Dunia literasi begitu luas ruang lingkup, jangkauan, dan pernak-perniknya. Kini di era millenial seperti sekarang, kegiatan tersebut paling mencolok terlihat dari besarnya antusias anak negeri yang menulis di berbagai platform digital.

Entah itu sekadar menuangkan hobi, mengasah kemampuan menulis, atau mencari penghasilan tambahan—semua dilakukan atas dasar alasan dan latar belakang yang berbeda. Kendati demikian, agaknya masih banyak perdebatan yang kadang terjadi di dunia maya tentang profesi seorang penulis hingga menimbulkan gesekan ke arah perdebatan.

Padahal, selama tujuan menulis adalah berbagi untuk kebaikan, menuangkan pokok ide, serta menyampaikan aspirasi secara benar lagi bertanggung jawab maka secara aturan agaknya tidak masalah.

“Justru selama kita masih bisa menulis, berarti otak kita bekerja. Kepala kita berpikir. Kita pun hidup.”

Selama dua tahun keberadaan serta pengalaman saya di bidang literasi, menulis merupakan cara berkomunikasi melalui kata-kata. Tepatnya, ketika perasaan dan otak bekerja sama menghasilkan ide untuk diolah ke dalam bentuk opini, puisi, artikel, cerpen, novelet, dan sebagainya.

Sebagai content writer, saya selalu meletakkan idealisme menulis dengan tetap memberikan konten yang original, bukan copy paste apalagi plagiat milik orang lain. Bukan pula hanya demi mengejar trafik dan membangun personal branding semata. Namun lebih kepada rasa syukur dan kewajiban saya sebagai manusia yang berakal.

Suatu susunan paragraf dikatakan antik apabila ia memiliki nilai luar dan substansi yang luhur serta mampu mengaduk pikiran pembacanya. Sebuah rangkaian kata dapat disebut secara ideal apabila bisa dipahami oleh penikmatnya. Minimal kita tahu, mereka pun tahu.

Bagi saya, menulis cukup simple, yakni menyederhakan pemikiran yang rumit agar mudah diserap dan dipahami oleh berbagai kalangan atau elemen masyarakat. Bukan masalah betapa beratnya pembahasan, melainkan penyampaiannya.

Lalu bagaimana pandangan saya tentang menulis, untuk menuangkan hobi atau mencari uang? Saya memilih dua-duanya. Tiada yang menghakimi bahwa mencari penghasilan dalam dunia kepenulisan dilarang—tidak ada.

  1. Menulis untuk menuangkan hobi yang sudah ditekuni sejak lama

    Saya adalah seorang ambivert yang tidak mudah terbuka kepada siapa pun untuk beberapa masalah. Namun juga tidak terlalu tertutup dengan seluruh sahabat maupun keluarga. Saya agak kesulitan ketika menyampaikan perihal perasaan yang sedang berkecamuk di dalam hati.

    Berawal dari sana, saya mulailah mengeluarkan uneg-uneg lewat menulis dan terus mempraktikannya hingga terbentuklah pekerjaan sebagai online writer. Mula-mula dari cerita sederhana yang saya rasakan lalu di-convert ke dalam cerpen, kemudian beralih ke artikel, essay, dan sejenisnya.

    Ternyata merangkai kata sejenis artikel dan prosa lebih cepat dibandingkan membuat cerpen atau novel. Namun, yang saya rasakan setelah menulis adalah kelegaan. Ya, saya merasa lebih plong dan nyaman ketika sebagian beban di kepala atau hati tercurahkan meski dengan bahasa yang ‘sedikit’ ambigu atau menelurkan banyak persepsi dari berbagai kalangan.

    Meskipun begitu, rasanya tidak masalah jika tercetus sudut pandang beragam yang keluar dari banyak orang. Selama menulis jadi hobi saya dalam merefleksikan dan aktualisasi diri, maka di sanalah kehidupan lebih bermakna.

    Alhamdulillah, saya masih berkesempatan melakukan hal-hal yang menyenangkan meski hanya melalui bait-bait huruf. Setidaknya pembaca tahu bahwa ada makna tersirat dalam setiap tulisan. Bahwa ada pesan yang ingin penulis tuangkan walau butuh waktu untuk mengerti.

    Banyak hobi menarik di luar bidang literasi. Akan tetapi, menulis termasuk kegemaran yang bergerak dengan jalannya sendiri–setidaknya begitulah bagi saya. Beberapa manfaat pun saya peroleh. Seperti; lebih dekat dengan pembaca, tawaran pekerjaan, rileksasi sejenak, dan memperbanyak kosa kata atau perbendaharaan kata.

    Jadi, setiap hobi yang positif pasti melahirkan buah kebaikan selama dilakukan dengan cara yang benar dan penuh percaya diri. Bukan hanya disimpan sendiri, tetapi dibagikan supaya orang lain pun dapat mengambil sederet hikmah juga pelajaran baru.

  2. Mencari Penghasilan atau Uang

    Berawal dari hobi, sejumlah penawaran datang dan kemudian saya melihat bagaimana mekanisme yang diinginkan oleh mereka (para klien). Ada beberapa yang saya tolak tentunya. Konten-konten klik bait atau hanya mengundang sensasi pasti akan masuk ke dalam daftar yang harus saya hindari.

    Dibayar mulai dari belasan, puluhan, ratusan, kini jutaan untuk per-section kontennya. Namun, saya tetap ingin fair, yakni menerapkan basic anggaran yang sesuai. Artinya harga yang saya tetapkan untuk ukuran perusahaan mikro/makro, personal blogger, dan lainnya tentu berbeda.

    Tujuannya adalah agar jasa ini bisa bermanfaat untuk seluruh kalangan. Biasanya untuk tarif yang mahal seorang klien memberikan rincian dengan metode SEO (Seacrh Engine Optimized) sangat mendetail. Maksudnya adalah saya harus bisa mengerti mulai dari teknik hingga eksekusinya untuk menghasilkan output yang berkualitas.

    Dari pengalaman yang diberikan oleh klien, saya justru menyadari bahwa literasi di era gadget tidak bisa dipisahkan oleh digital marketing, kepiawaian mengacak kata, riset, dan lain-lain.

    Dari yang tadinya menulis untuk hobi bisa memakan waktu satu jam, kini demi pekerjaan bisa berjam-jam bahkan berhari-hari. Tidak boleh sembarangan dan harus menjunjung tinggi profesionalisme seorang writer.

    Melihat rumit dan banyaknya tenaga serta waktu, maka saya rasa sangat pantas apabila menulis dalam konteks ini harus sepadan dengan bayaran yang diberikan.

    Oleh karena itu, tidak ada yang salah mencari uang atau nafkah di bidang literasi. Toh, selama itu karya kita sendiri ya why not?

Mungkin sebagian orang berpikir bahwa waktu adalah uang, tetapi bagi saya lebih dari itu. Waktu merupakan jerih payah atas karya yang kita ciptakan guna memenuhi panggilan jiwa dalam diri seorang manusia. (Anisa Kautsar Juniardy)