Pulau Lombok merupakan pulau yang akrab dengan sapaan Pulau 1000 Masjid. Selain itu, Pulau Lombok dikenal memiliki banyak sekali pantai dengan pemandangan yang cantik. Bahkan orang Lombok sendiri menyarankan kita para wisatawan agar jangan ke Lombok, karena khawatirnya nanti kita ketagihan dan enggan untuk pulang. Rasanya ungkapan tersebut tidak berlebihan, sebab nyatanya Lombok memang cantik dan selalu membuat kita berdecak kagum akan keindahan objek wisatanya.

                Namun Lombok tidak melulu soal pantai. Aneka objek wisata alam lainnya pun tersedia di sini. Gunung, perbukitan, air terjun, sungai, mata air, semua tersedia di Lombok. Tidak ketinggalan sajian kuliner khasnya yang selalu menggugah selera makan setiap wisatawan yang datang. Urusan oleh-oleh? Jangan ditanya. Selain mutiara yang sudah sangat dikenal, jangan lupa pula dengan kain tenun khas Lombok. Ingin tahu tempat asyik untuk membeli kain tenun sekaligus berwisata melihat langsung para penenunnya? Ke Desa Pringgasela saja!

                Pringgasela merupakan sebuah desa yang terletak di Kecamatan Masbagik, Kabupaten Lombok Timur, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Berjarak sekitar 48km dari pusat kota Mataram dan 50km dari Bandar Udara Internasional Lombok. Bagi para wisatawan, nama Pringgasela mungkin masih asing dikarenakan kurangnya promosi terkait desa ini sebagai sebuah  penghasil kain tenun. Padahal, kain tenun yang dihasilkan di Pringgasela tidak kalah cantik dibanding kain-kain tenun yang umumnya kita temukan di toko oleh-oleh di Lombok. Bahkan kain tenun yang dihasilkan di sini memiliki keunikan tersendiri, dimana warna-warna yang dihasilkannya berasal dari bahan pewarna alami. Baik itu dari daun, akar kayu, batang pohon dan sebagainya.

                Keunikan selanjutnya yaitu bahwa Pringgasela memang pantas disebut sebagai kampungnya para penenun. Ya, hampir semua warga di kampung ini berprofesi sebagai penenun. Minimal, mereka memiliki alat tenun masing-masing di setiap rumahnya. Mereka melakukan aktivitas menenun tersebut dengan sangat menyenangkan, kadang di teras rumah, kadang pula di dalam kamar. Jika sedang lelah, maka mereka akan beristirahat dan meninggalkan peralatan menenunnya begitu saja. Jadi, ada ataupun tidak ada wisatawan ya mereka tetap menenun seperti yang dilakukan sehari-hari. Hal ini unik, karena saat kita berwisata ke sana, maka kita akan menemukan beragam pemandangan. Ada yang sedang memang sedang menenun, ada pula yang melakukan aktivitas lain seperti memintal benang, merendam bahan untuk dijadikan pewarna, bahkan ada pula yang suara kletak kletak alat tenunnya hanya bisa kita dengar karena mereka menenun di dalam kamar.

                Menariknya lagi, pada bulan September 2017 lalu, para penenun di Desa Pringgasela menggelar sebuah parade yang melibatkan sebanyak 1.350 penenun. Pada parade tersebut, mereka melakukan kegiatan menenun di sepanjang jalan poros di kampung menggunakan peralatannya yang masih tradisional. Tidak heran jika kegiatan ini mengundang banyak wisatawan, baik lokal maupun asing untuk menyimak langsung proses sebuah kain tenun dihasilkan.

                Jika teman-teman berwisata ke Pulau Lombok, ada baiknya sempatkan berkunjung ke kampung para penenun di Desa Pringgasela ini. Rasakan sensasi berjalan mengelilingi kampung yang sebagian besar warganya adalah penenun. Nikmati pemandangan aktivitas para penenun tradisional tersebut. Setelah puas berjalan-jalan dan bertegur sapa dengan mereka, jangan lupa untuk mampir di koperasi tempat kain-kain tenun tadi dipasarkan. Salah satunya di koperasi Songket Tradisi. Di sana teman-teman bisa mendapatkan aneka koleksi kain tenun tradisional dengan harga terjangkau, namun tetap berkualitas. Kain tenun yang dipasarkan di sana umumnya bersifat eksklusif, yang artinya jarang dibuat ada kembarannya. Jadi ada rasa bangga bagi kita yang menggunakannya. Dengan membeli kain tenun Pringgasela, kita pun telah ikut mendukung berkembangnya produk lokal.(ah)