… Suasana di aula pertemuan lain dari hari-hari sebelumnya, udara terasa dingin dan aneh, bulu kuduk merinding dan kepala saya terasa membesar. Kami, beberapa panitia perempuan yang masih bertahan, “diusir” pulang agar tidak ikut-ikutan kerasukan…

“Jangan main di situ nak!, nanti ditangkap setan”, mungkin banyak di antara pembaca yang mempunyai pengalaman sama dengan saya. Pada malam hari ketika kita bermain terlalu nakal atau ke tempat yang jauh dari pengawasan orang tua, pasti dibilang akan ditangkap hantu (setan). Hantu menjadi sosok yang menakutkan bagi anak-anak. Sehingga menjadi “senjata ampuh” para orang tua untuk mengatasi kenakalan anaknya. Akibatnya anak-anak takut dengan sosok ini, tidak berani untuk ke kamar mandi sendiri, takut gelap, tidak berani tidur sendiri, bahkan ketakutan ini ada yang terbawa hingga dewasa. Semoga para orang tua tidak lagi “menakuti-nakuti” anaknya dengan sosok hantu.

hantu-1

Hantu atau setan atau tete momok (yang terakhir ini khusus kami di Tanah Papua yang tahu sebutan tersebut). Sebutan bagi makhluk tak kasat mata yang ada di sekitar kita. “Mereka” ada di sekitar kita namun hanya mereka yang dianugerahi indera keenam saja yang mampu melihat kehadiran sosok ini. Tetapi katanya kita yang tidak dibekali dengan kemampuan indera keenam bisa merasakan kehadiran “mereka” dengan tanda-tanda seperti: bulu kuduk merinding dan kepala seakan membesar.

Saya ingat dulu ketika masih kecil, saking takutnya saya sama sosok hantu. Apabila ada saudara atau kerabat yang meninggal dunia, selama beberapa hari pasti saya “mengungsi” ke kamar orang tua. Saya penakut hantu, tetapi sangat gemar menonton film horor (bukan film horor abal-abal Indonesia di zaman sekarang yang lebih cocok disebut film porno dibandingkan film horor). Saya gemar menonton film-film Suzanna, film horor Thailand, Jepang dan Holywood. Menonton film horor seakan menjadi terapi bagi saya untuk menghilangkan rasa takut terhadap hantu.

Saya punya beberapa pengalaman tentang ini, yang pertama di suatu sore menjelang maghrib ketika saya melewati suatu jalan di kota Merauke dengan mengendarai sepeda motor. Saya mendengar ramai suara anak-anak kecil tertawa, ternyata ketika saya perhatikan tidak ada anak-anak yang bermain. Ternyata di situ bekas rumah yang terbakar dan rata dengan tanah.

Ada lagi, pengalaman aneh, ketika subuh seorang sahabat di bangku kuliah menelpon ingin meminta bantuan saya untuk memohon izin atas ketidakhadirannya di kelas. Saya langsung mengangkat teleponnya dan berbicara dengannya, namun kata teman saya dia berbicara dengan bapak saya. Bapak saya yang menjawab telponnya dan mengatakan akan membangunkan saya. Padahal bapak saya telah meninggal dunia beberapa bulan sebelumnya dan pada saat itu saya sedang tidur bertiga dengan ibu dan adik saya.

Entahlah siapa yang menjawab telepon teman saya tersebut, mungkin pada saat itu ada orang iseng yang menyadap nomor hp saya. Lain lagi pengalaman saya ketika menjadi panitia penerimaan mahasiswa baru (kampus asal saya di Merauke). Terjadi kerasukan massal para mahasiswi baru dan panitia putri. Suasana di aula pertemuan lain dari hari-hari sebelumnya, udara terasa dingin dan aneh, bulu kuduk merinding dan kepala saya terasa membesar. Kami beberapa panitia perempuan yang masih bertahan, “diusir” pulang agar tidak ikut-ikutan kerasukan.

Pengalaman sebagai perantauan dan kehilangan orang-orang terkasih yang telah pergi menghadap penciptaNya membuat saya menjadi lebih kuat. Rasa takut terhadap hantu tidak separah di masa kecil. Saya pernah tinggal sendiri di rumah kos dengan sekitar 40-an kamar dan hanya tersisa saya sendiri, karena teman-teman yang lain dan ibu kos mudik lebaran.

Sekarang saya tinggal di rumah kos sepuluh kamar dan hanya tiga orang penghuninya. Tepat di belakang kos saya sekarang ada kuburan keluarga, tumbuh pohon bambu yang sangat subur dan sungai kecil yang mengalir. Awal datang dan tinggal di sini, agak kaget karena tidak terbiasa. Di Merauke jarang ada rumah dekat dengan kuburan kecuali di komplek pemakaman umum. Namun lama-lama terbiasa dan tidak takut lagi. Sekarang walaupun hari sudah malam, saya berani sendiri jalan melewati kuburan demi mendapatkan nasi goreng super lezat dengan harga yang murah meriah.

Demi mencari internet gratis, saya mencoba bertahan sendirian di ruangan sekretariat program studi dengan 6 ruangan “tetangga’ yang kosong. Kampus masih sepi setelah masuk libur lebaran. Ternyata saya hanya mampu bertahan sampai jam 7 malam.

Satu pelajaran yang saya dapat, yaitu ketika AC (Air Conditioner) di ruangan sudah dimatikan namun udara masih tetap dingin. Pilihan terbaik adalah pulang ke kos. Keluar ruangan saya disambut oleh daun – daun pohon saga (Adenanthera pavonina) yang berguguran di depan ruangan staf Konservasi Tanah dan Air Institut Pertanian Bogor.

Lalu saya melewati parkiran fakultas pertanian dan menikmati harumnya aroma bunga melati belanda (Quisqualis indica) berwarna merah dan putih yang merambat di atas parkiran. Angin pun berhembus kencang, langkah kakiku semakin dipercepat agar segera tiba di “my second home“. “Mereka” ada di sekitar kita, melihat dan mengawasi kita, tetapi kita tidak perlu takut kepada “mereka”. Yang perlu ditakutkan adalah manusia hidup, mereka yang nekad berbuat apa saja untuk mencapai tujuannya. Seperti para perampok, pembunuh, pemerkosa dan sebagainya.

 

                                                                                                            Dramaga, 14 Juli 2016

(Mariana Lusia Resubun)