Mommies, pernahkah kamu menjelaskan pada anak laki-lakimu tentang siklus menstruasi yang dialami seorang perempuan? Mengapa mereka perlu mengetahuinya?

Tangannya sibuk membolak-balik benda putih empuk, berbentuk bujur sangkar. Siswa laki-laki itu lalu dengan santai menjawab pertanyaan mbak Kiki, seorang teman dari UNICEF Indonesia.

 “Ini penutup mulut,” jawabnya masih sambil mengamati benda di tangannya.

Tentu yang ia maksud penutup mulut adalah masker. Saya dan beberapa teman dalam ruangan perpustakaan, tempat kami melaksanakan diskusi bersama 5 orang siswa, berusaha menahan senyum. Kami mencoba bersikap wajar. Saat mbak Kiki mempersilakan 5 orang siswa tersebut untuk membuka kemasan tipis dari benda yang mereka amati sejak tadi, Dermawan, siswa kelas 6, spontan berujar,

“Softex!”

Softex adalah salah satu brand pembalut wanita yang amat terkenal sekitar tahun 80an. Mungkin karena itulah, orang-orang desa menyebut pembalut dengan sebutan “Softex”.

fgd-siswa-laki-laki

Diskusi tadi adalah bagian dari proses pre-test booklet Menstrual Hygiene Management yang diproduksi oleh UNICEF bekerjasama sama dengan Tim Pembina UKS Bandung dan Biak. Saya bersama mbak Kiki dan 2 orang dari Yayasan Lembaga Mitra Ibu dan Anak, memfasilitasi proses Fokus Group Discussion (FGD) yang dilaksanakan September 2016 lalu. Diskusi tersebut dibagi ke dalam 5 kelompok. Kelompok siswa perempuan yang belum menstruasi, siswa yang sudah menstruasi, siswa laki-laki, orangtua siswa dan guru. Tiap kelompok FGD terdiri atas 5 orang.

Pre-test ini sebenarnya bertujuan untuk menguji booklet yang akan dibagikan kepada para siswa. Harapannya, setelah FGD akan ada masukan dari siswa, orangtua dan guru terkait dengan gambar, tokoh, cerita, materi dan pilihan istilah yang digunakan dalam booklet tersebut. Masukan itu nantinya akan menjadi acuan untuk menyempurnakan booklet pada produksi berikutnya.

Dermawan satu-satunya siswa yang bisa menebak bahwa benda yang dipegangnya adalah pembalut. Namun ia sama sekali tak tahu kegunaan dari pembalut. Saat ditanya, di mana pernah melihat benda tersebut, ia menyatakan bahwa ibunya pernah beberapa kali meminta ia membeli di warung.

Siswa lain, Ariel, akhirnya menyatakan juga bahwa pernah melihat pembalut. Ia tak tahu namanya dan melihatnya dalam kondisi kotor bercampur tanah, di pinggir sungai. Ariel dan 4 orang kawannya adalah siswa dari SD Inpres Campagaya, desa Moncongkomba. Sebuah sungai membelah desa ini. Sebagian warga yang menetap dekat dari sungai, menjadikannya sebagai tempat mandi, mencuci, bahkan buang air dan sampah. Tak heran jika Ariel menemukan pembalut bekas pakai di sana.

siswa-membaca-buku-panduan

FGD dengan siswa laki-laki, selain untuk pre-test booklet, juga untuk mengetahui sejauh mana pemahaman siswa laki-laki tentang menstruasi. Mengapa anak laki-laki harus tahu tentang menstruasi? Apalagi mereka masih duduk di bangku sekolah dasar.

Saya menyodorkan booklet panduan kepada masing-masing siswa di depan saya, meminta mereka membacanya dengan teliti tanpa harus terburu-buru. 15 menit berselang, saya melempar pertanyaan setelah mereka mengaku sudah selesai membaca buku panduannya.

“Apa isi bukunya?”

“Tentang Putri yang sedang bersedih.  Tentang Adi dan kakaknya,” Ujar Faita cepat. Tak ingin kalah cepat dari teman-temannya.

Mereka bergantian menjawab dengan serius, apa yang telah mereka baca. Tak ada ekspresi canggung dari satupun diantara mereka saat menjelaskan apa itu menstruasi, mengapa perempuan menstruasi dan apa yang harus dilakukan oleh anak laki-laki jika temannya menstruasi.

buku-panduan-untuk-anak-laki-laki

Ya, buku panduan ini berisi cerita tentang Adi, seorang anak laki-laki sekolah dasar, yang ditebak oleh peserta FGD, sebagai siswa kelas 6. Adi melihat temannya, Puteri, sedang bingung dan panik saat di sekolah karena rok nya ada noda darahnya. Buku ini menjelaskan apa yang sedang terjadi pada Putri dan apa yang harus dilakukan oleh anak laki-laki.

Anak laki-laki harus tahu tentang menstruasi, agar mereka bisa berlaku sopan dan menghargai teman perempuannya yang sedang menstruasi. Semua teman perempuannya akan mengalami menstruasi, saat mereka tumbuh untuk menjadi peremppuan dewasa. Hal lain yang bisa dilakukan oleh anak laki-laki adalah membantu menjelaskan ke teman lain, jika ada yang mengejek teman yang sedang menstruasi. Bisa juga menawarkan bantuan jika dibutuhkan.

Siswa laki-lakipun perlu tahu bahwa emosi anak perempuan sedang tidak stabil jika sedang menstruasi dan kadang mengalami nyeri di perut. Olehnya, sebagai anak laki-laki, harus menghormati dan membantu jika temannya sedang nyeri perut atau lesu di sekolah.

Buku panduan sangat membantu untuk menjelaskan tentang menstruasi kepada anak laki-laki. Hanya saja dibutuhkan pendampingan dan penjelasan oleh guru atau orangtua terlebih dahulu. Sebelum memberi buku untuk dibaca, anak-anak bisa diajak di awal tentang teman-temannya di sekolah.

Ayo mengedukasi anak laki-laki tentang menstruasi, khususnya untuk siswa kelas 6 hingga ke jenjang lebih tinggi, agar tahu bahwa menstruasi adalah proses alami bagi seorang perempuan dan mereka tidak mengolok, melainkan membantu teman perempuannya saat sedang mengalaminya.(abt)