Belakangan beberapa figur remaja di media sosial terkuak kebohongannya. Misalnya, AFI (18 tahun) yang menjadi viral di facebook karena “Warisan”-nya, beberapa terbukti berbohong. Pertama, ketika ia mengelak telah melakukan plagiat terhadap tulisan dari akun Mita Handayani, meski akhirnya ia mengakui dan meminta maaf atas tindakan plagiasi tersebut. Kedua, adalah ketika Afi membuat sebuah video tentang “bullying”, yang teksnya sama persis dengan video milik Catherine Olek, dan Afi mengaku bahwa keduanya sudah lama berkomunikasi dengan baik. Sementera beberapa hari kemudian, Cahterine Olek membantah bahwa dirinya tidak mengenal Afi dan tidak pernah berkomunikasi dengan Afi, jadi Afi murni menyontoh videonya yang lebih dulu diunggah.

Contoh kedua, mungkin tidak seviral Afi, mantan mahasiswi UNDIP, Dina Ike Lestari yang sempat menjadi perbincangan karena menolak ditempatkan di tempat KKN pilihan dosennya. Dalam postingan di Instragram-nya, ia beberapa kali menulis bahwa seorang mahasiswa AKPOL Semarang adalah kekasihnya. Namun, di akun lelaki tersebut justru menggugah foto wanita lain sebagai kekasihnya. Semua komentar negatif di akun Dina tersebut dihapus oleh Dina. Sehingga komentar-komentar banyak beralih ke akun yang diakuinya sebagai kekasih itu. Dina melakukan kebohongan dengan mengakui orang lain sebagai kekasihnya, dan mengarang cerita bohong tentang hubungan mereka. Laki-laki yang diakuinya sebagai kekasih itu memang sosok yang cukup terkenal di dunia Instagram.

Dua contoh perilaku remaja dengan kemungkinan mengalami mental illness tersebut bernama mhytomaniac. Untuk memvonis seseorang sebagai mhytomaniac, sebenarnya perlu analisis lebih dalam. Mythomaniac atau dikenal juga dengan istilah pembohong patologis, pertama kali diperkenalkan pada tahun 1905 oleh seorang psikiater bernama Ferdinand Dupré.

Mythomaniac adalah kebohongan yang dilakukan seseorang bukan dengan tujuan menipu orang lain. Penderita gangguan mythomaniac akan membuat dirinya sendiri percaya bahwa kebohongan yang dia buat adalah nyata. Yang membedakan Mythomaniac dengan kebohongan biasa adalah penderita Mythomaniac sering tidak sadar bahwa dia sebenarnya sedang berbohong dan menceritakan khayalan yang ada dalam kepalanya.

Kebohongan-kebohongan yang dilakukan olehnya cenderung di luar kesadaran, yang artinya adalah dia tidak tahu/tidak sadar bahwa orang lain akan merasa terganggu dengan kebohongannya, karena yang terpenting baginya adalah dirinya mendapat pengakuan oleh sekelilingnya, pengakuan terhadap ‘kenyataan’ yang ingin ia wujudkan demi melarikan dirinya dari kenyataan sebenarnya yang tidak mau ia terima, dengan tanpa rasa menderita ataupun perasaan bersalah. Karena yang terpenting baginya adalah dirinya mendapat pengakuan oleh sekelilingnya, pengakuan terhadap ‘kenyataan’ yang ingin ia wujudkan demi melarikan dirinya dari kenyataan sebenarnya yang tidak mau ia terima. Sebenarnya kebohongan adalah bentuk pertahanan diri, namun kebohongan berulang dengan maksud mendapat pengakuan sudah masuk ke dalam ranah mental illness.

Secara sederhana berikut adalah ciri-ciri mhytomaniac adalah sebagai berikut:

  1. Suka membesar-besarkan sesuatu.
  2. Selalu menimpali bahwa dirinya lebih baik dari apapun yang kita ceritakan.
  3. Menciptakan realitas sendiri untuk dirinya.
  4. Karena mereka tidak menghargai kejujuran, mereka juga tidak menghargai kepercayaan.
  5. Bisa menjadi seorang hypochondriac, yaitu orang yang selalu merasa sakit (dibuat-buat) karena ingin diperhatikan.
  6. Sering kontradiktif dengan pernyataan sebelumnya.
  7. Bisa berbohong hanya untuk suatu hal sepele.
  8. Selalu membesar-besarkan setiap kalimat.
  9. Bisa merubah-rubah cerita setiap saat.
  10. Sangat defensif ketika dipertanyakan pernyataanya.
  11. Sangat percaya apa yang dikatakannya benar padahal jelas tidak benar buat orang lain.
  12. Berbohong ketika sebenarnya sangat mudah untuk menceritakan kebenaran.
  13. Berbohong untuk mendapat simpati dan terlihat baik.
  14. Selalu mendapat nilai baik pada pandangan pertama tapi selanjutnya tidak dapat dipercaya.
  15. Memiliki gangguan kepribadian.
  16. Jago memanipulasi.
  17. Ketahuan bohong berkali-kali.
  18. Tidak pernah mengakui kebohongan.
  19. Menganggap dirinya legenda.

Suka pengakuan sosial dan kompetensi merupakan salah satu ciri remaja sebagaimana digambarkan oleh Robert Epstein dan Carol Dweck, psikolog dari Stanford University.

Kategori remaja hari ini adalah generasi milenial yang merupakan Digital Native. Maka, media sosial menjadi ladang perilaku mhytomaniac pada remaja. Mhytomaniac bisa disembuhkan dengan menjalani serangkaian terapi psikologis dan tentu saja dukungan keluarga dan orang-orang terdekat.

Salah satu penyebab mythomaniac adalah kegagalan-kegagalan dalam kehidupannya, kemungkinan berupa kegagalan dalam hal studi, masa kecil, masalah keluarga, kisah-kisah sentimentil, bahkan kegagalan dalam hal pekerjaan. Namun jangan keliru, pada saat ia mendapati orang lain mulai meragukan apa yang ia percaya, ia menjadi sadar setelahnya. Singkatnya, ia ingin melarikan diri dari semua image tentang dirinya sendiri. Jadi, semakin orang lain mempercayai kebohongannya, semakin ia terbantu untuk lepas dari citra nyata tentang dirinya yang sulit ia terima itu.

Untuk mencegah mythomaniac, maka sebagai orang tua, kakak, atau orang yang berada di lingkungan sosok remaja, kita, semestinya menemani mereka tumbuh. Membasuh luka-luka mereka terhadap kegagalan, trauma masa lalu, menjadi telinga, menjadi pundak yang kesedihan-kesedihan mereka adalah cara yang paling sederhana untuk menyelamatkan sebuah jiwa dari perilaku mythomaniac, atau mental illness lainnya. Segera sadari bahwa remaja tidak cukup hanya mengandalkan lingkungan komunikasi di dunia maya, dan kehadiran kita, sebagai orang-orang di dunia nyata lebih diperlukan. (ey)