Tanpa organisasi dunia hanya akan melahirkan kaum pecundang, tetapi dengan organisasi dunia akan membangun industri kepemimpinan yang memperanakkan kepemimpinan. Kehidupan membutuhkan organisasi, dan yang mengabaikan organisasi berarti mengabaikan kualitas hidupnya. (Sipil Institut).

Tidak ada aktivitas manusia yang terlepas dari organisasi. Sejak dari kandungan ibunya, bayi sudah membutuhkan organisasi (Puskesmas). Seterusnya, anak balita membutuhkan organisasi (TK), beranjak remaja membutuhkan organisasi (SD, SMP, SMA), setelah menjadi dewasa membutuhkan organisasi (Universitas), dalam menghidupi keluarga butuh organisasi (Tempat Kerja), memasuki usia senja membutuhkan organisasi (Rumah Sakit), sampai meninggal dunia pun tetap membutuhkan oraganisasi (Perizinan Pemakaman). Lalu mestikah kita mengabaikan organisasi membiarkannya menjadi barang rongsokan?

Jawabannya pasti TIDAK! Karena bekerja sendiri sudah pasti tantangan dan bebannya lebih berat. Faktanya, banyak orang yang lebih senang bekerja sendiri kemudian menjadi pecundang dan hanya mampu menjadi tukang tepuk tangan atas kemenangan orang lain. Karena itu, untuk menjadi pemenang perlu bekerjasama menghadapi gelombang kehidupan, dan bentuk kerjasama yang paling efektif adalah melalui organisasi.

Untuk menjaga kelangsungan kehidupan organisasi, maka sebuah organisasi laksana seperti keluarga. Jika organisasi tidak menjadi keluarga, yang seluruh anggotanya berusaha mempertahankan dan mengembangkan usahanya, ia pasti berantakan. Seperti halnya manusia yang menjadi anggota keluarga, organisasi membutuhkan semangat untuk bisa tetap bertahan hidup. Tanpa semangat kebersamaan, sebuah organisasi akan menjadi rumah kumuh tak berpenghuni. Supaya kebersamaan dalam organisasi bisa tercipta dengan baik, berikut dua teori yang bisa dipakai dalam mengelola organisasi.

 

  1. Teori Sistem

Teori sistem mengatakan bahwa keberhasilan sebuah sistem sangat tergantung kepada sub-sub sistem yang ada di dalamnya. Organisasi, apa pun nama dan bentuknya, adalah sebuah sistem. Dalam struktur pemerintahan, mulai negara sebagai organisasi terbesar sampai tingkat organisasi terkecil RT (Rukun Tetangga) semuanya adalah suatu sistem. Negara adalah suatu sistem yang memiliki sub-sub sistem di dalamnya: Eksekutif, Legislatif, dan Yudikatif. Keberhasilan suatu negara sebagai suatu sistem sangat ditentukan oleh sub-sub sistem yang ada di dalamnya

  1. Teori Struktur Fungsional

Teori sistem tidak pernah berdiri sendiri dalam keberlangsungan hidup suatu organisasi. Ia harus bersenyawa dengan pasangannya yang bernama teori Struktur Fungsional. Teori ini mengajarkan bahwa keberhasilan suatu sistem sangat tergantung dari optimasi kinerja sub-sub sistem yang ada di dalamnya. Kalau ada sub-sistem dalam organisasi negara tidak berfungsi sebagaimana mestinya, misalnya anggota DPR tidak menjalankan fungsi legislasinya dengan baik karena menerima sogokan, sudah pasti kinerja sub-sistem lainnya terpengaruh dan berimplikasi rusaknya organisasi negara sebagai sebuah sistem.

Jadi, apapun bentuk organisasinya, kalau mengabaikan kedua teori di atas pasti rontok di tengah jalan. Sebaliknya, jika mematuhi kedua teori ini dipastikan organisasi tersebut akan berkembang dengan baik. Semua sub sistem dalam organisasi itu penting. Jika tidak percaya, tempatkanlah orang yang tidak memahami tupoksi di satu sub-sistem, maka bisa dipastikan semua sub sistem dalam organisasi tersebut akan terguncang. Supaya organisasi berjalan dengan baik dan tidak mengalami guncangan, diperlukan pemahaman tentang lima modal kemenangan dalam mengelola organisasi, khususnya organisasi perempuan–yang tantangannya lebih besar daripada organisasi yang dikendalikan lelaki.

  1. Ide

Modal ide atau gagasan adalah modal pikiran sebagai produk dari pendidikan, baik formal maupun non-formal. Dikatakan ide adalah produk pendidikan karena ide-ide kreatif lahir di dua tempat yang berlabel pendidikan. Pertama, ide-ide kreatif itu banyak lahir pada orang-orang yang pernah melewati pendidikan formal. Kedua, tidak jarang juga ide-ide besar yang fenomenal lahir dari orang-orang yang belajar secara otodidak melalui melalui pendidikan non-formal.

Modal ide adalah modal alami yang tercipta dengan sendirinya dari orang yang memiliki kemauan untuk melakukan perubahan dalam dirinya. Selama masih bisa menggerakkan tubuh untuk belajar secara otodidak, minimal lewat membaca buku-buku, maka Anda sudah memupuk modal pertama yang paling dahsyat pengaruhnya dalam mengelola suatu organisasi. Soekarno muda yang gemar belajar dan membaca buku, sekali waktu ketika ditangkap mengatakan bahwa Belanda boleh memenjarakan fisik Bung Karno, tetapi tidak bisa memenjarakan ide-ide Bung Karno. Selama ada udara dan waktu, selama itu pula ide-ide Bung Karno akan terus bergerak laksana angin menembus kokohnya dinding penjara. Itulah sebabnya, dalam pengasingannya, Bung Karno selalu menempatkan buku sebagai teman paling setia yang menemaninya.

Sebuah ide lebih mudah diwujudkan dalam sebuah organisasi karena di situ ada kerjasama untuk mewujudkan ide tersebut. Di sisi lain eksistensi suatu organisasi sangat ditentukan oleh ide-ide kreatif anggotanya. Jadi, modal utama untuk mengelola organisasi adalah ide-ide kreatif para anggotanya. Tanpa itu, organisasi laksana mobil rongsokan yang mogok di tengah jalan.

  1. Mental

Sekecil apa pun ide akan berproses menjadi besar dan bernilai ketika ada keberanian untuk memulai mencoba mewujudkannya dalam bentuk karya nyata. David J. Schwartz mengatakan, gagasan yang bagus saja tidak cukup. Gagasan sederhana yang dilaksanakan dan dikembangkan, seratus persen lebih baik daripada gagasan yang hebat tetapi tidak ditindaklanjuti. Tidak ada organisasi yang bisa langsung besar tanpa usaha mengimplementasikan pemikiran kreatif anggotanya. Hanya orang yang berani melangkah yang akan sampai ke garis finis. Hanya orang yang berani mewujudkan idenya yang bisa mengelola organisasi dengan baik.

Berbicara tentang keberanian berarti berbicara tentang mental. Jadi, kalau ingin mewujudkan sebuah organisasi menjadi gerakan yang memproduksi kreatifitas, Anda harus memiliki mental yang kuat untuk menghadapi tantangan dan kritikan. Ketika tersandung dan jatuh, mental yang kuat akan membuat Anda bangkit dengan segala keterbatasannya. Ketika usaha hancur dan kegagalan, mental yang kuat akan mengumpulkan puing-puing yang tersisa untuk kembali berdiri menata organisasinya.

  1. Modal sosial

Ide yang dikelola dengan mental yang berani akan menggerakkan organisasi. Langkah selanjutnya adalah bagaimana memperkenalkan atau mensosialisasikan program-program organisasi ke publik untuk mencari dukungan. Modal sosial yang dimaksud di sini adalah modal silaturahim. Organisasi membutuhkan anggota yang aktif dan proaktif merajut jejaring sosial dalam menjalankan roda organisasi. Silaturahim yang baik akan mendatangkan keberkahan bagi organisasi yang dikelolanya, karena dari silaturahim informasi dan peluang-peluang kerjasama yang saling menguntungkan dalam mengembangkan organisasi akan berdatangan.

  1. Doa

Ada empat kunci sukses yang selalu diajarkan dalam konsep Islam yaitu : Usaha, Ihtiar, Doa, dan Tawaqal. Kalau sudah memiliki ide yang berani diwudkan ditambah dengan jaringan silaturahim yang luas, persoalannya kemudian adalah tentang harapan-harapan indah yang belum terjadi. Itu berarti memasuki wilayah yang bersifat transendental, yang menawarkan dua kemungkinan: berhasil atau gagal.

Di sinilah pentingnya modal doa. Doa menjadi jalan keluar paling ampuh, karena doa adalah pedang tajam dan obat yang paling manjur untuk mewujudkan mimpi-mimpi. Allah memerintahkan hambanya berdoa dan berserah diri kepada-Nya, dan Allah berjanji untuk menjawab doa hamba-Nya yang bersungguh-sungguh, karena apapun yang dilakukan hamba-Nya, Allah selalu ada bersamanya.

  1. Modal finansial

Ada tiga pertanyaan menarik yang perlu dimunculkan mengawali pembahasan modal finansial ini. Pertama, kenapa modal finansial (uang) ini harus diletakkan diurutan kelima berdasarkan azaz kepentingannya dalam memulai mengelola organisasi? Kedua, bukankah pemahaman pada umumnya orang selama ini adalah uang yang menentukan segalanya? Ketiga, bukankah organisasi tidak bisa bergerak tanpa memiliki uang.

Pertanyaan pertama akan terjawab nanti dengan sendirinya, sementara pertanyaan kedua dan ketiga yang harus diwaspadai karena uang mengandung racun 70% dan madu 30%. Bagi organisasi yang memiliki pendanaan reguler, uang menjadi madu yang bisa memicu semangat anggota mengambangkan organisasi. Tetapi, bagi organisasi yang hidup pas-pasan, menggantungkan kelangsungan organisasi kepada uang dapat menjadi racun yang bisa membunuh fungsi-fungsi syarafnya untuk bermimpi dan berusaha memajukan organisasinya

Data dan fakta menunjukkan, keberhasilan mengelola organisasi tidak ditentukan seberapa banyak modal yang dimiliki untuk memulai menjalankan program-programnya, tetapi lebih pada seberapa mampu anggotanya bekerja keras mewujudkan ide-ide kreatifnya. Modal pertama sampai keempat adalah modal utama yang lebih penting, karena modal kelima akan datang dengan sendirinya kalau mampu memaksimalkan keempat modal sebelumnya. (sm).

Sumber Bacaan:

www.hukumpedia.com

www.sipil-institut.com