Angklung, alat musik tradisional dari Jawa Barat, ternyata sudah diakui dunia sebagai warisan budaya. Bagaimana apresiasi kita pada angklung, alat musik dari bambu ini? 
Bulan November, tepatnya tanggal 16, diperingati sebagai Hari Angklung Sedunia. Penetapan Hari Angklung Sedunia ini dilakukan pada 16 November 2010, pukul 16.20 di Nairobi, Kenya dalam sidang Inter-governmental Committee for the Safeguarding of Intangible Cultural Heritage (IGC-ICH). Angklung merupakan alat musik multitional (bernada ganda).
Alat musik ini dibuat dari bambu, dibunyikan dengan cara digoyangkan. Benturan badan pipa ini menghasilkan bunyi yang bergetar dalam susunan nada 2, 3 sampai 4 nada dalam setiap ukuran, baik besar maupun kecil.
Jenis bambu yang biasa digunakan adalah bambu hitam dan bambu putih. Setiap nada dihasilkan dari bunyi tabung bambu yang berbentuk bilah. Dari penetapan itu, akhirnya disepakati setiap tanggal 16 November diperingati sebagai Hari Angklung Sedunia (Angklung Days). Tahun 2011, misalnya, sebanyak 5.000 angklung diterbangkan ke Washington DC, Amerika Serikat, untuk dimainkan secara massal demi memecahkan rekor dunia. Beberapa bulan kemudian, 10.000 angklung diproduksi oleh perajin angklung di Bandung dan dimainkan untuk kepentingan yang sama.
Tahun ini, ada berbagai kegiatan menyambut Hari Angklung Sedunia. Tanggal 16 – 27 November 2016 dilaksanakan pameran angklung di Saung Angklung Udjo. Namun tak banyak yang mengetahui tentang penetapan tanggal 16 November sebagai Hari Angklung Sedunia.PAdahal, angklung juga telah diakui oleh Organisasi Pendidikan, Keilmuan dan Kebudayaan PBB (UNESCO) sebagai Karya Agung Warisan Budaya Lisan dan Nonbendawi Manusia. Dalam laman resmi Saung Angklung Udjo yang menceritakan bahwa keterangan usia angklung ada dalam kitab Nagara Kertagama yang menceritakan bahwa angklung merupakan alat bunyi-bunyian yang dipergunakan dalam upacara penyambutan kedatangan raja. 
angklung
Dalam kitab itu juga diceritakan bahwa kesenian angklung dimainkan rakyat untuk menyambut Raja Hayam Wuruk saat mengadakan peninjauan keliling daerah Jawa Timur pada tahun 1359 (Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat, 1977:52). Angklung di Jawa mulai terkenal pada abad ke-17. Kala itu, terdapat banyak sekali angklung yang didatangkan dari Bali (Tim Penulisan Naskah Pengembangan Media Kebudayaan Jawa Barat, 1977:52) di Keraton Sultan Agung, Banten.
Angklung dulunya hanya dikenal oleh masyarakat sunda sejak masa kerajaan SundaFungsi angklung sebagai pemompa semangat rakyat masih terus terasa sampai pada masa penjajahan. Dampaknya, pemerintah Hindia Belanda sempat melarang masyarakat menggunakan angklung. Alhasil, hanya anak-anak saja yang memainkan angklung. Dalam perkembangannya, angklung terus berkembang dan mengalami banyak modifikasi. Jika dulu hanya dimainkan saat perayaan-perayaan tradisional seperti saat panen raya, maka kini angklung dapat dimainkan siapapun, di manapun, dan kapanpun.
Berdasarkan kompas.com, ada tantangan dalam mengembangkan angklung. Tantangannya semakin langkanya jenis bambu untuk angklung. Bambu terbaik untuk angklung antara lain bambu temen (Gigantochloa atter), bambu wulung (Gigantochloa atroviolacea), bambu lengka (Gigantochloa hasskarliana), dan bambu tali (Gigantochloa apus Kurz). (rab)