Mengembangkan UKM Melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi

0
38

Oleh : Li Partic

Surabaya (25/07/16) – Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA) dan Indonesian Women IT Awareness (IWITA) mengadakan sosialisasi SEREMPAK dalam bentuk roadshow di Hotel Mercure Surabaya. Roadshow ini adalah kali kedua diadakan setelah roadshow Makassar. Tema roadshow kali ini adalah “Menjaring UKM dengan Serempak”.

Acara ini diawali dengan pelantunan lagu Indonesia Raya oleh semua peserta dan penampilan Tari Remo khas Jawa Timur oleh siswi-siswi SMP Muhammadiyah 3 Surabaya. Awalnya saya heran, kok mereka memakai make up kumis dan jenggot tipis? Akhirnya saya paham, bahwa ini merupakan simbol kesetaraan gender, sesuai misi yang diusung KPPPA, bahwa perempuan juga berhak berdaya.

Dalam acara yang dikemas dalam talkshow ini, hadir tiga pembicara: Ratna Susianawati (Asisten Deputi Kesetaraan Gender Bidang Infrastuktur dan Lingkungan KPPPA); Sry Rahayu (Pemilik PT Panca Arnys), dan Ina A. Murwani (Head of Marketing Bina Nusantara Business School Jakarta) dan dimoderatori oleh Hadiatul Hikmah.

 

Serempak1

 

Ratna Susianawati menyatakan alasan mengapa talkshow kedua diadakan di Surabaya. Hal itu karena UKM terbanyak di Indonesia terdapat di Jawa Timur. Tak heran selain bloggers, ada juga undangan dari organisasi perempuan dan komunitas pengusaha wanita IWAPI yang menghadiri acara.

Pengguna internet di Indonesia hampir separuhnya adalah perempuan. Oleh karena itu, perempuan harus melek Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan memanfaatkannya secara positif, mengingat teknologi ini memungkinkan terjadinya aktivitas yang merugikan karena akses yang tanpa batas. Pelaku UKM bisa memanfaatkan TIK secara positif dalam membesarkan usahanya.

Sry Rahayu, kemudian melanjutkan talkshow mengenai pengembangan usahanya dengan memanfaatkan teknologi informasi. Wanita yang akrab dipanggil Ayu ini, awalnya memanfaatkan internet untuk kepentingan internal. Misalnya bagaimana cara mencari SDM dan koordinasi antar cabang.

Ayu merupakan distributor yang memasok barang ke hipermarket-hipermarket (swalayan besar). Beliau sempat kaget bahwa segala transaksi dengan hipermarket dilakukan secara online, sehingga hal ini memacunya untuk belajar lebih.

Akhirnya, Ayu juga memanfaatkan TIK sebagai media promosi dan menjaring relasi. Selain manfaat, ternyata beliau juga menemui hambatan. Kadang karyawan atau mitra bisnisnya kurang menguasai TIK, sehingga harus dilatih atau dikomunikasikan lebih dulu agar aktifitas bisnisnya lancar dengan penggunaan TIK.

Suasana semakin bersemangat ketika Ina A. Murwani berbagi tips branding dan marketing. Saya yang pelaku UKM juga tertarik masalah topik ini, terlebih lagi para peserta terbahak-bahak ketika Ina Murwani mengajak peserta tebak-tebakan pendapat tentang merek. Ina menggunakan pendekatan perbandingan merek dagang Tukijem vs Mona.

Bagaimana kesan audiens saat mendengar merek Tukijem dan Mona, jika ternyata itu adalah usaha cleaning service? Tentu lebih percaya dengan Mona cleaning service yang kesannya bersih, menggunakan peralatan moderen dibanding merek Tukijem yang melakukan servisnya secara manual dengan tangan.

 

Serempak2-1

 

Oleh karena itu, pihak Tukijem mengganti namanya menjadi lebih ‘kekinian’, yaitu D’2QJAM cleaning service untuk memenangkan persaingan.

Perbandingan antara Tukijem vs Mona itu menjelaskan bahwa brand merupakan identitas. Nama, warna, dan simbol adalah hal yang menggambarkan kepribadian brand. Untuk menggunakan simbol gunakan yang menggambarkan merk, namun jangan gunakan hal-hal yang kontroversial.

Brand harus memiliki kepribadian, karena brand berhubungan dengan konsumen, jangan sampai gonta-ganti brand agar tidak membingungkan. Cara mudah mengaitkan brand dengan kepribadian adalah dengan mengaitkan brand dengan profil public figure. Misalnya, Julia Perez berkaitan dengan brand-brand seperti susu, minuman energi dan sejenisnya sesuai karakternya yang berani dan seksi; Alyssa Soebandono erat kaitannya dengan brand hijab atau hal-hal keibuan.

 

Serempak3

 

Saat ini menjalankan bisnis secara online semakin mudah. Branding untuk online shop pun ada tekniknya. Pertama tentukan brand kita. Jangan promosikan produk, tetapi promosikan brand karena orang lebih akan mengingat brand dulu sebelum isinya. Untuk menentukan brand kita harus tentukan dulu target pasar kita karena kita tidak bisa menjual ke semua orang.

Ceruk pasar tertentu akan memudahkan kita mencapai tujuan penjualan. Jika sudah menentukan brand, seragamkan semua ‘alat tempur’ kita, yaitu facebook, instagram, twitter, website dengan nama yang sama.

Pada kesempatan terakhir, Martha Simanjuntak selaku Ketua Pokja Serempak dan Founder IWITA, mengenalkan lebih jauh apa itu Serempak.id. Serempak.id adalah portal yang memiliki fasilitas diskusi seputar pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Tentu ini bukan sembarang portal, karena web portal ini diprakarsai oleh pemerintah, memiliki organisasi dengan visi dan misi yang jelas.

Serempak menyebarluaskan informasi program pengembangan dan pemberdayaan masyarakat dan perlindungan anak, pemercepat  pengembangan pemanfaatan teknologi untuk perempuan, wadah kolaborasi penggiat pengembangan sosial, serta meningkatkan akses dan partisipasi perempuan dan perlindungan anak secara efektif, efisien, kreatif, dan mudah dalam pengelolaan.

Ada beberapa kategori artikel yang sangat menarik di Serempak.id yaitu:

  • Kesehatan dan kecantikan
  • Hukum dan kebijakan
  • IPTEK
  • Ibu dan anak
  • Karir dan usaha
  • Wisata, budaya, dan kuliner

Mari, bergabung dengan Serempak. Tinggal ketikkan di address bar www.serempak.id kemudian klik Daftar di bagian atas website dan ikuti langkah-langkah selanjutnya.

 

 

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis serempak