“Make thyself a craftsman in speech, for thereby thou shalt gain the upper hand” – Pepatah Mesir Kuno

Berbicara tentang anak, para orang tua sering merasa jauh lebih bangga jika anak-anak mereka mendapat prestasi akademik yang gemilang di sekolah. Namun, alangkah tidak bijak jika orang tua merasa terlalu bangga akan hal tersebut lalu mengabaikan aspek-aspek lainnya yang tak kalah penting. Faktanya, kesuksesan anak tidak hanya ditentukan dari prestasi akademik yang mereka raih selama di sekolah.

Menurut buku Emotional Intelligence karya Daniel Goleman, kesuksesan seorang anak ditentukan oleh 20% kecerdasan IQ dan 80% kecerdasan emosional (EQ). Khusus di Indonesia, survei Departemen Pendidikan Nasional mengungkapkan kunci kesuksesan adalah 80% pola pikir (emotional) dan 20% keahlian teknis (hardskill). Dari hasil kedua penelitian tersebut bisa kita simpulkan, kecerdasan mana yang lebih utama harus dipupuk sejak dini.

Kecerdasan emosional terdiri atas beberapa substansi yang kompleks salah satunya adalah soft skill, motivasi, perilaku, karakter, sikap dan kemampuan berkomunikasi. Kali ini kita akan mengambil fokus mengenai public speaking atau kemampuan berbicara di depan umum. Pelajari seni bicara maka kamu akan menguasai keadaan, begitu kurang lebih makna pepatah di bagian pembuka artikel ini.

Perlu kita ketahui, public speaking merupakan keterampilan yang nantinya akan menjadi kebutuhan siapapun dan apapun jabatan atau profesi seseorang. Kemampuan ini sangatlah penting karena terkait erat dengan kemampuan memikat perhatian dan membina hubungan lewat kata-kata. Kemampuan ini tentu saja tidak dapat muncul semata-mata setelah membaca buku ataupun diajarkan, melainkan harus dibiasakan secara terus menerus sejak dini. Walaupun bukan satu-satunya faktor penentu, pembiasaan di dalam keluarga berperan penting dalam menentukan kesuksesan anak di masa depan.

Lalu, apa peran yang bisa kita lakukan sebagai orang tua untuk mendukung kemampuan public speaking anak? Yap ini dia. Jika anak masih balita, coba biasakan dia memperkenalkan dirinya. Selain memperkenalkan nama, latih mereka untuk menceritakan aktivitas dan kegiatannya. Tanamkan keberanian anak dalam berekspresi serta mengaktualisasikan diri kepada orang yang baru dikenalnya.

Ketika sudah beranjak remaja, ajarkan anak untuk meningkatkan kepercayaan diri dan mengatasi rasa takutnya dengan terus membiasakan berbicara. Kepercayaan diri adalah modal penting bagi anak untuk tampil di depan umum. Dengan rasa percaya diri yang cukup, anak akan mampu mengeluarkan ide dan pendapatnya dengan baik di depan khalayak. Keberanian tampil akan menunjang pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki anak.

Satu hal lain yang perlu dukungan orang tua adalah keinginan anak untuk berkumpul dan beraktifitas bersama teman-temannya. Bentuknya keinginan itu bisa macam-macam, mulai dari memilih kegiatan ekstrakurikuler, organisasi sekolah, ataupun kegiatan kampus.

Pepatah lain mengatakan, “Bukan siapa yang Anda kenal, tapi siapa yang mengenal Andalah yang membuat kehidupan Anda berubah.” Sebagai orang tua, tugas kita adalah mendidik anak kita agar kemampuan mereka dikenali oleh lingkungannya. Nantinya, orang-orang yang mengenal anak kitalah yang akan menjadi partner mereka dalam menggapai kesuksesan. (aad)