Sejak memiliki anak, saya mulai mengenal ‘bonding’–istilah untuk menyebutkan kedekatan emosional antara dua orang manusia. Di keluarga, ikatan ini bisa terjadi dengan siapapun, baik antara suami dan istri ataupun orang tua dengan anak. Bonding tidak terjadi begitu saja. Ia harus diciptakan dan terus dijalin, bahkan di antara ibu dan anak. Berikur cara menciptakan bonding antara ibu dan anak berdasarkan tahapan usia anak.

Janin

Ada bermacam cara untuk menciptakan bonding saat bayi masih dalam kandungan. Saya sering melihat ibu hamil mengelus-elus perutnya. Hal tersebut adalah salah satu upaya untuk membangun bonding. Merespon ‘tendangan’ bayi, menyapa, mengajak ngobrol, bernyanyi, membacakan dongeng, dan lain sebagainya bisa membangun bonding dengan janin.

Bayi 0-6 bulan

“Siapa ibu-ibu di sini yang ketika masih menyusui tidak sambil pegang gadget untuk internetan?”

Itu pertanyaan seorang psikolog yang menjadi pembicara sebuah seminar parenting yang pernah saya hadiri. Dari sekian banyak yang hadir, hanya segelintir yang mengangkat tangan. Saya salah satunya. Sebetulnya ketika saya masih menyusui anak, social media belum semarak sekarang. Ponsel saya saja hanya bisa telpon dan sms, tidak ada fasilitas internet.

Pada usia 0-6 bulan sangat disarankan memberikan ASI eksklusif. Sebaiknya para ibu memfokuskan perhatian pada bayi saat memberikan ASI, bukan malah sambil memainkan ponsel. Momen menyusui bisa dimanfaatkan dengan mengusap-usap kepala atau tangan anak dengan lembut, mengajaknya ngobrol, bernyanyi, dan lain sebagainya.

Ungkapan sayang bisa diberikan tidak hanya pada saat menyusui, tetapi juga ketika memandikan, memijat, atau menimang bayi. Bayi tidak merespon dengan bahasa orang dewasa, tapi dia bisa merasakan gestur kasih sayang yang Anda berikan. Sering-seringlah berinteraksi dengannya. Jangan menjadi orang tua yang pasif.

Balita

Secara bertahap perkembangan bayi meningkat. Di usia ini, keingintahuan anak semakin besar. Ada kalanya mereka ingin melakukan berbagai hal sendiri. Misalnya makan, tak jarang balita ingin makan sendiri, meskipun hasilnya berantakan. Tidak masalah belajar sedikit demi sedikit, itu juga untuk menanamkan kepercayaan dan kemandirian bagi anak. Tetapi tetaplah menjadi ibu  yang aktif.

Temani mereka saat beraktivitas. Ajak bicara atau berdiskusi, apalagi anak-anak di usia balita juga sedang banyak meniru. Kedekatan anak dengan orang tua juga bisa mengantisipasi anak berlaku kurang baik. Menonton TV misalnya, bila anak dibiarkan tanpa pendampingan, dia akan menyerap mentah-mentah segala yang dilihatnya. Kehadiran ibu yang mendampingi dan mengajaknya  berdiskusi akan membuat anak belajar memfilter mana yang baik dan tidak.

Usia Sekolah

Semakin bertambah usia, frekwensi kebersamaan dengan orang tua semakin sedikit. Anak mulai terpengaruh pendapat orang lain. Orang tua yang hadir secara utuh fisik dan emosional akan membantu anak menyaring berbagai pendapat yang ia dengar dari lingkungan bermain dan pergaulannya. Itulah pentingnya untuk tetap menjaga bonding dengan anak.

Tak cuma ibu rumah tangga, ibu yang bekerja pun bisa menjalin bonding dengan anaknya. Kuantitas ibu yang bekerja memiliki waktu bersama anak yang sudah bersekolah mungkin tidak sebanyak ibu rumah tangga. Yang terpenting adalah kualitas kedekatan. Ibu saya termasuk pekerja kantoran dan kualitas kedekatan kami termasuk baik hingga sekarang. Komunikasi yang baik–mau mendengarkan dan memberi ruang yang cukup untuk anak menyampaikan pendapat–adalah kuncinya. (ma)