Menikmati Suasana Gunung di Tangkuban Parahu

0
38
Liburan Sabtu dan Minggu bisa kita manfaatkan untuk menikmati keindahan alam. Jika tak ingin jauh-jauh dari Jakarta, Bandung pilihannya.  Di Bandung, anda bisa melaju ke arah Lembang, Jawa Barat. Salah satu tempat yang menarik adalah Tangkuban Parahu.

20160124_084640
Tangkuban Parahu punya satu legenda yang sangat terkenal. Alkisah, Sangkuriang dan Dayang Sumbi, yang merupakan anak dan ibu, berjumpa kembali setelah lama terpisah. Saat berjumpa, Sangkuriang malah jatuh cinta kepada Dayang Sumbi. Namun Sangkuriang tak tahu bahwa perempuan yang dia cintai adalah ibu yang melahirkannya. Sangkuriang tetap keukeuh untuk mendapatkan cinta Dayang Sumbi.
 
Agar dapat menolak keinginan Sangkuriang, Dayang Sumbi memberikan syarat yang dirasa mustahil yang harus dipenuhi Sangkuriang, yaitu membuat danau dan perahu dalam satu malam. Di akhir cerita, Sangkuriang gagal memenuhi persyaratan karena ayam terburu berkokok tanda pagi tiba. Sangkuriang pun marah dan menendang perahu hingga terbalik. Perahu itulah yang kemudian dipercaya sebagai muasal gunung Tangkuban Parahu.
 20160124_084519
Kawah yang paling besar dinamai kawah Ratu. Kawah Ratu ini memiliki luas 12,36 hektar dan terletak di ketinggian 1.365 meter di atas permukaan laut. Kawasan ini memiliki dasar yang berwarna hijau akibat endapan mineral.
Udara di Tangkuban Parahu sangat dingin. Ketika datang pagi hari, kabut tebal kerapkali terlihat memenuhi kawasan Tangkuban Parahu. Suhu udara di pagi hari sekitar 15 hingga 17 derajat celcius. Sedangkan di malam suhu udara mencapai 5-2 derajat celsius. Sebaiknya membawa syal atau jaket untuk mengurangi rasa dingin. Namun jika tidak membawa, di sana juga banyak yang menjual jaket serta syal dan topi. Harganya bervariasi tergantung jenis bahan yang digunakan.
img_20160124_074724
 
Saat masuk, pengunjung retribusi sebesar Rp 30 ribu per orang. Jika tak ingin lelah berjalan kaki, naik kuda bisa menjadi pilihan untuk berkeliling kawasan itu. Biaya sewa kuda dipatok Rp 20 ribu. Jika tak tahan dingin, di puncak sudah banyak warung yang menyediakan sajian hangat. Harganya tak mahal: teh panas hanya Rp 5000, sedangkan beraneka gorengan dipatok Rp 1000. Murah dan mengenyangkan. Di hari libur, jumlah pengunjung bisa meningkat hingga 50 persen. (rab)