Pengukuran aspek ekonomi  dalam mengukur kesejahteraan masyarakat, dalam beberapa tahun terakhir ini dinilai memliki keterbatasan. Para pakar menilai, ukuran ekonomi seperti pertumbuhan ekonomi, dan penurunan kemiskinan dinilai belum cukup menggambarkan tingkat kesejahteraan yang sesungguhnya. Beberapa peneliti di PBB mulai menggunakan indikator kesejahteraan yang tidak hanya mengukur ukuran moneter, seperti kemakmuran material tetapi juga mulai mengarah kepada kondisi kesejahteraan subyektif dan kebahagiaan.

Badan Pusat Statistik (BPS) telah mengikuti perkembangan pemikiran internasional dalam melakukan pengukuran kesejahteraan subejktif. Sejak tahun 2012, BPS telah melaksanakan serangkaian kegiatan penelitian dan pengembangan instrumen pengukuran tingkat kebahagiaan. Secara umum, kesejahteraan subjektif mencakup konsep yang lebih luas, diantaranya adalai kondisi mental yang baik, serta reaksi terhadap berbagai masalah yang dihadapi. BPS memilih terminologi kebahagiaan dibandingkan kesehteraan, dnegan pertimbangan mengacu pada  penggunaan instrumen survey, diantaranya : 1. Evaluasi pada sepuluh domain kehidupan manusia yang esensi (kepuasan hidup personal dan sosial), 2. Perasaan atau kondisi emosional, dan 3. Makna hidup.

Berdasarkan ketiga instrumen tersebut, terdapat 19 indikator yang digunakan, sebagai berikut :

  1. Dimensi kepuasan hidup

Dimensi kepuasan hidup dibagi dua, yaitu kepuasan hidup personal dan kepuasan hidup sosial

  • Kepuasan hidup personal, meliputi :
  1. Pendidikan dan keterampilan; 2. Pekerjaan/usaha/kegiatan utama; 3. Pendapatan rumah tangga; 4. Kesehatan; dan 5. Kondisi ruman dan fasilitas rumah.
  • Kepuasan hidup sosial, meliputi :
  1. keharmonisan keluarga; 7 . Ketersediaan waktu luang; 8. Hubungan sosial; 9. Keadaan lingkungan; 10. Kondisi keamanan.
  2. Dimensi Perasaan, meliputi :
  3. Perasaan senang/riang/gembira; 2. Perasaan tidak khawatir/cemas; 3. Perasaan tidak tertekan.
  4. Dimensi Makna Hidup, meliputi :
  5. Kemandirian; 2. Penguasaan lingkungan; 3. Pengembangan diri; 4. Hubungan positif dengan orang lain; 5. Tujuan hidup; dan 6. Penerimaan diri.

Pengukuran indeks kebahagiaan dilakukan di 27 Provinsi di seluruh Indonesia, dengan membagi berdasarkan klasifikasi wilayah, jenis kelamin, status dalam rumah tangga, status eprkawinan, kelompok umur, tingkat pendiikan, jumlah anggota rumah tangga dan pendapatan rumah tangga.

Hasil Pengukuran Indeks Kebahagiaan di Indonesia, Jomblo dan Penduduk Maluku Utara Paling Bahagia

Berdasarkan hasil survey yang dilakukan oleh BPS pada tahun 2017, Provinsi dengan indeks kebahagiaan tertinggi adalah : 1. Maluku Utara (75,68), Maluku (73,77) dan Sulawesi Utara (73,69). Sedangkan tiga provinsi dengan indeks kebahagian terendah adalah : 1. Papua (67,52), Sumatera Utar (68,41) dan NTT (68,98). Bagaimana dengan rata-rata Nasional? Rata-rata tingkat kebahagiaan penduduk Indonesia pada tahun 2017 adalah sebesar 70,69. Sehingga dapat dikatakan penduduk Indonesia dalam kategori cukup bahagia. Bagaimana dengan penduduk di Pulau Jawa?Beberapa provinsi di Pulau Jawa ternayta memiliki indeks kebahagiaan lebih rendah dari rata-rata nasional. Provinsi Jawa Barat yang warganya dikenal kreatif, meraih indeks kebahagiaan 68,91, Provinsi DKI Jakarta (70,32), Provinsi Jawa Tengah (69,38), dan Provinsi Jawa Timur (69,98). Sedangkan Provinsi DI Yogyakarta memiliki angka di atas rata-rata nasional, yaitu 70,77.

Berdasarkan beberapa klasifikasi, ternyata warga yang belum menikah, dalam indeks kebagahiaan, lebih bahagia daripada warga yang menikah, cerai hidup maupun cerai mati. Sedangkan dari sisi usia, penduduk dengan usia di bawah 24 tahun lebih bahagia dibanding kelompo usia lainnya. Dari sisi pendidikan dan pendapatan, tingkat kebahagiaan meningkat seiring meningkatnya pendidikan dan pendapatan. Dan penduduk di perkotaan lebih bahagia daripada penduduk di perkotaan.

Keterkaitan indeks kebahagiaan dengan persentase kemiskinan dan Indeks Pembangunan Manusia

Dalam laporan yang disusun oleh BPS, disampaikan pula  analisis keterkaitan indeks kebahagiaan dengan persentase penduduk miskin. Beberapa daerah yang memiliki persentase penduduk miskin cukup besar, ternyata juga memiliki indeks kebahagiaan lebih rendah. Seperti Provinsi Papua yang memiliki indeks kebahagiaan terendah, ternyata persentase jumlah penduduk miskin paling tinggi. Begitu pula dengan Provinsi Maluku Utara yang ternyata memiliki persentase penduduk miskin cukup rendah yaitu kurang dari 10 %, memiliki indeks kebahagiaan tertinggi.

Bukan hanya persentase kemiskinan, angka Indeks Pembangunan Manusia atau IPM, juga menunjukkan kecenderungan yang mirip untuk beberapa daerah. Sebagai contoh Provinsi Papua, yang memiliki indeks kebahagiaan terendah, juga memiliki angka IPM terendah. Sedangkan Daerah Istimewa Yogyakarta, dengan IPM kedua setelah Jakarta, memiliki indeks kebahagiaan yang cukup tinggi.

Mengukur Kebahagiaan untuk Kehidupan Lebih Baik

Ukuran-ukuran yang digunakan sebagai parameter untuk melihat keberhasilan pembangunan tentunya menjadi ukuran dalam melakukan perbaikan. Secara rinci, setiap daerah memiliki kecenderungan berbeda. Seperti penduduk perkotaan secara umum lebih bahagia, tetapi memiliki kepuasan sosial lebih rendah dari penduduk di pedesaaan. Semua ukuran-ukuran ini menjadi indikator pemerintah dalam menyusun kebijakan dan program di daerahnya.

Bagaimana dengan indeks kebahagiaan di daerah anda, apakah penduduk di wilayah tempat tinggal anda bahagia? Melalui survey yang dilakukan oleh BPS ini, pemerintah dapat menyusun program yang tepat supaya semua warganya bahagia.

Sumber : Indeks Kebahagiaan 2017, Badan Pusat Statistik(snm)