Kekerasan pada anak bisa terjadi di mana saja. Tapi ternyata, keluarga merupakan tempat paling sering terjadinya tindak kekerasan pada anak. Ironisnya, hal ini kebanyakan dilakukan oleh para orangtua.

Ekonomi Salah Satu Pemicu

Tindakan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) pada anak yang dilakukan oleh orangtua, akhir-akhir ini semakin sering terjadi di Indonesia. Kasus terbaru adalah kamatian BR, bocah berusia empat tahun, yang dibunuh oleh ibu kandungnya sendiri, SK yang masih berusia 23 tahun, November tahun ini di Palembang.

Kematian BR disebabkan oleh SK yang kesal karena anaknya tidak mau menghentikan tangisannya. Ibu muda ini tega menendang dada, meninju perut, mengigit tangan, sampai mengguyur BR dengan air di kamar mandi hingga akhirnya si anak tidak sadarkan diri dan meninggal. Ternyata, kekerasan ini bukan baru pertama kali terjadi karena SK mengaku sudah selama tiga bulan melakukan penganiayaan pada anaknya sendiri.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyatakan, anak rentan menjadi korban kekerasan justru di lingkungan rumah dan sekolah karena lingkungan tersebut mengenal anak-anak cukup dekat. Artinya, pelaku kekerasan pada anak justru lebih banyak berasal dari kalangan yang dekat dengan anak. Hal ini didasarkan dari hasil monitoring dan evaluasi KPAI tahun 2012 di 9 provinsi yang menunjukkan bahwa 91% anak menjadi korban kekerasan justru di lingkungan keluarga, sementara 87.6% di lingkungan sekolah dan 17.9% di lingkungan masyarakat.

Kekerasan pada anak ini bisa disebabkan oleh berbagai macam hal, salah satunya adalah faktor ekonomi. Hal ini ditegaskan oleh seorang psikolog anak, Vera Itabiliana, Psi., “Faktor ekonomi dapat melatarbelakanginya di mana kekerasan timbul karena tekanan ekonomi. Tertekannya kondisi keluarga yang disebabkan himpitan ekonomi adalah faktor yang banyak terjadi yang menyebabkan kekerasan pada anak.”

Inilah yang terjadi pada kasus meninggalnya BR. Sang ibu kandung mengaku merasa semakin kesal pada anaknya dikarenakan pertengkaran dengan suaminya mengenai kondisi ekonomi keluarganya. Ditambah dengan tekanan dan tidak adanya dukungan dari suami, membuat perasaan stres ibu dilampiaskan pada anak hingga melakukan kekerasan dan, pada akhirnya, pembunuhan.

Paradigma yang Keliru

Tapi, faktor ekonomi bukanlah satu-satunya penyebab terjadinya kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orangtua. Sekretaris Jenderal KPAI, Erlinda, menjelaskan bahwa faktor lain yang cukup dominan adalah kesalahpahaman orangtua yang mengakibatkan pola asuh dan gaya hidup yang salah dari orangtua itu sendiri.

“Orangtua itu menganggap anak sebagai benda di mana anak tidak punya hak karena semua kendali ada di orangtua. Masalah keluarga ini harus dikembalikan lagi sebagaimana tatanannya, melindungi anak dan memberikan kenyamanan dan keamanan,” ungkapnya.

Seto Mulyadi, psikolog anak dan Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak, juga mengutarakan hal yang sama. Adanya paradigma yang keliru dalam masyarakat yang menganggap anak sebagai komunitas kelas bawah dan hak milik orang tua sehingga orangtua bisa melakukan apa saja pada anak karena merasa kalau anak adalah milik mereka. Padahal pemikiran ini salah besar.

“Cara berpikirnya harus dibalik, hak anaklah yang diutamakan, yakni dilindungi orang tuanya. Bahkan, orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anaknya sanksi pidananya ditambah lagi, karena orang tua harus ada pada garda paling depan untuk melindungi anaknya,” kata pria yang akrab dipanggil Kak Seto ini.

Selain itu, anak juga sering diperlakukan sebagai orang dewasa mini oleh orangtua. Anak dianggap memiliki kekuatan yang sama dengan orang dewasa sehingga kuat menahan segala perlakuan keras pada dirinya. Padahal, masih menurut Seto, fisik dan jiwa anak sangat ringkih sehingga kekerasan akan membentuk jiwa yang penuh perlawanan dan pemberontakan.

 Gangguan jiwa atau pengalaman kekerasan fisik di masa lalu yang dialami oleh orangtua juga bisa dijadikan penyebab anak mendapatkan kekerasan dalam keluarga. Kedua faktor ini bisa membuat orangtua tega melakukan tindak kekerasan pada anak, baik disadari maupun tidak.

 Cara Menghindarinya

Jika kita sebagai orangtua tidak memiliki riwayat gangguan jiwa atau pengalaman traumatis di masa kecil, sebenarnya tindakan kekerasan pada anak bisa dihindari. Mendekatkan diri pada tuhan merupakan hal utama yang disa dilakukan. Tidak hanya orangtua, tapi juga anak dan anggota keluarga lain yang tinggal di dalam lingkungan rumah. Setiap agama mengajarkan untuk berbuat baik pada semua orang sehingga keluarga yang taat beragama bisa menghindari tindakan kekerasan dalam keluarga mereka.

Selain itu, komunikasi antar sesama anggota keluarga juga harus terjalin dengan baik. Pasanga suami istri harus memiliki hubungan komunikasi yang baik sehingga bisa menghindari pertengkaran dalam keluarga. Begitu juga dengan orangtua dan anak, komunikasi harus terjalin dengan baik agar orangtua bisa mengerti kemauan anak dan begitu pula sebaliknya.

Terakhir, jangan ragu meminta bantuan pada pihak ketiga jika terjadi masalah di dalam keluarga yang tidak bisa diselesaikan sendiri. Bukan hanya masalah dengan anak, tapi juga dengan pasangan. Seperti banyak kasus yang terjadi, masalah yang terjadi pada pasangan suami-istri bisa berakibat buruk pada anak sampai bisa menimbulkan kekerasan dan akhirnya penghilangan nyawa. (ew)