Travelling tidaklah hanya menikmati wisata suatu daerah, namun perlu juga menyelami sebuah kehidupan dari suatu daerah. Travelling yang unik menambah khasanah keindahan Indonesia. Saat menjelajah ke Lahat, Sumatera Selatan, penulis menemukan sebuah tradisi bekarang di Kikim Timur Lahat.

Bekarang, jika ditinjau dari segi arti dari Kamus Besar Bahasa Indonesia yaitu berarti menangkap. Maksudnya yaitu menangkap ikan. Saat bekarang, seluruh masyarakat tumpah ruah di sungai untuk menangkap ikan. Ada yang menangkap ikan dengan menggunakan tombak, ada juga yang menggunakan jaring ikan.

Menyusuri lebih jauh ke Sungai Kikim Timur, Lahat akhirnya bertemu jua saat pelaksanaan Bekarang di daerah ini. Sedikit berbincang dengan masyarakat di sana, saya akhirnya berhasil menguak asal usul pelaksanaan bekarang di Sungai Kikim Timur, Lahat. Ide Bekarang di Sungai Kikim Timur Lahat awalnya muncul dari anak muda yang bernama Syafik Bakti pada tahun 2006.

Proses Bekarang Ikan dengan jaring

Pada kesempatan itu, saya akhirnya bertemu jua dengan Syafik – panggilan akrabnya. Syafik menjelaskan bahwa bekarang bertujuan untuk menjalin silaturahmi sesama warga. Hikmah dalam silaturahmi yang diajarkan agama tentunya akan menambah rezeki. Kondisi lain ide untuk bekarang pun berhasil ditelusuri dari Syafik. “Kala itu ikan di Sungai Kikim Lahat sudah tidak ada, makanya diperlukan adanya bekarang,” tutur pria kelahiran tahun 1978.

Nah saat di Lahat tersebut, mengamati pelaksanaan bekarang, akhirnya didapatkan sebuah hasil tangkapan dari bekarang yaitu ada ikan mas, ikan nila, ikan kaloy (gurame), ikan sema, ikan cengka, ikan baung, ikan langli, ikan umbut, dan jenis ikan lainnya.

Ikan Baung Hasil Bekarang

Di antara hasil bekarang tersebut ikan yang enak dan mahal yaitu ikan sema, ikan cengka, dan ikan baung. Ikan yang dihasilkan pun bisa berton-ton. Ikan-ikan yang didapatkan dari hasil bekarang ada sebagian dijual, ada pula yang diberi secara cuma-cuma untuk masyarakat. Penjualan ikan dilakukan dengan sistem lelang. Hasil penjualan ikan dari bekarang pun uangnya kembali dibelikan benih ikan, juga untuk dana kas dusun untuk kegiatan sosial lainnya.

Bekarang ikan yang dilakukan dengan cara bergantian berenang oleh anak muda  untuk menggiring ikan dari hulu ke hilir. Saat di hilir ikan ditangkap, ada yang ditombak, ada pula dengan menggunakan jaring ikan. Namun, saat menggiring ikan di hulu dengan kedalaman sungai 3 meteran tersebut perlu berhati dengan ikan yang iseng menyelinap masuk ke celana dalam karena bisa membahayakan organ vital. Kejadian aneh pun terjadi saat seseorang anak muda seusia anak SMA mengikuti bekarang dan tidak berhati-hati dengan kondisi tersebut yang akhirnya harus diobati.

Warga Masyarakat menggiring ikan hasil bekarang

Kondisi bekarang yang unik ini semakin dipupuk akan terjalin suasana silaturahminya. Saat menangkap ikan saling bekerja sama masyarakat yang menangkap ikan. Pun saat pembagian ikan juga terjalin rasa harmonis warga masyarakat. Nah, saat pelelangan ikan pun terjalin suasana keakraban antara warga. Dan saat pelelangan ikan juga bisa diikuti oleh pendatang yang sengaja ingin membeli ikan tersebut.

Suasana bekarang memang rutin terjadi saat Idul fitri sehingga para warga yang merantau berkesempatan untuk ikut serta dan melihat tradisi bekarang ini. Saat ikan sudah terambil, peletakan benih ikan kembali biasanya saat sebulan kemudian. Nah, untuk menjaga kondisi benih ikan yang terletak di sungai ini sesuai dengan kondisinya. Para warga masyarakat bersama-sama menjaga agar ikan tersebut tidak diambil sebelum waktu bekarang dilaksanakan. Jika ada yang melanggar maka akan dikenakan hukuman dari tokoh masyarakat yang dituakan. Jenis hukuman bisa berupa denda sebesar jenis uang, bisa juga denda dihukum penjara.

Namun demikian, warga masyarakat sudah merasakan adanya rasa tempo salero sehingga tradisi bekarang di Kikim Timur Lahat ini terjalin dengan semestinya. Tentu saja saling menjaga kebersamaan dan silaturahmi agar terjalin utuh kesatuan warga.(sae)

1 COMMENT