keluarga tercinta.

Di Merauke, saya sudah ikut merayakan lebaran sejak usia yang masih sangat dini. Bersama keluarga, kami terbiasa untuk pergi bersilahturahmi ke rumah keluarga ataupun kerabat yang beragama muslim. Di momen lebaran seperti ini, ibu-ibu Nasrani juga tak kalah sibuk menyiapkan kue-kue hantaran untuk diberikan kepada saudara, kerabat ataupun sahabat yang merayakan hari lebaran. Tradisi saling memberi hantaran berupa kue-kue lebaran, minuman kaleng, atau opor ayam lengkap dengan ketupat bukanlah hal yang asing bagi kami.

Tahun ini merupakan kali kedua aku merayakan lebaran di tanah rantau. Yang pertama tahun 2010, ketika aku berada di Jember, Jawa Timur. Layaknya Bogor yang merupakan sebuah kota studi di Jawa Barat, Jember juga merupakan salah satu kota studi Jawa Timur. Ketika hari lebaran tiba, kota menjadi sunyi senyap ditinggal para penghuninya. Induk semang saya saat itu merupakan pendatang dari Pasuruan. Sebagai satu-satunya pemeluk Nasrani di rumah kos, sekaligus pendatang dari daerah paling jauh, bisa dipastikan saya menjadi penghuni terakhir di kos. Sunyi, sepi dan sedih. Semua warung makan tutup, hanya toko waralaba yang buka. Air mata berlinang dipipi sembari makan semangkok mie instan. Pikiranku melayang membayangkan kemeriahan di kampung halaman. Rumahku pasti penuh, momen libur lebaran juga kami manfaatkan untuk ajang kumpul keluarga. Keluarga yang selama ini terpencar akibat tugas pengabdian dan perjalanan hidup mencari “selembar ijazah”.

Terbayang dalam benakku beraneka makanan khas lebaran, mulai dari ketupat dan opor ayam, buras dan coto Makassar, rendang dan sebagainya. Aku juga merindukan suasana Merauke yang ramai oleh anak-anak kecil dengan tas ranselnya. Rombongan anak-anak berburu angpao dan minuman kaleng. Hampir setiap rumah menyediakan minuman kaleng atau pun bingkisan yang berisi minuman, permen dan makanan ringan. Anak-anak bebas bertamu, entah si pemilik rumah orang yang mereka kenal maupun tidak mereka kenal. Asal pintu rumah terbuka, rombongan anak-anak ini akan mampir. Tradisi seperti ini tidak hanya terlihat pada saat hari lebaran. Berbagai hari raya keagamaan di Merauke pasti terlihat suasana seperti ini, baik lebaran, natal, imlek dan tahun baru.

Aku masih di sini, di tanah rantau ini. Hanya sebuah doa dan harapan yang kupanjatkan untuk saudara-saudaraku, sahabat, kenalan dan handai taulan yang merayakan hari kemenangan ini. Sebuah doa yang tulus dari dasar hatiku, semoga segala amal dan ibadah yang dilakukan selama bulan suci Ramadhan di terima oleh Allah Yang Maha Kuasa. Semoga sukacita, kedamaian dan kegembiraan di hari kemenangan ini bisa berlangsung selamanya dari hari lepas hari. Selamat Idul Fitri 1 Syawal 1437 Hijriah. Mohon maaf lahir dan bathin.(Mariana Lusia Resubun)