Mengajari Anak Tanggung Jawab dari Hal Kecil

0
50
Sebagai orangtua, kita tentu senang jika anak kita mampu bertanggung jawab. Membangun sikap bertanggung jawab harus dilakukan sejak dini dengan cara dipupuk dan dievaluasi melalui proses yang berkesinambungan. Orang tua adalah pihak yang paling berkewajiban membangun sikap ini dalam diri buah hatinya. Mengajari anak bertanggung jawab bisa dimulai dari hal-hal kecil.
Pertama, ajarkan anak untuk memenuhi kebutuhannya sendiri. Hal sederhana misalnya saat meminta minum, anak diajarkan untuk mengambil minumnya sendiri. Sembari tetap memperhatikan anak, orang tua harus mengajarkan alasan di balik perilaku. Mengajarkan anak mengambil minumnya sendiri  dapat menumbuhkan tanggung jawab anak memenuhi kebutuhannya secara mandiri.
 
Penggunaan telepon juga bisa membuat anak berlatih bertanggungjawab. Contoh latihan tersebut misalnya tentang kesepakatan penggunaan ponsel yang terbatas untuk kebutuhan tertentu dan harus atas seizin orangtua.
Saat mulai menginjak usia sekolah, anak akan mulai dibebani tugas-tugas sekolah, pekerjaan rumah, atau tugas kelompok. Jangan bosan bertanya dan mengingatkan anak seputar kewajiban sekolah mereka. Misalnya saat ada tugas kelompok, apabila telah diterapkan waktu atau batas akhir pengumpulan, anak harus diingatkan untuk menepati sesuai deadline sehingga tidak menimbulkan kerugian kepada anggota kelompok lainnya. Mengingatkan anak soal kewajiban kerja kelompok dapat melatih tanggung jawab anak sebagai anggota keluarga atau masyarakat.
 
Jangan lupa memberikan penghargaan dengan cara memberikan kata-kata pujian atau hadiah jika anak melakukan tanggung jawabnya. Pemberian penghargaan yang dilakukan dengan suasana penuh gembira akan membuat anak merasa usahanya dihargai.
Apabila anak tidak mampu menuntaskan tanggung jawab sesuai target, dengarkan penjelasan mereka terlebih dahulu. Misalnya, anak terlambat pulang akibat belajar kelompok, beri mereka waktu untuk mengemukakan alasannya. Ruang toleransi dan diskusi ini diharapkan dapat membuat anak semakin bijaksana dalam mengemban tanggung jawabnya.
Biarkan anak merasakan dampak apabila tanggung jawabnya tidak ditunaikan. Misalnya ketika lalai mengerjakan PR, orang tua tidak seharusnya yang mengerjakan PR agar si anak terhindar dari sanksi di kelas. Dengan mengerti konsekuensi atas kelalaian, anak akan belajar untuk selalu mengingat dan melaksanakan tanggung jawabnya.
Hal terakhir namun paling penting adalah orang tua harus menjadi contoh bagi anak-anaknya. Sering kita jumpai orang tua membebani anak dengan berbagai tanggung jawab sementara dirinya sendiri sering melalaikannya. Thomas S Greenspon, Ph.D, psikolog dan terapi pernikahan dan keluarga mengatakan, anak-anak selalu belajar dari contoh sehingga orangtua diharapkan dapat menjadi pendorong untuk melakukan yang terbaik. (rab)