Indonesia sebagai negara dengan penduduk terbanyak keempat di dunia memiliki potensi yang besar untuk menjadi Negara maju dalam bidang kesehatan. Namun harus diakui, perkembangan bidang kesehatan di tanah air belum menunjukkan hasil yang diinginkan. Ada, setidaknya, empat faktor penghalang yang menyebabkan pola hidup sehat belum membudaya di masyarakat.

1. Kurangnya Pemahaman

Kita saat ini berada di era teknologi informasi, di mana kabar dan informasi begitu mudah disiarkan ke khalayak luas. Sayangnya, kemudahan ini justru banyak dimanfaatkan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab yang menyebarkan informasi, spesifiknya seputar kesehatan, yang kebenarannya belum teruji secara klinis maupun akademik. Akibat informasi kesehatan yang simpang siur, masyarakat sulit membedakan informasi yang sahih dari yang salah.

Bila informasi yang kita percaya ternyata salah, pemahaman kita pun menjadi keliru dan selanjutnya tindakan-tindakan yang kita ambil menjadi salah kaprah. Kurangnya pemahaman yang benar akan kesehatan akan berbanding lurus dengan rendahnya antisipasi dalam menghadapi  risiko yang dapat mengancam di masa yang akan datang.

2. Sikap Tidak Peduli

Banyak orang yang sudah memahami konsep pola hidup sehat secara umum, namun enggan menjalankan konsep tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ada banyak alasan yang membuat seseorang bersikap tidak peduli meskipun sudah mendapatkan informasi yang benar tentang pola hidup sehat.

Gemar menunda dan merasa belum perlu

Banyak orang yang menyepelekan pentingnya menjaga kesehatan karena merasa sehat dan memiliki kondisi tubuh yang prima. Mereka belum merasa membutuhkan atau bahkan menganggap pola hidup sehat adalah hal yang tidak penting, karena mereka belum memiiki gangguan kesehatan apapun. Mentalitas seperti ini biasanya membawa kerugian besar karena mengabaikan pentingnya persiapan dalam menghadapi kondisi terburuk yang mungkin datang kapan saja.

Tidak punya waktu

Sikap tidak peduli juga bisa datang dari skala prioritas hidup seseorang. Banyak orang yang mengabaikan pola hidup sehat karena merasa bahwa aktivitas ini hanya omong kosong yang menghabiskan waktu, tenaga, dan uang. Alih-alih menyempatkan diri memasak makanan sehat atau menyempatkan waktu untuk berolah raga, orang-orang jenis ini cenderung memilih makanan siap saji dan melewatkan berolah raga, ironisnya, demi nongkrong bareng sambil menonton tayangan olah raga setelah bekerja penat seharian.

Waktu yang dirasa terbatas dan menumpuknya segudang aktifitas umumnya terjadi di masyarakat urban dan perkotaan. Tidak sedikit dari mereka yang harus bekerja di akhir pekan, di mana semestinya mereka bisa meluangkan waktunya untuk berolahraga, berlibur, atau memasak dan makan bersama keluarga di rumah. Sementara, mereka yang libur lebih suka jalan-jalan ke pusat-pusat perbelanjaan atau bersenang-senang dan makan di luar.

Kebiasaan Buruk

Di sekitar kita saat ini masih banyak orang yang memiliki kebiasaan seperti merokok, minum minuman beralkohol, makan makanan berlemak juga minum minuman pemanis buatan, tidur larut malam dan lain sebagainya. Sudah banyak penelitian medis dan akademik membuktikan bahwa kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut sudah bisa merugikan kesehatan. Jangankan peduli akan dampak kebiasaan-kebiasaan tersebut pada orang lain, pada diri sendiri pun tidak.

Kebiasaan merokok misalnya. Masih banyak masyarakat kita yang merasa tanpa beban saat merokok di sekitar orang-orang atau anggota keluarga yang tidak merokok. Mereka tidak perduli asap rokok yang dia hirup dapat membahayakan orang di sekitarnya. Begitupun kebiasaan menenggak minuman beralkohol. Masih sering kita jumpai kasus kecelakaan lalu lintas yang melibatkan pengendara mabuk.

Dibutuhkan kesadaran yang besar untuk mengubah kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut. Jika mungkin, hentikan kebiasaan-kebiasaan itu hal sebelum terlambat atau membahayakan keselamatan orang lain.

3. Biaya Mahal

Alasan yang sering kita dengar ketika orang enggan berolahraga adalah biaya yang mereka anggap mahal. Di perkotaan, orang-orang kantoran sering merasa biaya fitness cukup mahal. Namun, di waktu lain, mereka tak enggan menggelontorkan rupiah demi memenuhi kebutuhan mewah seperti membeli barang elektronik, perhiasan, kendaraan, properti, berinvestasi bisnis, atau membayar premi asuransi kesehatan. Sangat jarang kita temui orang yang mendahulukan investasi dalam hal menjaga kondisi kesehatan.

4. Kurang Dukungan

Setiap manusia membutuhkan dukungan untuk meningkatkan rasa percaya diri dan keyakinannya, termasuk pada saat memulai program pola hidup sehat. Sayangnya, kesadaran masyarakat yang rendah terhadap pola hidup sehat membuat dukungan dari lingkungan terhadap orang-orang yang menjalankan pola hidup sehat masih sangat minim.

Depresi akibat penghinaan

Alih-alih mendukung, masih banyak di antara kita yang menganggap masalah kesehatan orang lain sebagai hal yang pantas dicemooh. Terhadap orang gemuk, misalnya, masih saja mereka menjadi korban candaan ketika mereka terlihat sedang berusaha berolah raga. Jika disampaikan tidak pada tempatnya, candaan bisa berubah menjadi penghinaan, yang akan menimbulkan depresi pada orang tersebut. Akibatnya, mereka kehilangan rasa percaya diri, tertutup dan rendah diri dan ujung-ujungnya menjadi enggan keluar untuk berolah raga.

Oleh sebab itu, tak ada salahnya untuk kita mulai menciptakan lingkungan yang mendukung pola hidup sehat. Mari kita mulai dengan mengubah sudut pandang “olah raga untuk orang-orang yang memiliki tubuh yang ideal” menjadi “olah raga untuk menciptakan tubuh yang ideal”.

Lingkungan yang negatif

Sering kali, kita mendengarkan komentar yang cenderung negatif saat ada rekan kerja kita atau keluarga kita yang malas beraktifitas atau malas berolah raga. Kita peduli, namun sering kali salah dalam mengungkapkannya. Dukungan melalui pernyataan-pernyataan negatif tidaklah efektif. Kita seharusnya memberikan dukungan positif agar lebih memotivasi. Hindari kata-kata yang cenderung melecehkan dan menciderai perasaan mereka. Mulailah memberikan pujian dan dukungan agar semangat mereka tumbuh. (aw)