Segerombolan burung yang terbang melintasi langit Indonesia tiba-tiba bertasbih memuji Tuhan. Maha Besar Engkau ya Allah telah menciptakan negeri se indah dan sekaya ini. Maha Kuasa Engkau ya Allah memindahkan surgamu ke negeri ini.

Bangga menjadi orang Indonesia, itu sudah pasti dan tidak perlu diragukan lagi. Bangga menjadi orang Indonesia, karena pendiri bangsa ini menyiapkan konsep kenegaraan yang jelas, menitipkan filosofi hidup yang agung, menyiapkan navigasi penunjuk arah perjalanan bangsa ke depan, dan mewariskan ideologi negara yang luar biasa dahsyatnya. Rasa cinta tanah air tidak pernah akan bergeser sejengkal pun walaupun sering rupiah semakin tidak mencintai rakyat kecil.

Ruslan Ismail Mage penulis buku Ayat-ayat Api, melukiskan kegalauannya melihat nasib Burung Garuda jelang peringgatan hari lahirnya Pancasila, 1 Juni 2017 lalu. Katanya, kalau sejarah perjalanan bangsa Indonesia mampu melewati beberapa badai, itu karena kekuatan “Pancasila” dengan lima silanya dan 36 butirnya. Lalu, pasca reformasi Garuda yang gagah perkasa itu mengepakkan sayapnya terbang meninggalkan tanah negerinya.

Ia terbang jauh karena dihempaskan oleh badai reformasi yang menuntut perubahan tanpa konsep. Ia memilih pergi membawa kesedihannya melihat negerinya tercabik-cabik persatuan dan kebhinnekaannya atas nama demokrasi yang tak berketuhanan. Ia meneteskan air mata melihat kekayaan alam tanah negerinya dirampok terus oleh kapitalisme global. Ia sedih melihat pemimpin dan politisi rela menggadaikan negerinya pada pemilik modal demi kepentingan kekuasaannya. Ia marah tanah negerinya yang subur ini membudidayakan tikus-tikus politik yang digembalakan gerombolan manusia-manusia serigala.

Kalau saja Garuda bisa berteriak, ia pasti sudah kehabisan suara mengingatkan, “wahai anak-anak bangsa yang hidup di negeri surga, kalian telah melakukan kesalahan fatal membiarkan lima silaku dan 36 bitir-butirku setiap hari disapu sampai masuk ke got oleh penjaga sekolah”. Suatu saat tanah negeri yang engkau cintai sebatas mulut saja ini akan hilang dari peta dunia, sebagaimana engkau hanya diam membiarkanku hilang menjadi bangkai ideologi.

Situasi rapuhnya berbangsa dan bernegara harus disikapi semua elemen bangsa dengan mengambil berbagai tindakan penyelamatan. Ada baiknya jika dimulai dengan gerakan nurani membumikan kembali pancasila sejak dini di kalangan siswa-siswi. Salah satu metode yang bisa dilakukan sekarang adalah bagaimana memanfaatkan media sosial sebagai sarana efektif membumikan lima sila dan 36 butir-butir pancasila di kalangan generasi muda pemilik masa depan. Disebut sebagai sarana efektif, karena bisa dipastikan remaja dari pusat sampai sudut-sudut kampung mengunakan media sosial.

Media sosial adalah sarana ampuh karena untuk mempengaruhi orang lain, kita harus memasuki dunianya dan memahami jiwanya. Sebagai generasi digital, sudah pasti remaja sekarang bersentuhan dengan media sosial. Karena itu, mengharapkan remaja sekarang memahami dan mengamalkan nilai-nilai pancasila melalui himbauan dan seminar tidak lagi efektif. Dibutuhkan strategi kreatif dan inovatif untuk mempengaruhi pemikiran dan jiwa remaja, salah satunya melalui media sosial.

Gerakan membumikan nilai-nilai pancasila lewat media sosial ini menjadi penting dan menarik. Dikatakan penting, karena kalau gerakan membumikan Pancasila ini terlambat dilakukan di kalangan siswa dan membiarkan liberalisme merasuki jiwa mereka, bangunan besar yang bernama Indonesia ini sedikit demi sedikit akan runtuh jatuh rata dengan tanah. Sulit membayangkannya jika hal itu menjadi kenyataan.

Dikatakan menarik, karena mensosialisasikan nilai-nilai Pancasila lewat media sosial membutuhkan kreativitas dalam mengemas nilai-nilai pentingnya merawat kebhinnekaan, memupuk perasaan indahnya bersatu dalam perbedaan secara inspiratif. Kalau kita konsisten menggunakan media sosial sebagai sarana perekat begitu perbedaaan, ke depannya bangsa Indonesia akan menjadi bangsa sukses melahirkan generasi emas. Generasi yang akan membuat sejarah bertepuk tangan atas keberhasilan mereka merawat dan memupuk kebhinnekaan, yang tidak pernah jenuh bergandengan tangan menikmati irama alam khatulistiwa yang melagukan simponi kedamaian. (sm)

Sumber Bacaan:

Ruslan Ismail Mage dalam bukunya yang berjudul “Ayat-Ayat Api”