Mudik Lebaran adalah ritual wajib, khususnya bagi umat Islam untuk merayakan Hari Kemenangan. Hari Kebahagiaan setelah melewati sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadhan. Dan, rasa suka cita bagi orang yang lulus setelah melewati segala hawa nafsu dan berbagai macam hal yang membatalkan puasa. Oleh sebab itu, merayakan momen fitrah (kesucian) akan lebih bermakna saat dirayakan bersama keluarga di kampung halaman. Saling bermaaf-maafan akan menjadi kenangan yang menguras air mata bagi orang yang benar-benar memahami betapa pentingnya “kembali kepada kesucian”.

Untuk mewujudkan momen berkumpul bersama keluarga, maka setiap orang berupaya secara maksimal agar bisa “mudik” (kembali ke udik atau kampung halaman) di Hari Raya Idul Fitri atau Hari Lebaran. Apapun dilakukan, terpenting bisa berkumpul bersama keluarga. Oleh karena itu, mudik Lebaran bukan hanya kebiasaan yang menjadi agenda umat Islam saja, tetapi telah menjadi agenda nasional. Karena, Pemerintah berupaya untuk mempersiapkan segala sesuatu dari masalah jalur mudik hingga persiapan infrastruktur agar ritual mudik menjadi hal yang aman, nyaman dan mengesankan.

Sama halnya dengan orang lain, saya pun tidak ketinggalan untuk merayakan mudik Lebaran bersama keluarga di kampung halaman, Kota Ngawi Jawa Timur. Perjalanan mudik yang menguras energi, konsentrasi dan persiapan kondisi tubuh yang prima. Ya, Mudik Lebaran dari Kota Denpasar Bali ke Kota Ngawi Jawa Timur dengan panjang lintasan kurang lebih 800 km sekali jalan. Bukan menggunakan kendaraan roda empat yang bisa terhindar dari sengatan sinar matahari, terpaan debu  jalanan dan derasnya hujan. Tetapi, mudik Lebaran dilakukan dengan menggunakan sepeda motor.

Kondisi jalanan yang banyak berlubang dan bergelombang pada lintasan hutan Baluran Situbondo Jawa Timur sepanjang 22 km membutuhkan konsentrasi yang tinggi saat malam hari. Saya harus beradu dengan para monster seperti truk tronton yang saling bersambung seperti pawai dan bus besar yang  bergerak dengan kecepatan tinggi. Sekali lengah, maka kecelakaan menjadi taruhannya karena lintasan sepanjang 22 km tersebut sungguh gelap gulita.

Bukan hanya perjalanan mudik Lebaran yang mendebarkan tetapi saya juga menyempatkan untuk singgah di beberapa spot wisata Indonesia yang instagrammable. Untuk menghilangkan rasa bosan selama perjalanan maka mampir di tempat wisata untuk menjejak sejarah perjuangan bangsa membuat perjalanan yang melelahkan menjadi mengesankan. Saya mampir untuk merenungi sejarah perjuangan bangsa Indonesia di jaman Hindia Belanda yaitu Tugu Peringatan “1000Km ANYER PANARUKAN”.

Tugu tersebut seperti membawa saya ke jaman Hindia Belanda, di mana Gubernur Jendral Herman Wilhem Daendels mempekerjakan orang pribumi untuk menjadi pekerja rodi di luar batas-batas kemanusiaan. Lintasan jalan dari Anyer Banten hingga ke Panarukan Situbondo Jawa Timur sepanjang 1000Km telah merenggut ribuan nyawa pekerja rodi secara sia-sia. Sebagai generasi bangsa maka perlu mengenal dan memahami bagaimana proses jalan Anyer hingga Panarukan terjadi. Mampirlah di tugu peringatan tersebut maka rasa untuk menjejak sejarah bangsa Indonesia tempo dulu akan tergugah dengan sendirinya. Apalagi, kondisi tugu peringatan yang kelihatan instagrammable akan mengundang  siapapun untuk singgah.

Menjejak sejarah di Tugu Peringatan 1000Km ANYER PANARUKAN di Panarukan, Situbondo Jawa Timur (Sumber: dokumen pribadi)

Perjalanan mudik Lebaran juga semakin mengesankan bukan hanya singgah di spot wisata sejarah tetapi merenungi kebesaran Tuhan Yang Maha Esa di Wisata Miniatur Kabah di Dringu Probolinggo Jawa Timur. Sebuah lokasi wisata yang menawarkan tempat yang unik bagi umat Islam yang hendak pergi haji ke tanah suci Makkah Al Mukarromah. Tempat wisata ini memang digunakan sebagai lokasi bimbingan haji. Tetapi, yang menarik adalah besarnya kabah yang persis seperti aslinya. Selain miniatur kabah yang menarik banyak orang, juga beberapa tempat yang seperti di tempat aslinya jug bisa anda temukan di sini. Dari lintasan Sofa-Marwah hingga padang Arofah bisa kita bikmati di tempat wisata tersebut. Dengan mengunjungi tempat wisata Miniatur Kabah bisa membuat anda tergugah untuk meningkatkan kadar relegius dan bertekad menunaikan ibadah haji sesegera mungkin.

Menambah religius saat berkunjung ke spot wisata Miniatur Kabah di Dringu, Probolinggo Jawa Timur (Sumber: dokumen pribadi)

Dengan mengunjungi tugu peringatan 1000Km ANYER PANARUKAN dan Miniatur Kabah membuat perjalanan mudik Lebaran semakin menyenangkan. Bukan sekedar mudik Lebaran yang membosankan tetapi menjejak sejarah dan menambah relegius mampu menghilangkan penat selama perjalanan. Apalagi, perjalanan mudik Lebaran yang  menghabiskan waktu kurang lebih 24 jam telah memberikan kenangan indah yang tidak terlupakan. Jadi, jika anda mudik Lebaran hendaknya tidak melewatkan pesona wisata Indonesia selama perjalanan. Karena, semakin kita menyelami keindahan Indonesia maka akan tumbuh rasa nasionalisme dalam diri anda.

Mudik Lebaran semakin indah,
Sambil menikmati wisata Indonesia,  
Rayakan kemenangan menuju fitrah,
Senyum bahagia bersama keluarga.  (cm)