Di era perkembangan teknologi informasi dewasa ini, semua orang mengenal internet. Perangkat komunikasi genggam dan media sosial  menjadi hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan modern anak-anak dan orang dewasa, laki-laki dan perempuan.

Survei Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dilakukan sepanjang 2016 menunjukkan, pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 132,7 juta orang, dari total penduduk Indonesia sebanyak  256, 2 juta jiwa ( tekno.kompas.com ). Di antara berbagai kelompok pengguna internet di Indonesia, perempuan menjadi kelompok paling besar. Pengguna internet perempuan mencapai 71 persen, sebuah jumlah yang fantastis.

Hasil survey tersebut mengungkapkan sebuah fakta penting lainnya: produk internet yang paling banyak digunakan perempuan adalah media sosial. Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hal tersebut, yang semuanya berhubungan dengan tipikal atau kecenderungan seorang perempuan.

Sarana untuk Bercerita
Ya, perempuan cenderung suka cerita. Media sosial menjadi ruang yang menarik untuk membagikan cerita, cerita apa saja. Mulai soal yang penting–yang layak diketahui banyak orang–hingga yang remeh-remeh. Bagi sebagian besar perempuan, media sosial menjadi ruang yang tidak terbatas untuk bercerita tentang apa saja.

Pernik-pernik Urusan
Perempuan memang ditakdirkan untuk hidup dengan seabrek urusan, mulai kegiatan di dalam rumah tangga, hal-hal seputar pertumbuhan anak, mengurus suami, hingga berbagai macam kegiatan di luar rumah. Kebebasan bercerita yang disediakan media sosial tanpa sadar mendorong mereka untuk “pamer”, menceritakan segala urusan lewat linimasa. Seringnya, perempuan menjadi kurang selektif dalam membagikan informasi kegiatan-kegiatan pribadi, sehingga mereka lalai mempertimbangkan apakah yang mereka bagikan itu bermanfaat atau tidak, .

Multitasking
Tak bisa dibantah, perempuan lebih dominan dalam hal multitasking–kemampuan untuk melakukan beberapa hal dalam saat yang bersamaan–daripada kaum laki-laki. Ketika situasi memungkinkan, bermedia sosial bagi perempuan bisa dilakukan tanpa mengganggu pekerjaannya. Sehingga, tidak aneh jika Anda melihat perempuan yang asyik ngobrol ketika menunggu pesanan makanan, sambil pandangan dan jari tangannya tetap khusyuk memilin layar ponsel pintar. Itu hal biasa yang tak membutuhkan latihan khusus bagi perempuan.

Memanfaatkan Waktu
Masih berhubungan dengan kemampuan multitasking, perempuan memiliki kemampuan yang lebih baik dalam hal memanfaatkan waktu. Kalau kebanyakan laki-laki tidak mau disibukkan dengan hal-hal remeh, bermedia sosial bagi perempuan itu menjadi keasyikan tersendiri yang bisa dilakukan sambil bekerja tanpa mengganggu efektifitasnya.

Ajang Kompetisi
Dalam alam bawah sadar, perempuan selalu ingin terlihat ‘berbeda’ dari perempuan lainnya. Sebagian perempuan bahkan mencandu perasaan superior yang didapatkan saat memenangkan kompetisi semacam ini. Agar ‘bahwa dirinya berbeda’ itu diketahui banyak orang, cara paling efektif saat ini tidak lain ialah dengan memanfaatkan media sosial.

Lumbung Pujian
Menyukai pujian adalah kodrat–jika tak cukup disebut sebagai naluri–perempuan. Melalui interaksi di media sosial, perempuan akan lebih mudah mengukur sejauh mana hal-hal yang dia bagikan ke publik disukai, dikomentari, dipuji dan sebagainya. Pujian semacam rumahnya bagus, fotonya bagus, anaknya cantik, atau bajunya bagus lebih mudah didapatkan lewat interaksi di media sosial daripada di kehidupan sehari-hari.

Panggung Ekspresi
Media sosial saat ini telah menjadi semacam panggung untuk menunjukkan pada dunia, bahwa ‘aku ada’. Keinginan untuk dikenal, dan diingat oleh banyak orang lebih mudah disalurkan melalui posting-posting di media sosialnya.

Belanja
Perempuan suka belanja. Era teknologi informatika melahirkan banyak sekali ‘pasar’ di media sosial. Bagi perempuan, memasuki media sosial tak ubahnya memasuki pasar. Tinggal menentukan saja apa yang dibutuhkan atau yang diinginkan, tak perlu jauh-jauh pergi ke pasar. Karena bagi perempuan, pasar sudah dalam genggaman–dalam arti yang sesungguhnya.(nf)