Salah satu penyakit yang mengancam adalah kanker serviks. Di Indonesia, kanker serviks merupakan salah satu penyakit pembunuh perempuan yang tertinggi di Indonesia.  

Kanker serviks disebabkan oleh virus Human Papilloma (HPV) tipe resiko tinggi. Infeksi HPV tipe resiko tinggi dalam jangka waktu lama menyebabkan materi genetik HPV menyusup ke dalam sel serviks menyebabkan perubahan sifat sel menjadi kanker. Proses dari infeksi menjadi kanker membutuhkan waktu antara 15-20 tahun.  
 
Saya berasal dari keluarga yang memiliki riwayat kanker serviks. Nenek dan mama saya meninggal karena kanker serviks. Nenek saya yang pertama kali mengalami kanker serviks. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 2009, Mama saya mengabarkan bahwa beliau pun telah mengalami kanker serviks. Mama mengetahui ada benjolan di rahimnya setelah menjalani pap smear di Ambon pada tahun 2009. Hasil pap smear menyebutkan ada benjolan dan dikuatirkan menjadi kanker. Mama kemudian ke Surabaya untuk melakukan pemeriksaan LEEP (Loop Electrosugical Excision Procedure), teknik pembedahan dengan membunuh sel kanker serviks stadium 2B.  
 
Dikutip dari cegahkankerserviks.org, setiap tahunnya, sebanyak 20.928 perempuan Indonesia terdiagnosis kanker serviks. Sebanyak 9.498 di antaranya meninggal karena kanker serviks. Sesuatu yang sangat mengerikan. Berdasarkan data GLOBOCAN tahun 2012, lebih dari 1 perempuan di Indonesia meninggal setiap jam karena kanker serviks dan terdapat 58 kasus baru yang dilaporkan setiap harinya.
 
Data kanker serviks dari rumah sakit di Indonesia (2009-2016) terbanyak, dilaporkan dari RS Dr. Cipto Mangunkusumo, Jakarta, yaitu sebanyak 4.072 kasus, diikuti oleh RS dr. Soetomo Surabaya 2.596 kasus. Berdasarkan Data nasional (2009-2016), menunjukkan bahwa mayoritas penderita kasus kanker serviks adalah perempuan dewasa usia 35-55 tahun, diikuti usia 56-64 tahun, usia >65 tahun, dan dewasa muda usia 18-35 tahun, berturut-turut sebanyak 7013, 2718, 1105, dan 453 kasus. Namun, dilaporkan juga adanya 33 kasus kanker serviks pada kelompok remaja usia 0-17 tahun.
 
Menurut kumparan.com, gejala – gejala kanker serviks yang perlu diwaspadai, antara lain :
  • Terjadi pendarahan di bagian vagina bukan pada siklus atau masa haid
  • Terjadi pendarahan pasca senggama atau dalam istilah medis disebut dengan post coital bleeding
  • Terjadi keputihan, namun yang dikeluarkan adalah cairan dengan bau amis yang berbeda dan khas
  • Terjadi pendarahan pasca menopouse
Lalu, bagaimana agar mencegah terjadinya kanker serviks? Saya telah melakukan pap smear pertama kali pada tahun 2012 dan langsung vaksin HPV untuk mencegah kanker serviks. Pap smear merupakan salah satu bentuk deteksi dini yang dapat dilakukan untuk terjadinya kanker serviks. Berdasarkan WHO, ada dua tindakan yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya kanker serviks. Pertama adalah melakukan tindakan pencegahan primer, yakni dengan melakukan vaksinasi HPV. Vaksinasi ini untuk membentuk antibodi terhadap virus HPV sehingga virus yang akan masuk mati dan tidak menimbulkan kanker serviks. Biaya vaksin seingat saya sekitar Rp 750 ribu dan divaksin sebanyak tiga kali dalam kurun waktu setahun.
 
Lalu bagaimana pap smear? Setelah melakukan pap smear pada tahun 2012, saya melakukan lagi pap smear di tahun 2017. Tepatnya, pada hari Kamis, 31 Agustus 2017 di Prodia Womens Health Center di Jalan Wolter Mongonsidi No. 77, Kebayoran Baru, Jakarta.
 
Sebelum datang, saya menelpon terlebih dahulu untuk menanyakan apa saja syarat yang harus disiapkan sebelum memeriksakan sitologi serviks/pap smear dan HPV DNA. Syarat-syarat yang harus dipenuhi adalah :
  • Sudah menikah/pernah melakukan hubungan seksual
  • Tidak sedang menstruasi (sebaiknya dilakukan pada hari ke-14 selesai hari pertama menstruasi)
  • Tidak menggunakan tampon, jeli, krim vaginal maupun obat-obat yang diberikan melalui vagina selama 2 hari sebelum pemeriksaan
  • Tidak melakukan seksual 1 hari sebelum pemeriksaan  
Saat datang, saya diminta mengisi beberapa hal yang tertulis di form yang tertera. Setelah itu, langsung dipersilahkan untuk mengambil sampel untuk diperiksa. Pap smear yang saya lakukan adalah pap smear yang menggunakan sitologi serviks berbasis cairan (SSBC). SSBC ini memiliki sensitivitas yang lebih tinggi untuk menapis kanker serviks sehingga pap smear dapat dilakukan tiga tahun kemudian.
 
Proses pemeriksaan itu hanya menghabiskan waktu tak sampai 15 menit. Untuk memperoleh hasil pemeriksaan, saya harus menunggu sekitar satu minggu. Hasilnya dikirim melalui email dan untungnya memberikan hasil positif. Teman, jangan lupa untuk melakukan pap smear dan vaksin untuk mencegah deteksi dini kanker serviks ya. (rab)