Dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional Mahasiswa dan Mahasiswi dari DEMA UIN Syarif Hidayatullah mengadakan kegiatan yang bertajuk “Membudayakan Kesetaraan Melalui Narasi Feminisme Nusantara”.

Acara tersebut menjadi salah satu dari rangkaian acara Suara Pojok Kampus di UIN Syarif Hidayatullah yang bekerja sama dengan Liberty Studies dan Forum MBB. Suara Pojok Kampus hadir berawal dari keresahan anak-anak muda atas kekerasan dan diskriminasi berdasarkan gender, suku, dan agama. Mengkampanyekan isu-isu untuk melawan diskriminasi berdasarkan gender, suku dan agama. Kegiatan diskusi ini juga dimoderatori oleh Puput, salah satu mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah.  Puput menyampaikan Data dari komnas perempuan yang di 321 ribu kasus ranah personal kekerasaan dalam KDRT, Relasi dalam Keluarga, dan diranah Komunitas/Organisasi. Kasus yang tidak dilaporkan juga pasti masih banyak lagi.

Selama ini, gagasan feminisme merupakan ide-ide yang dikenal orang-orang sebagai produk barat sehingga banyak penolakan atas gagasan feminisme karena dianggap produk budaya asing dan tidak sesuai dengan budaya nusantara.

Diskusi ini diadakan untuk mewujudkan kebebasan berpikir dan  mengkaji lebih dalam mengenai kesetaraan gender agar kualitas Sumber Daya Manusia serta anak-anak Indonesia menjadi lebih baik. Narasumber kegiatan ini diantaranya Dhea Safira dari Indonesia Feminis, Nisa Yuura dari Aktifis Solidaritas Perempuan, Ibu Rahmi Purnomowati dari Pusat Studi Gender dan Anak UIN Syarif Hidayatullah serta Ibu Lena Mariana Mukti, Mantan Anggota DPR RI.

Selain dari Narasumber yang disebutkan di atas, Bapak Wakil Rektor III UIN Syarif Hidayatullah juga memberikan arahan dalam diskusi ini. Kajian ini merupakan kajian dalam isu yang sangat sensitif sehingga teman-teman mahasiswa harus kritis dalam berpikir mengenai isu feminisme dan kesetaraan gender ini. Pesan Bapak Wakil Rektor III tersebut diantaranya :

  1. Melihat kesesuaian paham tersebut dengan ajaran islam
  2. Mengkritisi nilai-nilai setiap isu-isu yang tidak sejalan dengan agama islam

Puput memulai diskusi dengan menjelaskan tentang data-data mengenai kekerasan terhadap perempuan. Dilanjutkan dengan sesi pertama Ibu Rahmi Purnomowati. Ibu Rahmi menjelaskan mengenai Apa itu Gender, Pengarusutamaan Gender itu seperti Apa?Kesetaraan Gender itu bagaimana.  Ibu Rahmi menjelaskan bahwa Kajian Kesetaraan Gender sudah banyak di UIN Syarif Hidayatullah dan di PSGA ada kelas Gender. Ibu Rahmi mengajak mahasiswa untuk datang ke PSGA untuk mengikuti kelas mengenai Gender.

Kelas Gender ini memiliki kurikulum yakni mahasiswa harus mengikuti 14 Sesi kelas dan akan mendapatkan sertifikat mengenai pemahaman tentang Gender. PSGA sudah banyak melakukan Namun masih perlu banyak disosialisasikan. PSGA UIN juga pernah mengadakan Lomba Karya Tulis ilmiah tentang Gender dan Pengarusutamaan Gender bukan hanya untuk mahasiswa UIN tapi juga untuk umum.  Ibu Rahmi juga menyampaikan akan mengadakan FGD khusus organisasi Kemahasiswaan UIN dan Pengarusutamaan Gender di Organisasi Mahasiswa UIN. Ibu Rahmi juga menjelaskan tentang bentuk-bentuk kekerasan terhadap laki-laki dan perempuan, fakta-fakta tentang ketidakadilan gender serta mengharapkan mahasiswa memiliki pola pikir yang perspektif tentang gender.

Sesi Kedua, Dhea Safira dari Media Indonesia Feminis menyampaikan materinya tentang Feminisme Nusantara. Feminisme bukan hal yang baru, bukan gerakan yang baru dan feminisme sendiri tujuannya sebagai gerakan untuk kesetaraan.  Dhea menyampaikan bahwa paham feminis sudah ada sejak Indonesia jaman dahulu, contohnya adalah Kartini sebagai tokoh emansipasi wanita.  Selanjutnya, Nisa Yuura dari Solidaritas Perempuan menjelaskan tentang akar-akar kekerasan dan solusinya. Apakah budaya adil gender bisa menjadi solusi?

Nisa menyampaikan tentang isu penggusuran lahan dan buruh migran perempuan serta pengalamannya menjadi aktivis perempuan. Kekerasan sebenarnya terjadi terhadap perempuan dan laki-laki, namun kekerasan terhadap perempuan lebih banyak terjadi. Berdasarkan pengalaman Solidaritas Perempuan, kekerasan terhadap perempuan bentuknya berlapis, perempuan tidak memiliki akses terhadap informasi, tidak mengetahui mengenai hak-hak dalam dirinya dan tidak punya kuasa untuk memutuskan sesuatu. Banyak faktor yang dapat mempengaruhi kekerasan terhadap perempuan. Nisa mengharapkan mahasiswa memiliki peran dalam mengurangi kekerasan terhadap perempuan dan mengambil pengalaman-pengalaman perempuan untuk dijadikan pembelajaran dan ilmu pengetahuan mengenai kesetaraan dan feminisme di Indonesia.

Di penghujung diskusi, Ibu Lena Mariana Mukti menjelaskan materinya tentang pengarusutamaan gender di ranah politik dan tentang kebijakan publik yang diskriminatif. Beliau merupakan mantan Anggota DPR RI 2004-2009 dan pernah menjadi ketua Senat UIN Syarif Hidatullah tahun 80an.  Pengarusutamaan Gender ini bukan hanya untuk perempuan tetapi laki-laki juga harus tahu. Ibu Lena menyampaikan penghapusan diskriminasi terhadap perempuan dimulai dari keluarga dan tentang kebijakan affirmasi perempuan dalam politik dan pemilu.

Setelah semua narasumber memberikan materinya, para peserta seminar yang datang dari berbagai kampus menanggapi dengan berbagai pertanyaan dan dilanjutkan dengan diskusi hingga waktu makan siang. Kegiatan ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan kepada mahasiswa dan mahasiswi mengenai kesetaraan gender lebih dalam dan juga tentang feminisme.(RH)