Maraknya pelecehan seksual pada anak di Indonesia akhir-akhir ini membuat para orangtua tentu saja merasa khawatir. Apa yang harus dilakukan untuk mencegahnya? Salah satu caranya adalah dengan mengenalkan pendidikan seks sejak dini pada anak.

pendidikan-seks-sejak-dini-pada-anak-1

Jangan Dianggap Tabu

Sudah sejak lama, seks dianggap sebagai topik yang sangat tabu untuk dibicarakan di dalam keluarga, khususnya antara orangtua dengan anak. Padahal pendidikan seks ini sangat penting diketahui sejak dini oleh anak karena seks tidak bisa dipungkiri merupakan hal yang dekat dengan kehidupan manusia dan pasti terjadi pada setiap orang. Dan orangtua merupakan pihak pertama yang seharusnya mengenalkan pendidikan seks pada anak agar tidak terjadi kesalahpahaman atau kesimpangsiuran.

Clara Kriswanto, psikolog Jagadnita Consulting, sangat setuju dengan pendapat ini. Dalam bukunya Seks, Es Krim dan Kopi Susu, dia menuliskan bahwa pendidikan seks yang ditanamkan sejak dini akan memermudah anak dalam mengembangkan harga diri, kepercayaan diri, kepribadian yang sehat, dan penerimaan diri yang positif. Nilai-nilai tersebut tentu saja berkaitan erat dengan perlindungan diri pada anak terhadap pelecehan seksual.

Peran orang tua dalam memberikan pendidikan seks pada anak sejak dini benar-benar penting karena merekalah yang paling mengenal kebutuhan anak, paling tahu perubahan dan perkembangan diri anak, serta bisa memberi pendidikan seks secara alamiah sesuai tahap-tahap perkembangan yang terjadi. Seiring dengan pertumbuhannya, minat tiap-tiap anak terhadap seks tentu saja pasti berbeda. Untuk itulah peran orangtua sangat dibutuhkan agar pendidikan seks yang diberikan pada anak ada dalam porsi yang tepat.

Sex education in primary school. 8 & 9 year olds reading Let's Talk About Sex book, London Borough of Greenwich UK. (Photo by: Photofusion/UIG via Getty Images)
Sex education in primary school. 8 & 9 year olds reading Let’s Talk About Sex book, London Borough of Greenwich UK. (Photo by: Photofusion/UIG via Getty Images)

Kenalkan Sesuai Usia

Lalu sebaiknya sejak kapan pendidikan seks diberikan pada anak? Banyak pendapat yang mengatakan bahwa semakin dini semakin baik. Sejak anak berusia dua tahun, saat dia sudah mulai fasih berbicara dan mengenali anggota tubuhnya, dianggap sebagai tahun yang tepat untuk mengajarkan pendidikan seks pada anak. Bagaimana caranya? Berikut tahapan-tahapan pembelajaran seks pada anak sesuai dengan usianya, yang bisa dilakukan oleh para orangtua.

Usia Balita

Seperti yang disebutkan di atas, saat anak berusia dua tahun, orangtua sudah mulai bisa memberikan pendidikan seks pada anak. Mulai dari hal yang sederhana, yaitu dengan mengenalkannya pada alat kelaminnya. Buahatiku.com menuliskan, hal ini bisa dimulai dengan orangtua memberitahukan namanya dan fungsinya dengan bahasa sederhana. Beritahukan juga bahwa alat kelamin laki-laki dan perempuan berbeda dan ajarkan rasa malu untuk memerlihatkan alat kelaminnya kepada orang lain, selain orangtua ataupun saudara kandungnya. Ibu bisa mengajarkan rasa malu ini dengan tidak memandikan atau mengganti baju anaknya di tempat umum yang bisa dilihat orang banyak. Dengan begitu sejak dini anak akan belajar untuk mengenali tindakan yang salah jika ada orang lain meminta mereka untuk memerlihatkan atau memegang alat kelaminnya yang merupakan tahap awal dari pelecehan seksual.

Saat anak berusia empat atau lima tahun, biasanya mulai timbul pertanyaan dari anak mengenai asal muasal bayi. Sebaiknya orangtua menerangkan hal ini dengan jelas agar anak paham. Menurut theasianparent,com, meskipun anak belum mengerti detail dari alat reproduksi, tapi orangtua bisa menjawabnya dengan sederhana sesuai dengan usia mereka bahwa seorang ibu memiliki rahim di dalam perutnya dan di dalam rahim itulah bayi hidup dan membesar hingga akhirnya siap untuk dilahirkan ke dunia. Dengan begitu, sejak kecil anak mengerti bahwa seorang bayi bisa hadir karena ayah dan ibunya.

Usia 6-9 Tahun

Pada usia ini, orangtua sudah bisa mulai bisa memberikan pendidikan seks dasar pada anak. Berikan pemahaman bahwa orangtua melakukan hubungan seks untuk menunjukkan kasih sayangnya dan itu harus dilakukan oleh laki-laki dan perempuan yang sudah dewasa dan menikah. Anak-anak di usia ini biasanya mulai memerlihatkan ketertarikan mereka terhadap seks, yang tentu saja akan berbeda pada tiap anak. Untuk itulah dibutuhkan kejelian orangtua untu memerhatikan sikap anaknya agar mereka tidak merasa terpojokkan, malu, atau bahkan menjadi terlalu liar dalam menyikapinya pendidikan seks yang diberikan.

Pelecehan seksual rentan dilakukan terhadap anak-anak di usia ini. Untuk itu, anak sudah mulai bisa dijelaskan mengenai pemerkosaan atau pemaksaan dalam hubungan seks. Jelaskan pada mereka kalau itu perbuatan salah dan jangan takut untuk menceritakannya pada orangtua atau orang lain yang dipercayainya. Orangtua juga bisa menjelaskan mengenai jenis-jenis pelecehan seksual, seperti memegang dan meraba alat kelamin, mencium atau memeluk paksa, atau bahkan pelecehan seksual dengan kata-kata. Tekankan pemahaman pada anak bahwa kegiatan yang berhubungan dengan alat kelaminnya hanya boleh dilakukan saat anak sudah dewasa dan menikah, seperti orangtuanya. Dengan begitu anak akan paham dan bisa membela diri saat ada orang dewasa yang mencoba melecehkannya.

Usia 9-12 Tahun

Inilah masa di mana anak mulai memasuki masa puber. Untuk perempuan ditandai dengan menstruasi dan laki-laki dengan ‘mimpi basah’. Jangan ragu untuk membicarakan masalah ini kepada anak dengan menanyakan apa yang mereka rasakan dan bagaimana cara menyikapinya. Saat ini anak sudah semakin siap untuk membicarakan mengenai seks. Dengan semakin canggihnya teknologi dan semakin akrabnya anak dengan gadget, bukan tidak mungkin anak mulai mendapatkan terpaan informasi mengenai seks dari mana saja. Di sinilah peran orangtua sebagai penyaring sangat penting dilakukan. Perlakukan anak seperti teman sehingga mereka tidak segan untuk bertanya seputar seks yang tidak mereka mengerti kepada orangtua mereka sendiri, bukan pada orang lain. Dengan semakin terbukanya orangtua menjelaskan mengenai seks pada anak, maka pemahaman anak akan semakin luas dan mengerti saat ada orang yang melecehkannya.(ew)