Pada dasarnya otak kita dapat menyimpan memori dalam jangka waktu yang lama. Para ilmuwan telah meneliti bahwa otak memiliki kapasitas yang mengesankan dalam menyimpan kenangan. Namun, kenangan yang bersifat biasa saja akan hilang seiring bertambahnya usia. Hal ini berbeda jika kejadian masa lalu itu begitu berkesan sehingga dapat dengan jelas kita ingat kapan terjadinya, mengapa dan bagaimana kronologisnya. Semua terjadi karena otak akan menyimpan kejadian yang spesial tersebut lebih rapi dari yang lain.

Hal ini pulalah yang berlaku ketika satu pagi di hari minggu warga kampung kami dikejutkan oleh berita tentang seorang anak yang memilih gantung diri. Pagi yang seharusnya berlalu biasa-biasa saja sontak gempar dengan berita mengejutkan itu. Berduyun-duyun orang datang untuk melihat kebenarannya. Syukurlah sebelum warga mendesak masuk, aparat sudah lebih dulu sampai di Tempat Kejadian Perkara (TKP) sehingga korban tidak menjadi tontonan orang banyak.

Aku mengenalnya karena dia kawan SD dan SMP ku. Lelaki yang baru beranjak remaja itu memiliki paket komplit untuk menyandang predikat ganteng. Namun, sayangnya dia agak sedikit gemulai sebagai lelaki. Tingkah lakunya itu pulalah yang membuat sebagian orang memanggilnya ‘bencong’ (banci-red). Jauh di dalam lubuk hati, sebenarnya dia malu menyandang panggilan itu. Nalurinya sebagai lelaki menginginkan hubungan selayaknya lelaki. Dia ingin pacaran, dia ingin dipanggil dengan sebutan namanya saja tanpa ada embel-embel ‘bencong’ dibelakangnya. Namun sial, teman-teman sudah sepakat memanggilnya begitu bahkan ketika dia masih kecil.

Hidup sebagai anak bungsu dengan ekonomi keluarga ditaraf menengah ke atas tak menyulitkannya dalam hubungan pertemanan. Karena teman-temannya senang bermain dengannya, selalu berkantong tebal. Lingkungan yang tidak sehat, perlahan tapi pasti, menjerumuskannya ke dalam pergaulan yang tidak sehat. Hasutan kawan yang mengatakan jika ingin jadi lelaki harus berani merokok, ia lalui. Kalau belum mabok ganja belum keren, ia jalani. Dari yang terbatuk-batuk parah hanya dengan satu hisapan, akhirnya ketagihan dan tahan sampai dua lintingan.

Kurangnya perhatian dari orang tua dan keluarga, menyebabkan dia mencari jati diri di antara momok penyakit masyarakat yang menggurita. Menanyakan arti persahabatan di antara kawan-kawan yang juga kebingungan tentang jati diri mereka sendiri, menbuatnya bagai layang-layang putus, ikut kemana arah angin membawa.

Aku masih sangat ingat ketika satu sore kami duduk di bawah pohon mangga tetangga. Dia bercerita tentang kehidupannya sekarang. Bagaimana ia berusaha keras diterima oleh kawan-kawan sekolah SMU-nya. Pagi sebelum masuk sekolah mereka ramai-ramai sakaw dulu dan dialah donaturnya. Aku hanya bisa mendengarkan tanpa tahu apa yang harus aku lakukan.

Sampai satu ketika tubuhnya tak lagi sanggup menerima obat-obatan terlarang itu dan dia mengalami overdosis. Keluarga merasa malu dan merahasiakan kejadian itu. Sepulang dari Rumah Sakit, dia tidak dibawa pulang ke rumah tapi direhabilitasi di Pusat Rehabilitasi Narkoba. Keadaan itu pasti sungguh tak menyamankannya. Dia menjerit, meronta dan berteriak-teriak. Orang-orang tidak paham atau mungkin tidak peduli melabelinya dengan sebutan baru, gila. Keluarganya menjadi malu dan sepakat mengurungnya di dalam rumah.

Sejak itu hari-harinya hanya diisi dengan kesunyian. Aku sering mengintip dari celah jendela, namun sulit karena semua pintu dan jendela tertutup rapat. Samar-samar aku lihat dia berjalan mondar-mandir di ruang tengah dan merokok. Rasanya ingin sekali menemaninya ngobrol, tapi itu mustahil. Sampai pada titik jatuhnya semangat dan harapan, dia pun memilih untuk mengakhiri hidup dengan cara gantung diri. Aku menangis entah karena apa, tapi rasanya sedih sekali.

Kini 17 tahun telah berlalu namun ingatan akan dirinya, kehidupannya dan penyesalanku karena tidak bisa membantunya masih terasa. Harusnya aku bisa menasehatinya, harusnya aku menceritakan keadaannya kepada orang tuanya agar keadaan tidak semakin parah. Atau setidaknya bicara dengan orang tuaku agar mereka bisa menyampaikan kepada orang tuanya.

Tapi siapalah aku yang ketika itu juga masih seumurannya, 16 tahun. Kejadian itu ketika aku juga masih remaja. Dan remaja ketika itu tidak seperti sekarang yang lebih berani mengungkapkan perasaannya. Gawai ready di tangan. Teknologi di ujung jari. Remajaku di tahun 2000 adalah remaja jadul yang bahkan tidak tahu apa itu HP apalagi konseling parenting.

Kini setiap kali aku pulang ke kampung halaman, ingatan tentangnya masih sering berkelebat. Pohon mangga itu masih tegak disitu, di rumah tetangga yang berhadapan dengan rumahku. Rumahnya masih tetap disitu, berjarak tujuh rumah dari rumahku. Sepi karena kakak-kakaknya sudah pindah ke rumah mereka masing-masing. Tinggal ibunya sendiri yang dari dulu memang jarang ada di rumah.

Penyesalanku karena tidak bisa menolongnya waktu itu, perlahan aku obati dengan memaafkan diri sendiri. Mencoba peka dan peduli baik pada orang lain, terlebih pada keluarga sendiri. Tidak buru-buru men-judge orang hanya karena dia sedikit gemulai atau terlihat sangar. Menghargai setiap pendapat tanpa harus bertengkar. Dan yang paling penting mendidik anak-anak agar memiliki rasa percaya diri dan empati pada orang lain.

Tidak ada yang lebih mengerti kita dari pada orang tua dan keluarga. Sejauh apapun kita melangkah, rumah adalah tempat untuk kembali. Jangan pernah diabaikan. (wa)