Hampir semua balita pernah mengalami tantrum. Merujuk pada Wikipedia, tantrum, lengkapnya tantrum temper, adalah ledakan emosi dalam bentuk menangis, menjerit, atau luapan emosi lainnya, yang biasanya terjadi pada anak-anak usia berusia 15 bulan hingga 4 tahun. Secara umum tantrum terjadi karena anak merasa dihalangi dalam mendapatkan apa yang mereka inginkan.

Tantrum dibagi menjadi dua jenis, tantrum frustasi dan tantrum manipulatif. Tantrum frustasi adalah kondisi ketika emosi anak meledak setelah berulang kali gagal saat mencoba melakukan sesuatu yang di luar kemampuannya, seperti meraih benda yang lebih tinggi, memasang mainan tertentu, dan sebagainya. Sementara, tantrum manipulatif lebih cenderung disebabkan karena keinginan anak untuk memiliki sesuatu tidak terwujudkan. Dengan cara marah, menangis, dan bersikap rewel, anak berusaha ‘mempengaruhi’ orang tua atau orang di sekitarnya untuk mewujudkan keinginannya.

Kedua jenis tantrum tersebut bisa terjadi di mana saja, baik ketika anak sedang sendiri maupun saat di keramaian. Tantrum yang meledak di keramaian inilah yang biasanya membuat orang tua seringkali kelabakan hingga akhirnya menyerah dan menuruti semua keinginan anak. Salah satu yang paling kelabakan saat anak tantrum, tentu saja, adalah ibu. Sebagian ibu muda yang belum berpengalaman sering stress menghadapi fase ini.

Walaupun tantrum merupakan bagian dari perkembangan anak, menghadapi anak yang rewel tentu bukan hal mudah. Apalagi jika ibu sedang dalam kondisi lelah atau sedang ‘terjebak’ di keramaian dan tidak siap mendapatkan pandangan dari orang-orang yang merasa terganggu karena ulah anak yang mengamuk.

Dari sekian banyak cara menghadapi anak tantrum, dua hal utama inilah yang perlu diingat. Pertama, yang harus dipahami oleh para ibu ketika buah hati mengalami tantrum adalah tetap tenang.  Yang perlu dilakukan ibu adalah memberi anaknya waktu untuk menuntaskan emosi sesaatnya. Jangan terpancing emosi atau menegur anak berlebihan karena tantrum bisa berubah menjadi ‘bencana’ ketika ibu terpancing emosinya.

Emosi ibu hanya akan memicu tindakan-tindakan keras yang tidak perlu, seperti mencubit atau membentak. Semakin ditanggapi dengan kemarahan, anak justru meningkatkan level kemarahannya hingga merasa ia layak untuk ditanggapi dan dikabulkan keinginannya. Sebaliknya, jika anak sudah mulai tenang, belaian dan pelukan bisa efektif meredakan gejolak emosi dan membuat anak merasa diperhatikan.

Selanjutnya, jangan jadikan tantrum atau rewelnya anak untuk mengubah komitmen yang sebelumnya telah disepakati bersama anak. Jangan sampai orang tua ‘mengalah’ dengan alasan klise “yang penting diam dulu” sehingga komitmen yang sebelumnya telah dijalankan mudah dipatahkan. Sekali anak dituruti karena tantrum, ia akan mencoba menggunakan cara yang sama untuk mendapatkan apa yang ia inginkan di kesempatan berikutnya. Dan, semakin sering dia berhasil mencoba, semakin dia terlatih.

Bukan hal mudah memang untuk tetap berkomitmen pada kesepakatan dengan anak ketika mereka sedang mengalami tantrum. Tapi, proses kita mengontrol emosi sembari memberi waktu agar emosi mereka mereda, lalu memberi pengertian secara perlahan, bisa jadi momen untuk memperkuat ikatan perasaan orang tua dan anak. Setiap proses perkembangan anak adalah hal yang tidak terulang, jangan sampai kejadian sesaat membuat orang tua kehilangan kendali dan menciptakan dampak buruk kepada anak. Mereka hanya butuh dipahami dan merasa diperhatikan, hanya belum mampu untuk mengungkapkan dengan cara yang tepat.(wf)