Sudah pernah mendengar makanan dari ulat sagu? Makanan khas Papua ini ternyata lezat rasanya. Yuk, kenali di sini kelezatannya sekaligus memahami seluk-beluk masyarakat Papua.

Pernahkah kamu merasakan nikmatnya makan sagu bakar, berteman dengan sate ulat sagu dan gulai pucuk daun sagu? Rasa ulat sagu sangat gurih dan nikmat, kalau menggorengnya janganlah pakai minyak, karena dari ulat sagu itu sendiri akan keluar minyak. Lalu seperti apakah rasa pucuk daun sagu muda yang dimasak gulai? Rasanya luar biasa lezat, teksturnya renyah, mirip-mirip rebung, rasanya manis, apalagi berpadu dengan bumbu gulai yang kaya rempah dan gurihnya santan. Sedap sekali…

Saya lahir di Senggo-Citak Mitak pada suatu masa ketika Senggo adalah sebuah kecamatan kecil di pedalaman Kabupaten Merauke. Sekarang dengan adanya otonomi khusus dan pemekaran Provinsi Papua, Senggo adalah sebuah distrik yang merupakan bagian dari Kabupaten Mappi. Saya ingat masa kecil saya, di tempat lahir saya ini. Begitu bahagia, bersahabat dengan alam, saya sering ikut mama asuh saya untuk pergi pangkur sagu. Pangkur sagu adalah serangkaian proses pengolahan secara tradisional yang dilakukan untuk mendapatkan tepung sagu. Mulai dari pemilihan pohon sagu (Metroxylon sagu Rotbb) yang sudah cukup umur, menebangnya, memangkurnya dan meramas sampai menjemur untuk mendapatkan tepung sagu.

Sagu merupakan tanaman rumpun dan berkembang biak dengan membentuk anakan. Batang sagu mengandung pati (karbohidrat), dan biasanya dipanen setelah berumur 8-10 tahun. Namun jika tanaman dibudidayakan dengan baik, sagu dapat dipanen pada umur 6-7 tahun (Flach, 1980). Coba tanyakan apa makanan pokok orang Papua dan Maluku kepada anak SD. Pasti serentak mereka akan menjawab, sagu.  Sagu adalah makanan pokok orang Papua dan Maluku, itulah yang tercetak di dalam bahan ajar anak SD.

Saya ingat sekali kegembiraan masa kecil ketika ikut ke dusun sagu.  Perjalanan yang panjang dan melelahkan, rasa sakit di kaki akibat tertusuk duri sagu. Semuanya terbayar lunas ketika sampai ke dusun sagu, sensasi bermain air dari sungai dan rawa yang mengalir jernih. Sesekali sambil menangkap udang yang bersembunyi di balik daun-daun sagu yang telah gugur. Indahnya masa kecilku.

Tetapi tujuan utama saya ikut ke dusun sagu adalah mencari ulat sagu. Ulat sagu merupakan larva kumbang merah kelapa (Rhynchophorus ferrugenesis). Kumbang ini bertelur pada batang bagian pucuk pohon, bagian yang  tidak dimanfaatkan dan telah membusuk.

Layaknya anak kecil yang kegirangan menemukan mainan baru, begitu pula kegirangan saya mengumpulkan ulat sagu. Ulat sagu yang didapat kemudian dimasukan ke dalam wadah yang terbuat dari ayaman daun sagu. Agar ulat sagu tetap hidup dan segar hingga sampai di rumah, di dalam wadah juga di taruh sagu hasil panen. Bahagia sekali mendapatkan hasil “buruan” dan diberikan kepada mama untuk dimasak.

Rasa ulat sagu manis dan gurih, menjadi makanan favorit kami di rumah. Mama mengolahnya secara sederhana, ada yang digoreng tanpa minyak. Caranya adalah menaruh wajan di atas kompor, setelah itu ulat sagu dimasukkan ke dalam wajan, panas akan mengeluarkan minyak alami dari ulat sagu, tinggal kita tambahkan garam secukupnya. Rasanya luar biasa lezat.

Ada berbagai cara mengolah ulat sagu secara tradisional, misalnya  dengan membakarnya bersama sagu, menjadi isian sagu bakar. Favorit saya adalah sate ulat sagu, ulat sagu ditusuk pada lidi sagu kemudian dipanggang, mama sering menghidangkan ini untuk kami. Gulai daun pucuk sagu muda merupakan salah satu sayur terlezat yang pernah saya rasakan. Pucuk daun sagu yang masih muda diiris tipis-tipis, bumbunya bawang merah, bawah putih, jahe, daun salam, kunyit, cabai merah, garam secukupnya dan juga santan. Mama saya menjadi juara pertama  lomba memasak bahan pangan lokal tingkat kecamatan, ketika memasak menu sate ulat sagu, gulai daun pucuk sagu dan sagu bakar.

Kelezatan rasa dari ulat sagu jangan kau ragukan, soal kandungan gizinya jangan pula kau ragukan. Istalaksana (2013) dari Jurusan Teknologi Pertanian Universitas Negeri Papua, meneliti bahwa ulat sagu mengandung lemak dan protein, sehingga dapat dijadikan sumber lemak dan protein yang baik bagi bahan pangan. Selain itu, menurut hasil penelitian beberapa siswa asal Papua, ulat sagu mengandung protein tinggi. Lebih tinggi dari protein telur ayam, juga kaya lemak dan mineral. Para siswa tersebut adalah Agustina Padama, Darius Ohee, Mike Juneth Christin Toam, Richard Antonius Mahuze, dan Yulian Marco Awairaro. Hasil penelitian para siswa tersebut telah mengharumkan nama bangsa. Nama mereka tercatat sebagai pemenang medali perunggu dalam lomba karya ilmiah The International Conference of Young Scientists (ICYS) ke-19 tahun 2012 di Kampus Radboud University Nijmegen, Belanda (kidnesia.com).

Waktu berlalu dan saya pun hijrah mengikuti tugas orang tua ke Kota Merauke. Sebuah kota impian di masa kecil saya, yang hanya seorang anak pedalaman. Betapa bahagianya hidup di Merauke, ada toko-toko yang bertingkat, ada bakso sapi dan rusa, ada es krim, ada toko yang menjual beragam mainan anak-anak, ada pula taksi  (sebutan kami di Merauke untuk menyebut angkot/ mikrolet) yang di masa kecil saya belum ada di tanah kelahiran saya. Hidup saya berlanjut, menjadi anak kota. Bukan anak kota “banget sih”, karena saya tinggal di daerah Kelapa Lima. Suatu kawasan pinggiran kota Merauke, karena”kota”nya kota Merauke adalah sepanjang jalan Raya Mandala, tempat berdirinya pusat-pusat hiburan di kota Merauke.

Saya masih bebas bermain di alam ketika pindah ke Merauke, saya sering ikut tetangga mencari ikan di jembatan penyebrangan Kuprik Kelapa Lima, atau ikut keluar masuk kebun mencari sayur dan buah mangga. Namun saya masih merindukan masa-masa yang indah, masa-masa mencari ulat sagu di dusun sagu. Di Merauke saya tidak pernah makan ulat sagu yang dibeli di pasar, kalau mau makan ulat sagu harus menunggu kiriman dari tante di Bade (Kabupaten Mappi). Namun ulat sagunya sudah tidak segar, banyak yang terkadang harus dibuang karena busuk di perjalanan. Di Merauke saya tidak pernah menikmati kelezatan sayur pucuk sagu.

Dalam suatu  perbincangan santai antara saya dengan salah seorang profesor asal Indonesia Timur, saya ingat betul perkataan beliau: “Nona (panggilan kepada gadis muda khas Indonesia Timur), bapak sedih karena di setiap kesempatan dalam pemaparan ilmiah, kita dari Indonesia Timur selalu menghadapi masalah rawan pangan dan kekurangan gizi. Padahal kita rata-rata makan 3 kali sehari, dengan sumber protein ikan segar dari laut. Bapak ingin membantah namun data-data statistik mendukung hal tersebut”. Beliau berasal dari Ambon, Maluku. Maluku adalah daerah kepulauan, tidak heran begitu banyak ikan segar dari laut yang bisa didapatkan. Mengingatkan saya akan tanah leluhur saya, suatu tempat di mana marga saya Resubun berasal. Ngilngof sebuah desa kecil di Kei Maluku Tenggara, terkenal akan pantai pasir putihnya, yang dinobatkan sebagai pasir terhalus di dunia. Pantai Pasir Panjang (Ngur Bloat).

Pada bulan Oktober ini di Kei diadakan Festival Meti Kei, yang berlangsung dari tanggal tanggal 8-22 Oktober 2016. Salah satu acaranya adalah mengadakan, tarik tali tangkap ikan tradisional dengan menggunakan anyaman daun kelapa. Meti adalah surutnya air laut di pantai. Ketika meti, segala usia, tua muda, turun ke pantai dan mengumpulkan ikan serta siput (kerang). Orang terbiasa makan dari pagi sampai malam dengan lauk ikan segar dan enbal (makanan tradisional berbahan dasar singkong). Ibu-ibu membuat pondok wisata, menjual kopi, aneka gorengan, enbal dan aneka olahan ikan segar di pinggir Pantai Pasir Panjang. Ada hal yang menarik bagi saya, yaitu ketika ada keluarga yang pulang kampung ke Kei, pasti membawa pulang petatas/ ubi jalar (Ipomoea batatas) dari Merauke. Ukuran umbi yang besar dan rasa yang manis, membuat menu petatas goreng dari Merauke laris manis sebagai jualan di pondok wisata Pantai Pasir Panjang Kampung Ngilngof.

sagu-terakhir

Waan adalah nama sebuah distrik di Kabupaten Merauke, sebuah distrik  terjauh dari ibukota Kabupaten Merauke. Beberapa hari yang lalu ada postingan foto di Facebook, foto yang memperlihatkan hasil tangkapan nelayan, ikan kakap putih (Lates calcarifer) dari Pulau Kamoran (Pulau Kimahima dalam bahasa lokal) Distrik Waan. Nampak pada foto kurang lebih 16 ekor ikan, ukuran panjangnya kurang lebih 1 meter per ekor dengan berat saya taksir kurang lebih 15-20 kg per ekor. Menurut pemilik foto, ikan-ikan tersebut terancam dibuang setelah diambil gelembung perutnya (fishmaw), belum ada yang menampung daging ikannya. Medan yang berat dan mahalnya transportasi menjadi salah satu penyebabnya. Biaya dari Distrik Waan ke Kimaam rata-rata 7 juta sampai 10 juta rupiah sekali jalan. Besarnya biaya ini membuat hasil tangkapan masyarakat kampung tidak bisa dipasarkan ke kota, sehingga sering dibagi ke tetangga atau terpaksa dibuang. Pulau Kimaam merupakan pulau yang menghadap Lautan Arafura, sehingga tak heran banyak ikan dapat ditemukan di sini. Beberapa pejabat besar Merauke lahir di sini. Doktor Rafael Kapura, doktor pertama asli Merauke lulusan Universitas Indonesia juga lahir di sini. Ikan segar sebagai sumber protein yang mereka konsumsi sedari kecil, menjadi salah satu alasan lahirnya kaum cendekiawan Papua Selatan  dari sini.

Kampung Werigar Distrik Weriagar, Kabupaten Teluk Bintuni Papua Barat sebuah kampung yang ditempuh dengan perjalanan panjang nan melelahkan. Sebuah perjalanan di bulan Maret 2016, saya dari Bogor ke Manokwari naik pesawat, dari Manokwari ke ibukota Kabupaten Teluk Bintuni kurang lebih menempuh 10 jam perjalanan darat, dan dari ibukota kabupaten membutuhkan kurang lebih 2 jam perjalanan laut menggunakan speed boat.

Topografi wilayah dan spesies ikan endemik, sekilas mengingatkan saya akan rumah saya Merauke, juga Kota Agats ibukota Kabupaten Asmat. Rawa-rawa, rumah panggung dan jalan di atas papan, seperti di Asmat. Sepanjang perjalanan mata dimanjakan dengan hijaunya mangrove. Hutan mangrove terlengkap dan terbesar di Asia Tenggara ada di sini.

Kampung Weriagar, sebuah kampung yang mengajarkanku cinta tulus tanpa batas atas nama toleransi. Umat Islam dan Katolik, hidup dengan rukun. Dalam satu rumah, bisa terdapat dua agama di sana. Tidak ada permusuhan, tidak ada dengki, yang  hanya ada damai. Di rumah yang saya tinggali mulai dari pagi sampai malam selalu disuguhkan dengan menu ikan, mulai dari ikan asar (asap), ikan goreng dan ikan kuah.

Sungai Weriagar adalah sungai yang mengalir di daerah ini, sehingga menjadi nama distrik dan nama kampung. Bagi masyarakat, Sungai Weriagar adalah ibu yang memberi hidup bagi anak-anaknya.  Sebagai daerah pesisir, mata pencharian sebagian besar masyarakat adalah nelayan. Mereka menangkap udang, ikan dan kepiting. Udang menjadi tangkapan utama untuk dijual ke perusahaan LNG Tangguh, Tangguh adalah mega-proyek yang membangun kilang LNG (gas alam cair).

Jaring nelayan tidak saja menjaring udang, banyak ikan yang tersangkut di dalamnya. Misalnya ikan sembilan (Plotusus canius), ikan mulut tikus atau kami di Merauke menyebutnya ikan bandeng dan ikan bulanak (Valamugil cunnesius). Apabila beruntung nelayan juga mendapat ikan gulama (Nibea albiflora), harga gelembung ikan gulama sangat tinggi bisa mencapai 80 juta rupiah per kilogram. Gelembung ikan ini banyak diekspor ke Cina karena dipercaya berkhasiat obat. Hampir setiap hari nelayan mencari udang, harga udang di tingkat petani adalah 55 ribu rupiah per kg dijual ke pengepul. Pengepul menjual udang ke perusahaan seharga 60 ribu rupiah per kg. Ikan hasil tangkapan terkadang juga dibuang karena hampir setiap hari menjaring, masyarakat asli tidak ada yang mempunyai frezeer. Cara pengawetan sederhana adalah dengan diasap dan dibuat ikan asin. Ikan yang sudah diasapi apabila tidak dimakan terpaksa harus dibuang karena busuk.

Sebagai anak Papua, saya belum pernah pergi ke daerah pegunungan tengah Papua. Jalur udara menjadi satu-satunya akses transportasi ke daerah ini. Gubernur Papua saat ini, bapak Lukas Enembe berasal dari sini. Seorang kawan yang sedang studi jurusan teknik fisika di Rusia juga berasal dari daerah ini. Pada tanggal 25 Oktober 2016, seorang gadis muda mencatat sejarah yang membuat harum nama seluruh warga Papua. Dokter Grace Trilova Marta Yigibalom, tercatat sebagai dokter lulusan terbaik dengan IPK 3.64 dari Fakultas Kedokteran Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Walaupun jauh dari laut, kebutuhan gizi masyarakat pegunungan tengah terpenuhi dari ikan air tawar. Menurut saya saudara-saudara pegunungan tengah cerdas-cerdas karena mengkonsumsi hipere/petatas/ubi jalar sebagai makanan pokok mereka selain sagu. Kawasan pegunungan tengah yang bergunung-gunung, udara yang dingin membuat tanaman ubi jalar tumbuh subur di sini, selain itu sayur wortel (Dacus carota) menjadi santapan sehari-hari. Ubi jalar dan wotel ini segar, ditanam tanpa pemberian pupuk kimia. Masyarakat bertani dengan kearifan lokal mereka.

Berdasarkan prosentase rumah tangga sangat rawan pangan, angka tertinggi 37.2 persen terdapat di Provinsi Papua Barat, Provinsi Papua 22,6 persen, Maluku 18.2 persen, Maluku Utara 32.0 persen dan Nusa Tenggara Timur (NTT) 21,4 persen (Bappenas, 2011). Untuk masalah gizi kurang pada anak balita, Provinsi Papua 16.2 persen, Provinsi Papua Barat 26.5 persen, Provinsi Maluku 26.2 persen, Provinsi Maluku Utara 23.6 persen dan Provinsi NTT 29.4 persen (Bapenas, 2010). Anak dengan gizi kurang akan tumbuh lebih pendek  dan melahirkan bayi kecil. Kurang gizi menghambat perkembangan kognitif, nilai sekolah dan keberhasilan pendidikan. Kurang gizi pada usia di bawah tiga tahun menurunkan produktivitas di usia dewasa (Pemikiran Guru Besar IPB, 2012).

Saya sering menghadiri pemakaman tetangga di masa kecil, ibu mati melahirkan atau bayi yang baru lahir. Menurut desas desus yang beredar para ibu yang mati melahirkan maupun bayi yang meninggal adalah korban dari ilmu hitam. Namun setelah dewasa saya mulai merenung, kematian ibu dan anaknya bisa jadi disebabkan karena kekurangan gizi. Terkadang para ibu ini hanya makan nasi saja tanpa lauk dan sayur (nasi kosong) atau hanya makan sekali dalam sehari. Sungguh miris melihat pemandangan di masa kecil, ibu hamil terpaksa harus bekerja keras demi asap dapur tetap mengepul. Sang suami lebih banyak menghabiskan waktu mengkonsumsi minuman keras. Pukulan, tendangan dan makian dari suami, bahkan ketika si istri tengah hamil adalah hal yang biasa. Masa itu adalah masa ketika belum ada undang-undang perlindungan perempuan, belum ada jaminan hukum kepada korban kekerasan dalam rumah tangga.

Angka rawan pangan yang tinggi di Papua, mungkin tercatat pada masa dimana hewan buruan sulit  ditangkap (misalnya rusa dan babi hutan di Merauke). Atau masa-masa ketika hanya makan nasi, ikan sarden dan mie instan, belum musim ikan, udang dan kepiting. Namun ketika musimnya tiba harga seekor udang galah (Macrobrachium rosenbergii) tangkapan masyarakat hanya seribu rupiah per ekor. Udang galah ukurannya lebih besar daripada jenis udang lain, rasanya manis dan terkadang dijual dalam kondisi hidup oleh masyarakat asli kampung Sawa, distrik Sawa Erma Kabupaten Asmat. Melimpahnya hasil tangkapan warga, seperti ikan kaca (nama lokal), ikan duri (nama lokal), kepiting dan udang segar yang masih hidup, dijual kepada guru-guru pendatang. Namun terkadang semua tidak bisa dibeli oleh para guru karena terbatasnya alat penyimpanan ikan (frezeer). Bagaimana dengan nasib para penjual lokal ini, masyarakat asli suku Asmat? Apakah ada sebagian ikan yang mereka simpan untuk dimakan sendiri, sehingga kebutuhan gizi mereka sendiri terpenuhi? Ataukah semua harus dijual untuk membeli beras, gula, kopi dan keperluan rumah tangga lainnya.

Kami di Merauke terbiasa makan ikan segar hasil tangkapan mama-mama asal Mappi yang berdomisili di belrusak (belakang RSUD Merauke). Mama-mama ini adalah para wanita yang tangguh, mereka terbiasa mencari ikan, udang, kepiting, siput (kerang) dari sungai dan rawa di Merauke. Perlengkapan yang digunakan sangat sederhana, yaitu jaring parabola (jaring tradisional yang dibentuk seperti parabola berbahan dasar rotan dan benang khusus). Untuk mendapatkan tangkapannya, mama-mama ini biasa menyewa “taksi” untuk pergi ke sumber-sumber tangkapan yang di tuju. Seperti di Kampung Sawa yang hasil tangkapannya terkadang dijual dalam kondisi hidup, begitu pun mama-mama ini, hasil jualan mereka segar “fresh from the oven”. Jika berkunjung ke Merauke, datanglah ke pasar sore di pasar atas (Pasar Mopah Lama). Kamu akan disuguhi pemandangan segar beraneka hasil alam Merauke yang kaya. Seperti nelayan lokal di kampung Sawa Kabupaten Asmat, harapan saya semoga mama-mama Mappi di Merauke selalu menyisihkan hasil tangkapannya untuk makan mereka sendiri di rumah.

Ketika berkunjung ke Kampung Weriagar, sedih sekali saya melihat kondisi masyarakat di sana. Sumber air (untuk minum, mandi, untuk masak, mencuci dan sebagainya) mereka ambil dari Sungai Weriagar, sungai tersebut merupakan satu-satunya jalur transportasi yang menghubungkan mereka dengan “dunia luar”. Setiap pagi mulai dari jam 5 pagi sampai jam 9 pagi, air sungai akan naik (air pasang). Warga khususnya mama-mama dan anak gadis, akan sibuk mengisi persediaan air di rumah mereka. Rumah mereka adalah rumah panggung, ketika air pasang, mereka tinggal mengambil air dengan timba dan tali dari rumah masing-masing. Setelah air surut, rasa air sungai akan menjadi asin. Setiap jam 3 sore sampai jam 5 sore para mama dan  anak perempuan, akan turun ke sungai untuk mengisi persediaan air di rumah. Kaum perempuan memegang peranan penting disini, untuk mengambil sumber air keluarga, mencuci dan memasak di rumah serta melayani suami. Para perempuan tangguh ini, juga akan turun ke laut untuk menemani sang suami mencari udang sebagai mata pencharian mereka. Jangan heran kalau para perempuan di kampung ini dapat mengemudikan perahu bermesin.

Sanitasi yang buruk, diduga menjadi penyebab 25 balita terserang diare di kampung Werigar pada kunjungan saya yang lalu. Bagaimana tidak buruk? Coba bayangkan ketika air naik warga tinggal mengambil air dari rumah masing-masing, padahal di bawah rumah ada septic  tank, ada sampah rumah tangga yang dibuang, ada kotoran dari hewan peliharaan. Masyarakat tidak bisa membuat sumur air bersih di sana, karena ketika menggali dengan kedalaman 2-3 akan keluar minyak dan terapung di permukaan air. Ketika saya bertanya apa yang didapat dari kehadiran salah satu perusaahan minyak dan gas yang berada tidak jauh dari kampung kepada salah satu putra daerah, jawabnya seperti ini: “kami hanya dapat mengelus dada dan melihat kapal-kapal raksasa 2 kali sebulan menyedot hasil alam dari tanah kami”.

Merevolusi Revolusi Hijau adalah sebuah buku terbitan IPB (Institut Pertanian Bogor) Press tahun 2012, yang berisi pemikiran para guru besar IPB untuk “merevolusi” revolusi hijau di bidang pertanian. Salah satu tujuan dari penerbitan buku ini adalah agar dalam menghasilkan  pangan tidak lagi menggunakan cara lama dalam revolusi hijau, misalnya panca usaha tani (pengolahan tanah, penggunaan bibit unggul, pemupukan, irigasi dan pengolahan tanah). Karena setelah dievaluasi beberapa tahun setelah revolusi hijau, revolusi hijau yang sebenarnya merupakan sebuah misi mulia untuk memberi makan penduduk dunia malah membawa kerusakan lingkungan.

Penggunaan benih varietas unggul hasil rekaya genetika untuk produksi tinggi, menyebabkan hilangnya varietas tanaman lokal. Selain itu varietas unggul memerlukan input pupuk dan pestisida yang lebih banyak dibandingkan tanaman varietas lokal. Penggunaan pupuk yang berlebihan menyebabkan terjadinya water enrichment, yaitu pengkayaan badan air akibat pupuk yang terbawa ke badan air oleh air hujan. Akhirnya si cantik eceng gondok (Eichhornia crassipes) menginvasi badan air, sungai misalnya menjadi dangkal dan sempit, keseimbangan ekosistem terganggu, banyak ikan dan tumbuhan air lainnya yang mati. Penggunaan pestisida kimia, menyebabkan kerusakan lingkungan, resistensi hama dan penyakit terhadap pestida, pencemaran sumber air, kepunahan spesies hewan dan tumbuhan, keracunan serta kanker bagi petani dan konsumen (Pemikiran Guru Besar IPB, 2012).

Irigasi atau pengairan yang berlebihan juga menyebabkan eksploitasi  air tanah dalam secara besar-besaran, hal ini tentu saja menyebabkan terancamnya ketersediaan air tanah. Pengolahan tanah yang berlebihan dengan mesin-mesin pertanian juga dapat menyebabkan kerusakan tanah. Oleh karena itu dalam konservasi tanah dan air dikenal istilah minimum tillage (pengolahan tanah minimum) dan zero tillage (tanpa olah tanah). Artinya untuk tanah-tanah yang gembur, tidak perlu diolah dengan mesin-mesin, atau hanya perlu menggunakan peralatan sederhana, misalnya sekop dan pacul. Buku merevolusi revolusi hijau, berisi pemikiran para guru besar IPB, mencoba mencari solusi bagaimana pertanian yang aman dalam memproduksi pangan. Sebuah pertanian berkelanjutan, yang dalam upaya mencapai produksi tinggi tidak mengorbankan ligkungan, kesejahteraan petani dan keamanan konsumen.

Pencanangan lumbung pangan di Merauke bagi saya sama halnya revolusi hijau kedua. Intensifikasi dan ekstensifikasi lahan sawah di mana-mana. Mungkin saya banyak bermimpi dan berkhayal. Saya hanya tidak ingin Merauke rusak, sehingga hanya ada sampah dan plastik di sungai, tidak ada lagi ikan. Saya tidak ingin sagu, umbi-umbian lokal dan hilang di tanahnya sendiri dan harus diimpor dari luar Merauke. Merauke sebagai lumbung pangan beras, namun sagu dan umbi-umbian harus dibeli dari luar. Lalu bagaimanakah nasib sang pemilik hak ulayat yang selama ini masih “dimanjakan” dengan alam, karena semua tersedia dari alam. Mereka harus pergi dan mengadu kemana? Saya  tidak ingin mereka tersingkirkan di tanahnya sendiri atas nama pembangunan.

Charles Toto adalah seorang juru masak dari Travel Benneti Expedition Tours Jayapura, beliau adalah pendiri Komunitas Papua Jungle Chef (juru masak yang pekerjaannya memasak bagi tamu/turis yang berkunjung melihat obyek wisata di Papua). Beliau berasal dari Suku Tepra, Kampung Ormu Kabupaten Jayapura. Misinya adalah memperkenalkan makanan tradisional dari daerah-daerah di Papua hingga ke kancah internasional. Beliau membuat inovasi minuman jus pinang (Arecha catechu), pizza dari sagu dan keladi (Colocasia esculenta), memperkenalkan makanan tradisional saumening atau gedi bungkus dari Kampung Genyem Kabupaten Jayapura sampai ke kancah nasional. Sayur gedi bungkus ini adalah daun gedi (Abelmoschus manihot), kemudian diisi kelapa parut dan sayur lilin/tebu ikan/tebu telur (Saccharum edule) lalu dikukus. Beliau juga memperkenalkan sayur kurudu, salah satu kuliner khas Kampung Kurudu Kepulauan Yapen (Serui). Sayur kurudu berbahan daun genemo/melinjo (Gnetum gnemon), sayur paku/pakis (Diplazium esculentum), ikan tengiri asar (Scomberromo commersoni), bunga pepaya (Carica papaya) dan labu siam (Sechium edule) sebagai bahan tambahan, sagu menjadi pengental sayur ini, dan dimasak tanpa penyedap buatan karena ikan asar telah menjadi penyedap alami.

Saya berharap terus bermunculan Charles Toto yang lain dari tanah Papua, yang bangga akan sumber pangan lokal. Sagu dan umbi-umbian lokal dapat menjadi tuan di tanahnya sendiri, tidak kalah bersaing dengan bahan pangan introduksi. Saya harap setiap pemuda di Papua berjuang dengan cara sekolah setinggi-tingginya, serta menghapus stigma bahwa orang Papua adalah peminum. Para pemuda berlomba-lomba mengejar ilmu setinggi-tingginya sampai ke luar negri, tanpa miras (minuman keras) tentunya. Para pemuda Papua terus menciptakan inovasi baru untuk tanah tercinta Papua. Para pemuda berlomba-lomba meraih ilmu sebanyak-banyaknya sebagai bekal menjadi tuan pembangunan di negrinya sendiri. Tuan pembangunan yang berilmu, adil dan bijaksana dalam memimpin daerahnya.

Saya masih di sini di tanah rantau ini, menikmati sepotong sagu terakhir dari Kampung Weriagar, Distrik Teluk Bintuni Provinsi Papua Barat.(Mariana Lusia Resubun)