“Terima kasih kepada sahabat Backpacker International karena telah menerima saya bergabung di group ini.  Bulan depan saya rencana akan mengunjungi Ho Chi Minh, Vietnam sebagai destinasi traveling saya kali ini.  Mohon petunjuk dan share pengalaman teman-teman yang sudah pernah berkunjung ke sana”.

Kalimat di atas adalah kalimat pertama yang saya posting di wall grup facebook “Backpacker International”. Tak butuh waktu lama untuk menunggu komentar teman-teman dalam mengarahkan saya mencapai destinasi tersebut.  Ada banyak komentar berupa saran bahkan ajakan untuk traveling bersama dengan catatan akan berjumpa di destinasi yang sama.  Ada juga yang sharingnya sangat detail termasuk rute dan obyek wisata yang wajib dikunjungi di kota Ho Chi Minh.

Sangat bersyukur bisa bergabung dengan Backpecker International, walau tak pernah tatap muka, tetapi rasa persaudaraan terjalin erat saat saling sapa melalui komentar di kolom status.  Seperti kemarin, melalui komunitas Backpecker International, aku dituntun dari satu langkah menuju langkah berikutnya sampai akhirnya tiba di tempat tujuan. Bahkan saat aku  tak berkabar, mereka pada sibuk bertanya, “eh… mbk Abby sdh di mana? Posisi skg di mana? Apa baik2 saja?”Akh… Indahnya berkomunitas….  (Makasih Sahabat Backpacker International)

Traveling ke Vietnam? Ke negara perang itu? Apa nggak salah pilih destinasi? Demikian ucapan teman-teman yang tidak hanya sekali dua kali tetapi berkali-kali dari orang yang berbeda sebelum saya benar-benar berangkat ke Vietnam bulan September kemarin.  Ucapan mereka tidak menyurutkan langkahku untuk tetap melancong ke negara yang dikenal sebagai negara perang dengan memilih kota Ho Chi Minh sebagai salah satu destinasi yang wajib saya kunjungi di Vietnam.

Sebelum itu, saya sempat ragu untuk melancong sendirian ke negara perang itu.  Vietnam adalah negara yang baru pertama kali ku kunjungi.  Saya benar-benar buta dari segala sudut tentang negara ini.  Hanya bermodal nekat dengan bahasa inggris patah tujuh ditambah bahasa bendera alias bahasa isyarat, saya berani melenggang kangkung sendirian yang lebih keren di sebut sebagai “Solo Traveling”.

Tan Son Nhat International Airport

Tan Son Nhat International Airport adalah bandara terbesar di Vietnam yang oleh kalangan traveler lebih dikenal dengan sebutan HCMC.  Alhamdulillah… saya telah tiba di destinasi tujuan. Assalamualaikum Vietnam….

Tiba di HCMC, yang pertama saya cari adalah wifi gratis. Biasanya setiap bandara punya fasilitas ini. Seperti pengalaman kemarin-kemarin di destinasi sebelumnya, tepatnya di Phuket Thailand, saya tak pernah membeli kuota internet untuk berkomunikasi dengan keluarga dan teman-teman. Hal pertama yang saya lakukan dalam ber-solo-traveling adalah berkabar pada orang di rumah. Mengirim foto dan posisi sedang ada dimana agar orang dirumah tidak khawatir. Saya pernah sekali teledor dalam berkirim kabar, akibatnya paspor 3 bulan di tahan sama bapak aji  (dibaca:ayahku).  Rayuan maut pun berkali-kali menyerang beliau, barulah bisa menebus pasporku kembali.

Tips (jika traveling dalam satu negara hanya berlangsung selama seminggu, tidak perlu beli sim card baru, cukup mengandalkan wifi yang banyak berceceran dimana-mana).

Keluar dari imigrasi, di sisi kanan baggage ada penjual sim card dengan harga yang cukup murah dibandingkan harga bagian depan airport yang bisa melonjak sampai 100 %. Saran saya jika berada di Vietnam lebih dari seminggu, beli kartunya di sini saja.  Jika anda merasa lapar yang tak bisa menahan lagi dan mengharuskan makan di area airport, jangan lupa bayarnya pakao USD saja sebab harga makanan di airport lebih murah menggunakan mata uang USD dari pada VND.

Jika destinasi yang di pilih di Distrik 1, dari airport jalan keluar sebelah kanan kita bisa memilih naik bus 152 tujuan Ben Thanh Market hanya dengan 6000 VND (dibaca: 6 Ribu Dong). Alternatif kedua bisa menggunakan Vinasun taxi. Jika pilih transportasi taxi, saya sarankan Vinasun sebab selain murah juga aman.

Tetiba di Bent Thanh Market, bisa memilih penginapan. Mulai dari yang mahal sampai paling murah ada di sekitar sini. Makanan halal juga banyak sekitar Bent Thanh karena banyak orang melayu yang berjualan di daerah ini.

Sekilas Tentang Kota Ho Chi Minh

Ibu kota Vietnam adalah Hanoi tetapi kota yang terpadat  dan terbesar adalah kota Ho Chi Minh yang dahulu di kenal dengan nama Saigon. Begitupun dengan industry yang berkembang di Vietnam adalah industry pengolahan bahan makanan, penggilingan padi, dan tekstil yang pusat industry utamanya ada di kota Ho Chi Minh.  Kebanyakan orang Vietnam juga menempuh jalur pendidikan universitasnya di Kota Ho Chi Minh dan Hanoi.

Penduduk kota Ho Chi Minh juga dihuni oleh suku Champa yang asalnya dari Kamboja.  Suku Champa yang bermigrasi ke Vietnam adalah mereka yang berhasil melarikan diri ke Vietnam pada saat pembantaian yang diorganisisr oleh rezim Khmer di Kamboja.  Mereka adalah kelompok yang paling teraniaya.

Saigon Trip Mekong River

Penduduk sungai Mekong 80% warga Vietnam dan 20% warga Kamboja.  Tapi rata-rata warga Kamboja yang tinggal di pulau ini, datang pagi dan pulang sore hari setelah urusan dagang selesai. Jadi mereka (warga Kamboja) datang hanya untuk berdagang/mencari nafkah di wilayah Vietnam.  Pulau ini di huni oleh suku Campa Kamboja, komunitas muslim Kamboja ini menjual aneka souvenir dan makan ringan. Seharian beriteraksi dengan orang Kamboja di wilayah Vietnam hanya dengan modal bahasa bendera (dibaca:bahasa isyarat) hehee….

Perjalanan dari Saigon/Kota Ho Chi Minh menuju sungai Mekong ditempuh dengan 2 jam perjalanan menggunakan mini bus. Melintasi beberapa kampung dan sawah ke My Tho. Sepanjang perjalanan ada yang menarik perhatian saya, kok ada kuburan di tengah sawah? Rupanya kuburan yang saya lihat itu adalah kuburan pribadi orang-orang Vietnam yang berkasta tinggi karena tidak semua sawah ada kuburannya.

Di tengah perjalanan mini bus berhenti untuk rehat sejenak di tempat rehat yang bernama “Rest Stop”, di sini ada tempat shopping murah untuk belanja oleh-oleh.  Saya bandingkan harga di sini dengan harga di Saigon agak jauh berbeda. Di sini harganya murah. Ada jual topi, baju, tas, dan beberapa pakaian khas Vietnam.

Mengendarai motor booth ke kawasan Bent Tre.  Di sisi kiri dan kanan bisa melihat pulau yang berbatasan dengan Laos, Kamboja, dan Myanmar.  Di pulau ini tersaji gula-gula coconut secara gratis dan melihat langsung proses pembuatan gula-gula tersebut oleh komunitas suku campa Kamboja. Ada banyak jualan kerajinan tangan terutama dari kayu dan batok kelapa. Saya tidak menyarankan membelinya disini karena agak mahal dibandingkan harga di Bent Than Market. Di pulau ini pula kita bakal berinteraksi dengan seekor ular phyton, kita bisa menggendongnya sambil selfie dengan ularnya.  Benar-benar menguji adrenalin.  Tapi saya tidak berani, saya hanya menatapnya, si ular phyton balik menatapku dan itu membuatku lari terbirit-birit.

Perjalanan dilanjutkan menuju pasar tradisional di pulau itu.  Dalam perjalanan, kita bisa melihat anak-anak sekolah dengan pakaian tradisionalnya.  Bajunya panjang seperti baju kurung tetapi sempit melilit badannya dan bagian perut sedikit agak terbuka. Mereka juga memakai topi dari daun kelapa sawit. Mereka tersenyum ramah.

Kini telah sampai ke pulau Unicon, di tempat ini kita bisa menikmati sajian madu asli langsung dari sarang lebahnya.  Lalu kemudian menikmati aneka masakan halal asli khas Vietnam.  Di sini kami makan siang.  Sebelum melanjutkan perjalanan, kami sholat dhuhur lebih dahulu bahkan sempat terlelap sekitar 15 menit di ayunan pulau Unicon samping mushollah.

Kembali menyusuri anak sungai Mekong dengan menggunakan sampan/perahu kecil untuk balik ke Saigon, tapi sebelumnya kami singgah dulu menikmati sajian aneka buah yang lagi-lagi grentongan dan di hibur oleh peyanyi lokal daerah.  Anehnya lagi, salah satu lagu yang dibawakan oleh penyanyi ini adalah lagu yang pernah populer di seluruh wilayah indonesia. Ada juga beberapa lagu Vietnam dengan lirik indonesia.  Mungkin lagu yang mereka sajikan di sesuaikan dengan negara asal tamu yang datang.

Satu hari menjelajah sungai Mekong dengan mengunjungi 4 pulau.  Lanjut dengan kereta kuda yang support wifi dengan password “kudakuhandsome” (hihihii…abaikan, just kidding). Akhirnya selesai juga trip sungai mekong. Saatnya kembali ke Saigon (Kota Ho Chi Minh).(sm)