Jakarta adalah kota metropolitan yang menjadi pusat budaya dari seluruh negeri bahkan juga dari luar negeri.  Salah satu lokasi jendela budaya Indonesia ada di daerah Kota Tua. Beberapa museum berdiri di wilayah itu yang nota bene merupakan sebuah daerah yang memiliki kisah sejarahnya sendiri.

Namun kali ini kita akan membahas sebuah museum yang berada di pinggir lapangan Fatahillah atau biasa disebut lapangan kota tua, yang setiap akhir pekan menjadi salah satu tujuan wisata masyarakat Jakarta. Di sana pengunjung memadati lapangan dengan melakukan berbagai aktivitas seperti bersepeda santai berkumpul ataupun mengabadikan situasi dan bangunan-bangunan kuno di sekitarnya.

Salah satu bangunan kuno itu merupakan museum yang menyimpan koleksi wayang dari seluruh penjuru Indonesia. Berbagai jenis wayang dan peralatan pendukung pertunjukkan wayang seperti gamelan, dan blencong (lampu untuk penerangan layar pada pertunjukkan wayang kulit) menjadi koleksi utama di Museum Wayang.

Koleksi Museum Wayang

Koleksi yang dipamerkan di Museum Wayang adalah asli dan telah berusia puluhan tahun bahkan ada yang berusia ratusan tahun. Diantaranya adalah wayang kulit, wayang golek, wayang beber, wayang wahyu, wayang sasak, wayang potehi, wayang revolusi, wayang suket, berbagai wayang serta boneka dari manca negara dan wayang Kyai Intan sebagai master piece. Hingga kini koleksi di Museum wayang telah berjumlah lebih dari 4000 buah wayang.

Umumnya boneka koleksi museum ini yang berasal dari mancanegara merupakan boneka yang berasal dari Eropa seeprti boneka Guiginol yang berasal dari Perancis. Meskipun ada beberapa boneka yang berasal dari negara-negara Asia seperti boneka penari dari India, boneka dari Tiongkok, Thailand maupun Vietnam.

Memasuki gedung Museum Wayang kita disambut oleh sepasang wayang golek raksasa, Gatot Kaca dan Pergiwa. Selain dikualifikasikan berdasarkan jenis dan asalnya, wayang-wayang tersebut juga dipamerkan berdasarkan kisahnya. Kita dapat melihat dua buah wayang kulit yang dipajang berhadapan, gambaran adegan Raden Arjuna yang berhadapan dengan Karna dalam sebuah pertarungan kesaktian dan keahlian memanah. Karna yang mengincar nyawa Arjuna menggunakan panah Nagasatra yang sakti melawan panah Pasupati milik Arjuna. Pertempuran tersebut akhirnya dimenangkan oleh Arjuna, namun kisah ini adalah sebuah tragedi karena keduanya merupakan saudara kandung satu ibu, Dewi Kunti.

Selain kisah yang berasal dari kitab Mahabarata ada pula adegan yang mengisahkan tentang pendekar asal Betawi Si Pitung. Wayang golek yang berbentuk menyerupai tokoh-tokoh dalam kisah Si Pitung di pajang secara berhadapan-hadapan. Tokoh dari pihak Betawi maupun dari pihak Belanda, keduanya mengenakan kostum yang sesuai pada zamannya.

Sungguh mengasyikan menikmati aneka bentuk dan kisah dibalik wayang, selain menghibur kita juga mendapat wawasan tentang dunia wayang di Indonesia dan manca negara. Karena bukan hanya kita dapat mengetahui ada wayang raksasa yang berasal dari Batak berusia ratusan tahun untuk upacara penyambutan tamu namun juga ada wayang untuk upacara kematian yang bentuknya jauh berbeda.

Sejarah Museum Wayang

Awalnya gedung yang sekarang dikenal sebagai museum wayang bernama De Oude Hollandsche Kerk (“Gereja Lama Belanda”) yang didirikan pertama kali pada tahun 1640. Kemudian diperbaiki pada tahun 1732 dan berganti nama menjadi De Nieuwe Hollandse Kerk (Gereja Baru Belanda). Namun pada tahun 1808 gedung tersebut hancur akibat gempa, dan di atas reruntuhan itulah dibangun gedung museum wayang dan diresmikan pemakaiannya sebagai museum pada 13 Agustus 1975.

Gedung Museum Wayang nampak unik karena meski telah mengalami berkali-keli pemugaran namaun masih nampak beberapa bagian gereja lama yang membuat penampakan gedung ini menjadi unik dan menarik.

Kegiatan di Museum Wayang

Di sini kita dapat menyaksikan film animasi wayang 3D dan pengunjjung dapat membuat wayang suket yang dibimbing oleh instruktur berpengalaman sehingga dapat menghasilkan sebuah tokoh wayang dari pelepah kelapa dalam waktu singkat,

Setiap akhir pekan, Sabtu dan Minggu digelar pertunjukan wayang kulit, wayanag golek, wayang orang dan wayang beber modern yang dipentaskan secara bergantian sesuai jadwal bagi pengunjung.

Sebagai jendela budaya nusantara Museum Wayang menggelar berbagai kegiatan untuk memperkenalkan wayang Indonesia kepada Khalayak. Sehingga tidak lagi ada jarak antara pelestarian budaya yang dilakukan oleh museum dengan masyarakat.Jika budaya telah dekat di hati masyarakat maka lekangsungannya pun akan terpelihara dengan baik.(em)