Sebagian besar dari kita masih belum paham tentang asal-usul makanan yang biasa dikonsumsi sehari-hari. Padahal saat ini banyak jenis makanan yang berasal dari Produk Rekayasa Genetik. Apa itu? 

Bahan makanan yang dikonsumsi langsung maupun yang telah melalui proses pengolahan saat ini banyak dihasilkan dari proses rekayasa genetik, baik dalam proses pengolahannya maupun bahan dasar/bahan bakunya merupakan Produk Rekayasa Genetik, atau biasa disebut PRG.

Sebutlah makanan sehari-hari yang kita konsumsi,  tahu, tempe, maizena, ayam pedaging, atau susu. Hampir semua bahan bakunya berasal dari PRG. Untuk asupan sumber makanan hewani, pakan yang diberikan pada hewan-hewan tersebut berasal dari PRG. Belum lagi jika kita mendaftar berbagai produk turunannya, misalnya dari sapi yang mendapat pakan PRG dihasilkan susu, keju, yogurt, dan seterusnya.

Proses rekayasa genetik sendiri merupakan proses atau usaha yang dilakukan guna memanipulasi sifat genetik dari suatu golongan makhluk hidup guna menghasilkan suatu jenis makhluk hidup baru yang memiliki sifat berbeda sesuai dengan tujuan rekayasa itu sendiri. Obyek dari rekayasa genetik meliputi hampir seluruh golongan organisme, mulai dari bakteri, fungi, hewan tingkat tinggi dan rendah, hingga pada tumbuh-tumbuhan.

Proses rekayasa genetik antara lain dilakukan karena munculnya gap antara produksi dan supply makanan atau pangan dengan kebutuhan dan demand terhadap makanan. Jumlah lahan pertanian yang semakin menyempit, berkembangnya hama tanaman, musim yang kian tidak terduga di satu sisi dan tingginya jumlah perkembangan penduduk yang membutuhkan pangan di sisi lain menuntut adanya upaya rekayasa teknologi di bidang pangan.

rekayasa-genetik

Bagaimana memastikan bahwa pangan PRG yang akan kita konsumsi cukup aman? Sama halnya dengan pangan lainnya, pangan PRG harus melalui tahapan pengkajian dan penilaian keamanan pangan (pre-market food safety assessment) oleh pihak yang berwenang.  Dalam hal ini ada Badan POM yang berwenang melakukan pengkajian dan penilaian terhadap keanaman pangan PRG tersebut.

Jika pangan produk rekayasa genetik sudah dinyatakan aman oleh Badan POM, maka untuk dikonsumsi dan dijual dalam kemasan harus dilakukan pelabelan pangan sesuai dengan ketentuan mengenai label dan iklan pangan.

Pelabelan pangan PRG dilakukan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan,  pelabelan pangan produk rekayasa genetik dilaksanakan dengan ketentuan sebagai berikut:

  1. Jika keseluruhan bahan pangan yang terkandung dalam pangan merupakan bahan pangan produk rekayasa genetik maka pada bagian utama label wajib dicantumkan “Pangan Produk Rekayasa Genetik”.
  2. Dalam hal hanya salah satu dari bahan pangan yang merupakan bahan pangan produk rekayasa genetik, maka keterangan tentang pangan produk rekayasa genetik dicantumkan dalam daftar bahan yang digunakan (komposisi).

Sayangnya, pangan yang telah mengalami proses pemurnian lebih lanjut (highly refined process) sehingga tidak teridentifikasi mengandung protein produk rekayasa genetik seperti minyak, lemak, gula dan pati, tidak wajib diberi keterangan tentang pangan rekayasa genetik. Jadi kita agak sulit mengidentifikasi kandungan PRG yang sudah dilakukan pemurnian lebih lanjut.

Sebagai konsumen, masyarakat harus jeli dengan memerhatikan label makanan yang akan dikonsumsi jika memang hendak mengurangi konsumsi pangan PRG atau bahkan memiliki pantangan atau semacam alergi dan alasan kesehatan tertentu. Membaca label makanan merupakan cara termudah mengidentifikasi jenis pangan yang akan dikonsumsi.

Pada tahapan selanjutnya yang menjadi penting adalah bagaimana proses pengawasan dilakukan terhadap pangan PRG yang beredar. Untuk jenis pangan pokok, kewenangan pengawasan menjadi tanggung jawab pemerintah dalam hal ini kementerian dan lembaga pemerintah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pangan, yakni Kementerian Pertanian.

Adapun pengawasan terhadap persyaratan keamanan pangan, mutu pangan, dan gizi pangan serta persyaratan label dan iklan pangan yang di dalamnya termasuk pangan produk rekayasa genetik dibedakan untuk pangan olahan, dilaksanakan oleh lembaga pemerintah yang melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengawasan obat dan makanan, yakni BPOM. Sedangkan untuk pangan segar, dilaksanakan oleh lembaga pemerintah yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang pangan.(oz)