Buku diari adalah sebuah kisah yang sedang ia rekam. Sebuah peristiwa, yang tergoreskan dengan pena, lalu peristiwa itu suatu saat akan bercerita kepadamu tentang sukacita, lalu duka. Menghampirimu dengan pikiran yang terkadang sedang kalap, atau sedang bersukaria. Jiwa-jiwa yang luka, jangan engkau biarkan semakin membara. Obati dengan goresan-goresan tanganmu di suatu buku catatan, lalu ingatkan diri di saat sedang terjerambab dalam kegelapan, dengan tulisanmu dahulu yang sempat berbara semangat-semangatmu itu untuk mencapai asa. Mari kita jelajahi, mengapa pentingnya buku diari.


Memaknai Menulis, Berdikari dengan Diri Sendiri

Menulis adalah kegiatan mengungkapkan pikiran dalam sebuah media dengan kata-kata. Perkara hati yang tidak dapat dikeluarkan, dan terbendung di dalam dada secara terus-menerus akan berdampak kurang baik bagi kesehatan. Jika seseorang tidak pandai berbicara, lalu memutuskan untuk diam saja dalam mengurus sebuah problem kehidupan, pikirannya akan runyam. Untuk itu diperlukan media lain selain mengeluarkan dengan kata-kata, salah satunya melalui tulisan.
Salah satu penulis yang berasal dari Amerika Serikat, Natalie Goldbreg mengungkapkan bahwa menulis adalah komunikasi dengan diri sendiri, diolah dengan rasa dan dikendalikan oleh pikiran, ini adalah terapi jitu untuk membebaskan jiwa dari kungkungan kegelapan dan tekanan trauma. Sehingga menulis dapat digunakan seseorang untuk mengoreksi diri sendiri melalui komunikasi pribadi. Sebuah tekanan akibat dari trauma akan perlahan menghilang dengan sendirinya, karena luka-luka itu telah berhasil diungkapkan dengan bahasa tulisan.
Ada pula yang mengungkapkan pendapatnya mengenai tulisan, menulis adalah cara dia untuk berkompromi dengan dirinya. Mengejar keingintahuannya, apa yang sedang terjadi dengan dirinya, dan apa yang harus dilakukannya, semua akan terekam dalam tulisannya. Seperti kata Joan Didion, seorang Novelis dan esais asal Amerika Serikat, “Saya menulis sepenuhnya untuk mencari tahu apa yang sedang saya pikirkan, apa yang sedang saya lihat dan apa itu artinya. Juga berpikir apa yang saya inginkan dan saya rasakan, apakah yang saya takuti?”.
Menulis itu bagaikan cermin, seseorang menulis di sebuah kertas tentang dirinya, seolah ia sedang melihat dirinya yang sedang mengarungi kerasnya kehidupan. Sehingga layaknya menulis mengungkapkan sebuah perasaan yang akan mengarahkan pada pemikiran positif. Sepahit apapun kata yang ingin ia goreskan, lalu ia dapat memberikan solusi apa yang ingin ia lakukan. Gunakan kata-kata positif agar cermin itu memantulkan sesuatu yang positif pula, tentunya dengan free writing, yaitu menulis bebas mengungkapkan hal apa saja yang mengarahkannya kepada hal positif.
Menulis adalah suatu kata kerja yang memiliki banyak makna. Apa lagi bagi seorang penulis, ia dapat membawa kepentingan dirinya untuk dapat antusiasme memberikan tulisan-tulisannya kepada orang-orang sekitar, atau kepada dirinya sendiri. Seperti yang telah saya catatkan di atas, ada banyak makna, menurut anda makna menulis adalah?
Buku Diari Sebuah Kisah yang Sedang Terekam
Kisah, suatu cerita yang terjadi di dalam kehidupan. Apa yang terjadi gerangan, jika sebuah kisah disimpan baik dalam sebuah buku? Ia merekam jejak-jejak langkahmu yang sedang kau bangun masa depan yang indah. Seperti kata Joan Didion, jadikanlah buku diarimu untuk mengetahui apa yang sedang terjadi dengan dirimu, lalu carilah solusi sesuai dengan keinginanmu, maka semangat untuk kembali mengarungi kehidupan yang pahit ini akan kembali.
Seperti itulah kiranya yang akan kulakukan. Dari definisi menulis yang paling terbaik menurutku adalah menjadikan tulisan itu motivasi. Ada banyak penulis memiliki definisi sesuai dengan apa yang ia inginkan, tapi jika itu tulisan di dalam buku diari, hendaknya tentang sesuatu yang dapat membarakan kelukaan menjadi kekuatan untuk menghadapi pedih yang telah terjadi. Karena buku diari adalah privasi.
Privasi yang akan kau simpan mungkin sampai engkau dikebumikan. Jadikanlah bukumu itu seolah ia manusia duplikat dirimu yang sedang bernafas, ialah makhluk Tuhan yang dapat berinteraksi dengan makhluk lain, seolah ia sedang berbicara kepadamu, memberikan cermin ada dirimu di sana, ada kisah-kisahmu di sana, ada pula jawaban-jawaban yang sesuai dengan hatimu. Itu jika kau anggap buku diari sebagai teman akrabmu.
Buku itu mengerti tentang banyak hal yang telah kau alami. Baik saat suka maupun duka, baik saat kau tersenyum sendiri atau sedang menangis meronta-ronta. Hingga alangkah indah, jika kau bisa menulis di buku diari setiap hari. Hari-hari kau lalui dengan kenangan yang masih tersimpan rapih.
Mari Serentak Sehatkan Jiwa Dengan Buku Diari Anda
Wah, baru-baru ini aku membaca sebuah tulisan di dalam blog seseorang. Ia lumayan terkenal. Tulisan itu tentang kegiatan menulis dapat mengurangi kerutan di wajah. Kegiatan menulis yang pada akhirnya ia merasa bahagia karena keluhannya telah berhasil keluar, perasaan pun menjadi lega, pikiran menjadi fresh kembali, kerutan di wajah pun dapat berkurang. Untuk itu menulislah tanpa paksaan.
Seperti karya Bu Naning Pranoto, Writing for Therapy, sebuah buku yang gamblang menjelaskan bahwa menulis dapat menyehatkan jiwa. Dengan segala cara, menulis dapat dijadikan obat untuk menyembuhkan luka yang telah menganga. Untuk itu mari kita menulis di dalam buku diari untuk menyembuhkan luka-luka kita, berinteraksi dengan diri, menjadi pribadi yang sehat dengan menulis.
Demikian artikel saya tulis, semoga kita menjadi penulis yang dapat berdikari dengan diri sendiri, dan dapat menulis untuk menebarkan kebaikan.(Nur Chafsah)