Jika dunia barat punya steak, maka di Indonesia salah satu hidangan daging bakar yang sangat digemari adalah sate. Ragam budaya Indonesia pun juga mewarnai ragamnya sate yang ada di beberapa daerah. Sebut saja beberapa jenis sate yang terkenal, diantaranya adalah sate Madura, sate lilit Bali, sate Lombok, dan juga sate maranggi Purwakarta.

Sejarah Sate Maranggi

Sate khas yang sangat mudah ditemui di seluruh wilayah Purwakarta ini ternyata memiliki kisah yang unik. Dalam majalah Patanjala (Vol 9 no 2 Juni 2017 Irvan Setiawan,  peneliti Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Jawa Barat, menuliskan ulasan tentang sate maranggi. Dalam jurnal tersebut, Irvan menuliskan, sate maranggi pertama kali dijual pada tahun 1960-an di daerah Cianting Kecamatan Sukatani Kabupaten Purwakarta. Nama penjual sate maranggi di Cianting adalah Mak Anggi yang berjualan sate menggunakan tenda. Sate yang dijual Mak Anggi rupanya disukai warga, dan akhirnya menyebar dari mulut ke mulut.

Pengucapan nama Mak Anggi yang disampaikan terus menerus akhirnya memunculkan nama Maranggi. Tidak jauh dari tempat Mak Anggi berjualan, Mang Udeng, nama panggilan dari penjual sate maranggi lain di wilayah Plered, juga berjualan sate sejenis pada tahun 1962. Dan sejak itu, di beberapa kecamatan lainnya, mulai terdapat penjualan sate sejenis. Semakin banyaknya penjual sate maranggi di Purwakarta membuat Bupati Purwakarta periode lalu, Dedi Mulyadi mengukuhkan sate maranggi sebagai hidangan khas Kabupaten Purwakarta.

Ciri Khas Sate Maranggi

Bagi yang belum mencicipi, pasti akan penasaran dengan sate maranggi. Sate maranggi adalah sate yang awalnya dibuat dari daging sapi atau kerbau yang dibuat berbentuk dadu 4 berukuran 1 cm. 4 potongan daging tersebut disatukan sejajar dengan cara ditusukkan pada bilah bantu runcing berukuran 20 cm yang  kemudian diberi bumbu lalu dipanggang hingga matang. Yang menjadi khas dari sate maranggi adalah penggunaan bumbu marinasi, serta selipan lemak diantara daging yang digunakan untuk membuat sate. Akan tetapi atas permintaan konsumen, sekarang di beberapa tempat penjual sate maranggi, dapat dipesan pula sate maranggi kambing dan ayam.

Sedangkan bumbu sate maranggi sendiri berbeda dengan sate lainnya, yaitu menggunakan racikan rempah-rempah dengan rasa cenderung manis gurih. Adapun dalam penyajiannya, sate maranggi dilengkapi dengan racikan kecap yang sudah diberi rawit dan acar. Umumnya sate maranggi tidak dilengkapi bumbu kacang seperti yang disajikan pada sate madura.

Kampoeng Maranggi

Seiring bertambah banyaknya penjual sate maranggi di Purwakarta, para penjual sate pun mulai bergabung dalam kelompok penjual sate maranggi. Keberadaan mereka, saat ini diikat dalamsebuah komunitas yang berlokasi di sebelah Stasiun Plered Purwakarta. Melalui Kampoeng Maranggi, nama komnitas penjual sate maranggi yang diresmikan  6 April 2016, telah bergabung lebih dari 100 penjual sate maranggi. Selain dibentuknya komunitas, di Plered pun juga dibangun sentra kuliner sate maranggi yang juga menjadi tempat berjualan sate maranggi. Sehingga konsumen dari berbagai daerah dapat membeli sate maranggi sembari berbelanja kerajinan keramik yang merupakan produk khas Plered. Untuk menikmati sate maranggi di Kampoeng Maranggi, pengunjung dapat datang ke lokasi hingga pukul 3 pagi.

Sentra Penjualan Sate Maranggi

Selain di Plered, terdapat beberapa lokasi yang menjadi tempat berkumpulnya penjual sate maranggi. Diantaranya di Pasawahan, Situ Wanayasa, Situ Buleud dan Cibungur. Semua penjual memiliki kekhasan dalam menjual sate maranggi. Walaupun semula ada pakem khusus, seperti ukuran daging dan bumbu, tetapi seiring berjalannya waktu, setiap pedagang membuat inovasi supaya dagangannya laku dan mendapat minat konsumen. Ada yang memperbesar ukuran sate, menggunakan daging has dalam, pelayanan yang ramah, hingga inovasi kemasan supaya dapat dinikmati di luar daerah.

Untuk mempertahankan keberadaan sate maranggi supaya tidak tergerus hadirnya makanan asing pada generasi mendatang, pemerintah sedang mengupayakan sate maranggi menjadi warisan budaya tak benda. Adalah perjuangan dari Pemerintah Kabupaten Purwakarta beserta Pemerintah Provinsi Jawa Barat dalam mempertahankan kuliner asli.

Anda belum mencoba sate maranggi? Segeralah berkunjung ke Purwakarta, dan rasakan kelezatannya yang membuat anda selalu ingin kembali.

Sumber :

Irvan Setiawan, Patanjala Vol 9 No 2, Juni 2017, hal 277-292