Penyakit Tuberkolosis (TB) Paru dan HIV/AIDS merupakan prioritas nasional yang menjadi sorotan dan merupakan masalah kesehatan masyarakat di dunia maupun di Indonesia, Tuberkolosis menjadi salah satu indikator yang dicantumkan dalam Sustainable Development Goals (SDGs) sampai tahun 2030 dan saat ini WHO telah membuat strategi End TB untuk mewujudkan dunia bebas TBC tahun 2050.

Berdasarkan pelaporan HIV/AIDS rutin (SIHA) Kemenkes 2019, Jumlah penderita HIV/AIDS masih rendah yang terlaporkan yaitu 58,7% sebesar 338.363 kasus selama rentang 2005-2019. Perbandingan proporsi penderita laki-laki dan perempuan 2:1, didukung salah satunya faktor risiko tinggi mayoritas terjadi pada laki-laki melalui Lelaki Seks Lelaki (LSL) 21% serta heteroseksual 13%. Meskipun secara keseluruhan dalam rentang 2005-2019 perempuan cenderung lebih kecil proporsi kasusnya, terlihat peningkatan yang cukup signifikan penderita HIV dari status ibu rumah tangga (IRT) pada tahun 2019 sebesar 16.618 orang. Angka tersebut menempati urutan kasus terbesar setelah karyawan. Selain ibu rumah tangga, ibu hamil melalui 88 buah Layanan Pencegahan Penularan Ibu ke Anak (PPIA) Kemenkes terdata 10.235 orang positif HIV pada rentang 2017-2019. Hanya 4.888 diantaranya menjalani pengobatan Anti Retrovirat Treatment (ART) dan 3.971 baru akan memulai ART. Di Jawa Barat Sendiri Jumlah ODHA sudah sebanyak kurang lebih 40.000 dan menjadi urutan ketiga Provinsi yang paling banyak Penderita HIV/AIDS.

Hal di atas memperlihatkan bahwa perempuan banyak terpapar dengan risiko meskipun berperilaku aman dan sehat. Faktor Pasangan, pengambilan keputusan untuk mendatangi layanan kesehatan, menerima pengobatan, stigma di masyarakat, stigma petugas kesehatan dan lainnya banyak menghalangi keberhasilan program yang telah ditetapkan. Perempuan dengan HIV/AIDS terstigma negatif meskipun penularan bukan disebabkan gaya hidup yang berisiko. Padahal perempuan dengan HIV/AIDS terutama pada usia reproduksi akan berdampak ganda pada calon anak yang akan dilahirkan. Program PPIA Kemenkes melakukan tes pada ibu hamil namun keputusan melanjutkan pengobatan ketika positif sangat banyak dipengaruhi isu gender. Pemahaman responsif gender pada petugas layanan kesehatan juga harus dimiliki agar aspirasi, kebutuhan dan permasalahan di lapangan dapat dijadikan masukan dalam program dan kegiatan, sehingga efisien dan efektif.

Dari data tersebut diatas tersirat bahwa ada isu gender yang perlu mendapat perhatian dalam upaya penanggulangan TBC dan HIV/AIDS. Dari aspek epidemiologi TBC dan HIV/AIDS, perempuan lebih rentan untuk terkena TBC dan HIV/AIDS. Perempuan dan remaja putri 2,5 kali lebih rentan terhadap TBC dan HIV dibanding laki-laki. Hal ini dipengaruhi oleh beberapa hal yang terkait dengan kesenjangan gender yang dihadapi oleh perempuan.

Salah satu upaya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam pencegahan dan pengendalian penyakit TBC dan HIV/AIDS, adalah menyusun Pedoman Pengarusutamaan Gender (PUG) melalui Perencanaan dan Penganggaran yang Responsif Gender (PPRG), kedalam program dan pelaksanaannya dimulai dari proses perencanaan, pelaksanaan dan penganggaran serta monitoring dan evaluasi harus merefleksikan perspektif gender. Hal ini dapat dilakukan dengan mengadakan bimbingan teknis (bimtek) tentang implementasi PUG/PPRG terkait penanggulangan TBC dan HIV/AIDS pada daerah-daerah yang potensial.

Kementerian PPPA dalam hal ini Asdep KG Bidang Pendidikan, Kesehatan dan Pembangunan Keluarga melakukan kegiatan Bimtek tersebut pada tanggal 2-3 Oktober 2019 lalu di Provinsi Jawa Barat. Sebelum di Provinsi Jawa Barat, kegiatan tersebut telah dilakukan di daerah lainnya diantaranya Provinsi Kalimantan Timur, Sumatera Utara, Aceh, Sulawesi Selatan, Kalimantan Barat, Riau, Papua Barat, dan Kebumen.

Menurut penuturan dari Narasumber Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, drg.Juanita Paticia Fatima, MKM mengatakan bahwa Estimasi ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) di Jawa Barat Tahun 2016 sebanyak 66.868, Jumlah Odha ditemukan hingga Juni 2019 sebanyak 40.276 dan yang meninggal sebanyak 1845. Sedangkan ODHA yang menjalani Pengobatan (On ART) hingga Bulan Juni 2019 sebanyak 14.324. Hal itu menunjukkan bahwa Penanggulangan HIV/AIDS di Provinsi Jawa Barat masih rendah karena masih ada 24.107 ODHA Non ART ( belum melakukan pengobatan).

Selain HIV/AIDS, TBC juga merupakan jenis penyakit yang serius karena sifatnya menular. Sebanyak 1,6 juta orang  meninggal karena TB  pada tahun 2017. Di Jawa Barat Sendiri ada Sebanyak 83.261 Jumlah kasus TB yang ternotifikasi pada Tahun 2017 (CDR 53%). Kurang Lebih 0,3 juta  diantaranya adalah  Pasien TB dengan HIV  (TBHIV). ODHA 30 Kali lebih beresiko mengalami sakit TBC dibandingkan dengan orang yang tidak terinfeksi HIV. Jika ODHA dengan TBC tidak segera terobati akan menyebabkan kematian lebih cepat. Lebih dari 25% kematian terhadap ODHA disebabkan oleh TBC.

Narasumber lainnya dalam kegiatan Tersebut yaitu Ibu Ninin Nirawaty, Pakar Gender dan Ibu Ida Rosyidah Wakil Dekan FIKES UIN Syarif Hidayatullah. Kedua Narasumber tersebut memberikan materi terkait PUG dan PPRG serta bagaimana cara mengintegrasikan gender kedalam Dokumen Perencanaan Kegiatan yang berhubungan dengan Penanggulanan HIV/AIDS dan TBC.

Melihat dari fenomena tersebut, Pemerintah Pusat maupun Kota memiliki kewajiban untuk menangani masalah tersebut dengan serius melalui perencanaan dan penganggaran Program/kegiatan yang responsif gender  baik di Provinsi maupun Kab/Kota untuk memenuhi setiap kebutuhan daripada Masyarakat tidak hanya untuk Perempuan saja tapi juga untuk Kelompok Sosial Lainnya seperti lansia dan anak-anak. (rh)