Indonesia seperti tak henti diguncang tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama, tindak terorisme yang sangat mengganggu kerukunan antar umat beragama. Sebagai ibu, apa yang bisa kita lakukan agar anak-anak kita bisa bersikap toleran terhadap sesama? 

Belum lama berselang, sekitar pertengahan November, Indonesia kembali berduka dengan kejadian meledaknya bom di sebuah rumah ibadah di Samarinda.

Sekilas tentang tindak terorisme di Indonesia, banyak data yang mencatatnya, kita akan coba lihat data dari Wikipedia ini, yang saya kutip sejak  tahun 2010.

Tahun 2010

  • Penembakan warga sipil di Aceh , bulan Januari 2010
  • Perampokan bank CIMB Niaga , September 2010

Tahun 2011

  • Bom Cirebon, 15 April 2011, bom bunuh diri di Masjid malporesta Cirebon saat shalat Jum’at, melukai 25 orang dan menewaskan pelaku.
  • Bom Gading Serpong, 22 April 2011. Rencana bom dengan target gereja Christ cathedral Serpong, tangerang Selatan, berhasil digagalkan
  • Bom Solo, bom bunuh diri di GBIS Kepunton Solo, seornag pelaku tewas dan melukai 28 orang

Tahun 2012

  • 19 Agustus 2012 granat meledak di Pospam Geladak Solo.

Tahun 2013

  • 9 Juni 2013, bom di Polres Poso dengan target personil polisi yang sedang apel. Meledak di depan Masjid Mapolres Poso Sulawesi Tengah.

Tahun 2016

  • 14 Januari 2014, bom dan baku tembak di Jalan MH Thamrin jakarta i sekitar Plaza Sarinah
  • 5 Juli 2016 bom bunuh diri meledak di halaman Mapolres kota Solo, satu pelaku tewas, serangan petugas kepolisian luka-luka.
  • 13 November 2016 bom molotov meledak di depan Gereja Oikumene Samarinda, empat anak terluka dan satu di antaranya meninggal.

budaya-indonesia

Tangkal Radikalisme!

Kesedihan dan rasa pilu, itu yang selalu tertinggal ketika muncul tindak terorisme semacam ini. Selalu dan selalu hati ini berharap bahwa kejadian itu adalah yang terakhir.

Apakah radikalisme itu? Banyak penjelasan mengenai radikalisme, namun mengutip Wikipedia, radikalisme agama kurang lebih artinya adalah paham keagamaan yang mengacu pada fondasi agama yang sangat mendasar dengan fanatisme keagamaan yang sangat tinggi.

Sebagian penganut radikalisme ini cenderung memaksakan kehendaknya pada orang banyak  dan menggunakan segala macam cara. Mereka ingin secepatnya mencapai tujuan mereka, yang mereka anggap benar, dengan berbagai cara, salah satunya dengan kekerasan.

Radikalisme di Indonesia jelas akan merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia, karena Indonesia dibangun melalui beraneka ragam perbedaan, Jika ada salah satu kelompok yang ingin memaksakan dirinya maka akan menimbulkan persoalan sosial di masyarakat.

Ada yang terlupakan oleh para pelaku terorisme , salah satunya adalah tentang kemanusiaan yang mungkin tak terfikirkan oleh merea. Yaitu terorisme itu melukai bangunan kemanusiaan dan peradaban.

Menolak radikalisme menjadi kewajiban orangtua

Paham radikal ini banyak diikuti oleh anak-anak muda, bahkan dalam usia belasan tahun, disebabkan pada usia belasan tahun anak berada pada proses pencarian jati dirinya. Dimana dia merasa eksistensinya dihargai, maka dia akan nyaman berada di entitas itu.

Sebenarnya seorang anak tak  akan mudah terkena pengaruh radikalisme jika saat berada di dalam keluarga dia mendapatkan fondasi yang kokoh mengenai kemanusiaan.  Sejak dini, ajarkanlah tentang pentingnya kemanusiaan bagi kehidupan bersama di ruang sosial.

Keluarga memiliki tanggungjawab yang penuh dalam mengajarkan nilai-nilai kebaikan dalam hidup, eluarga disini terutama adalah ayah dan ibu. Dengan asumsi bahwa anak dalam masa pencarian identitas lebih dekat dengan ibunya, maka kewajiban besar mengajarkan nilai-nilai kebaikan bertumpu kepada ibu.

Ada banyak hal yang bisa diajarkan sebagai nilai dalam kehidupan bernegara, dan paling dekat adalah mengambil dari nilai yang terkandung dalam Pancasila. Kedengarannya klise ya, namun percayalah nilai yang terkandung dalam pancasila sangat relevan untuk menangkal radikalisme dari rumah.

  1. Sila Pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa
    Ajarkanlah bahwa manusia itu diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa sehingga segala perbuatannya juga dipertanggungjawabkan kepada Tuhan. Taat beribadah, menjalani  apa yang diperintahkan dan menjauhi larangan agama, menghargai dan menghormati agama yang dianut orang lain.
    Memahami bahwa agama adalah persoalan hak yang paling asasi bagi setiap manusia.
  2. Sila Kedua: Kemanusiaan yang adil dan beradab
    Perlu menyadari dan memahami bahwa manusia itu diciptakan sama oleh Tuhan YME.
    Menghormati orang tua, saudara, tetangga dan bersikap hormat juga pada sesama manusia, tanpa membedakan suku, agama, warna kulit bahkan status sosial ekonomi maupun pendidikannya.
    Tidak bersifat diskriminatif, bersikap sopan santun sesuai dengan budaya timur khususnya budaya Indonesia. Lebih mendahulukan keadilan dan kebenaran kemanusiaan.
  3. Sila Ketiga: Persatuan Indonesia
    Memahami dan menyadari bahwa persatuan Indonesia, keamanan negara, berada di atas semua kepentingan individu, kelompok, golongan.
    Mencintai tanah air Indonesia, dengan memahami dan mengakui keragaman suku, bahasa, budaya yang majemuk. Pengakuan terhadap keragaman dan kemajemukan akan mendorong untuk bersikap ikut merawat ekbhinekaan tersebut.
  4. Sila Keempat: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. Tanamkanlah tentang keseimbangan, keharmonisan hidup berbangsa, bahwa untuk menyelesaikan segala sesuatu ditempuh dengan musyawarah.
    Menjaga selalu semangat dan nuansa kekeluargaan dalam mengambil keputusan, sehingga keselarasan dan keharmonisan dalam berbangsa tetap terjaga.
  5. Sila Kelima: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
    Tanamkan pada anak untuk senantiasa bersikap adil terhadap siapapun, karena hal itu akan memberikan sumbangsih berarti bagi masyarakat. Ajarkanlah untuk terus mengasah diri, memupuk sifat-sifat baik pada orang lain.
    Ajarkanlah untuk mendahulukan kewajiban terlebih dahulu, dan menyeimbangkan antara hak dan kewajiban

Beberapa nilai tersebut masih bisa dikembangkan dengan lebih beragam, lebih banyak lagi, yang intinya menggali nilai-nilai budaya bangsa ini akan mampu meneguhkan karakter anak dalam pencarian identitas diri.

Nilai-nilai kemanusiaan itu akan efektif meresap dalam diri anak, jika diajarkan dalam bentuk keteladanan.

Kita, orangtua berkewajiban memberikan melalui contoh, pola pikir dan pola perilaku yang langsung bisa dilihat dan disaksikan anak, sehingga anak akan mendapatkan nilai-nilai positif tidak dalam bentuk teori saja.

Pada saatnya, nilai-nilai kemanusiaan yang diperoleh di rumah, akan dibuka kembali ketika si anak berada di masyarakat luas sebagai seorang manusia yang mandiri.(nf)