Saat ini, media sosial bukan lagi hanya milik orang dewasa. Tapi sudah mulai banyak remaja, atau bahkan anak-anak, yang memiliki akun media sosial. Apa yang harus dilakukan orangtua untuk menyikapinya?

anak-dan-media-sosial-2

Ikut-Ikutan Teman

Anak-anak zaman sekarang sudah tidak bisa dipisahkan dengan gadget. Bukan hanya untuk bermain games, sekarang fungsi gadget sudah makin meluas untuk digunakan sebagai ajang eksistensi diri melalui media sosial. Facebook, Twitter, dan Instagram merupakan beberapa akun media sosial yang digunakan oleh banyak orang, bahkan anak-anak dan remaja, Meskipun sebagian besar dari media sosial menetapkan aturan batas usia tertentu, umunya minimal 13 tahun, untuk mendaftar dan membuat akun, tapi pemalsuan usia sangat mudah untuk dilakukan.

Sebenarnya mengapa anak sangat tertarik untuk memiliki akun media sosial? Berbeda dengan orang dewasa, keinginan anak-anak untuk membuat akun media sosial biasanya dikarenakan pressure peer group atau tekanan dari teman-teman sebayanya. Kalau teman sepermainannya memiliki akun media sosial, maka anak juga ingin memilikinya. Psikolog Roslina Verauli menjelaskan, “Perasaan kompetisi pada anak masih tinggi. Mereka ingin punya pencapaian, tidak mau ketinggalan dengan temannya. Ingin punya banyak teman. Mengumpulkan follower sebanyak-banyaknya.”

Pada dasarnya, media sosial tidaklah selalu memberikan dampak negatif. Dengan memiliki akun Facebook atau Twitter misalnya, anak akan jauh lebih mudah mendapatkan informasi tentang apapun secara cepat. Selain itu, mereka juga bisa meningkatkan kreativitas dengan berbagi ide atau seni dengan orang lain yang memiliki minat sama. Tapi jika digunakan oleh anak yang usianya masih sangat muda, bukan tidak mungkin media sosial justru memberikan dampak buruk bagi mereka.

Menurut Monica Sulistiawati, M.Psi, psikolog dari Personal Growth, diantara sekian banyak media sosial, Facebook adalah yang paling perlu diwaspadai oleh para orangtua. Melalui Facebook, seseorang dapat saling bertukar segala informasi yang tidak jarang isinya adalah berita-berita yang belum pantas dibaca anak-anak, misalnya video yang berisi adegan kekerasan atau khusus untuk orang dewasa. Selain itu, tidak jarang juga penyalahgunaan identitas si pemilik akun digunakan untuk kasus-kasus kejahatan, seperti penipuan dan penculikan.

Data menyebutkan, hampir 90% remaja memajang foto mereka dengan nama asli. Sebagian besar remaja juga menyebutkan tanggal lahir, minat, nama sekolah dan kota tempat mereka tinggal. Hal inilah yang membuat mereka bisa menjadi target untuk oknum yang kemungkinan memanfaatkan hal tersebut. Sekarang ini sudah mulai banyak kasus penculikan anak dan remaja yang diawali dengan perkenalan di media sosial. Dari kejadian ini saja sudah sepantasnya orangtua mulai khawatir dengan penggunaan media sosial pada anak.

anak-dan-media-sosial

Terus Pantau Aktivitas Anak

Sayangnya, tidak semua orangtua paham dengan dampak negatif yang bisa ditimbulkan oleh akun media sosial yang dimiliki anak. Monica menjelaskan, orangtua yang mengizinkan anak-anaknya memiliki akun media sosial lebih karena kurangnya pemahaman mereka mengenai dampak yang akan ditimbulkan terhadap kehidupan sosial anak-anaknya. Selain itu, orangtua menganggap media sosial hanya sebagai sarana untuk memperluas pertemanan. Padahal banyak dampak negatif dan tindakan kriminal yang mengikutinya.

Sebelum memutuskan anak pantas atau tidak untuk memiliki akun media sosial, sebaiknya orangtua memertimbangkan terlebih dahulu tujuan utama anak ingin membuatnya. Jika hanya untuk bermain games yang membutuhkan akun media sosial, anak bisa menggunakan akun milik orangtua dan tidak perlu membuatkan khusus untuknya. Atau jika anak hanya ingin membagikan foto-foto atau hasil kaya buatannya, orangtua bisa menganjurkan anak untuk membuat blog, dibanding akun media sosial. Dari segi keamanan, blog lebih baik karena tidak berhubungan langsung dengan orang luar yang tidak dikenal.

Jika anak sudah terlanjur memiliki akun media sosial, jangan lengah untuk terus mengawasi segala aktifitasnya di dunia maya. Tanyakan password setiap media sosial yang dimilikinya sehingga orangtua bisa tahu apa saja yang dilakukan oleh anak. Selalu tegaskan pada anak untuk tidak berhubungan dengan orang asing ataupun orang yang jauh lebih dewasa dari mereka. Minta anak untuk bertanya terlebih dahulu pada orangtua sebelum mulai berinteraksi dengan orang asing. Terakhir, batasi waktu mereka berinteraksi di dunia maya, baik dari handphone atau komputer. Luangkan waktu bersama anak agar mereka tidak terlalu fokus dengan akun media sosialnya.(ew)