Oleh : Nefertite Fatriyanti

Perempuan adalah tiang negara, perempuan adalah tiang keluarga, pepatah yang mungkin sering sekali kita dengar sejak kita  masih kanak-kanak.

Berarti perempuan adalah tempat untuk bertumpu, sehingga perempuan juga dituntut untuk memiliki pengetahuan yang terus berkembang, sesuai irama jaman, termasuk perempuan juga seharusnya mengikuti perkembangan teknologi.

Itulah sebabnya, perempuan memang harus berdaya disetiap lini kehidupan, selalu berkembang sesuai dengan perkembangan jaman, demi memberdayakan keluarga dan lingkungannya.

 

serempak.2

 

Tanggal 1 Agustus 2016, digelar sebuah seminar dengan para perempuan inspiratif sebagai narasumber, nah siapa saja mereka? Mereka adalah Ir Agustina Erni, M Sc (Deputi Bidang partisipasi masyarakat kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak Republik Indonesia), ibu Mariam F. Barata (Direktur Jenderal Aptika kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia),  Nuniek Tirta Ardianto (Community Builder, Digital Networker, sekaligus Counselor), Nova Eliza (Public figure, dan Sociopreneur, Founder yayasan Suara Hati), Martha Simanjuntak, SE MM (Ketua Pokja SEREMPAK, Founder IWITA), beserta jajarannya.

Perkembangan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) memberi ruang yang sama bagi laki-laki maupun perempuan. Justru perempuan diharapkan bisa berperan dan berpartisipasi dalam berbagai kegiatan di masyarakat.

Menurut ibu Agustina Erni, data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet aktif mencapai 88,1 juta orang di tahun ini. Komposisinya adalah pengguna internet perempuan sebanyak 51% sedangkan laki-laki 49%.

Uniknya lagi ternyata pengguna sosial media yang aktif adalah perempuan, di mana jumlah penggunanya lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki.

Dengan fenomena tersebut, menunjukkan bahwa sebagian besar perempuan di Indonesia sudah melek teknologi, dan yang dibutuhkan adalah peningkatan akses perempuan pada berbagai bidang, seperti pendidikan, sosial, ekonomi dan sebagainya.

Ibu Mariam dalam paparannya juga mengingatkan, bahwa membutuhkan kehati-hatian dalam menggunakan internet, terlebih lagi media sosial, sambil beliau mengingatkan kasus Prita Mulyasari beberapa waktu yang lalu.

Ditegaskan kembali tentang Undang-Undang No. 11/2008 Informatika & transaksi elektronik (UU ITE) pasal 27 yaitu: ”Setiap orang dengan sengaja mendistribusikan atau mentransmisikan/membuat dapat diakses namun tidak kuat landasannya maka kita bisa dituntut balik”, lanjut ibu Mariam.

Sementara, Nuniek Tirta menyampaikan bahwa menggunakan internet harus memiliki tujuan bukan sekedar bermain game saja.

Nuniek mencontohkan dirinya sendiri, dimana dia gunakan internet untuk membuat web, berjualan secara online. Sehingga internet benar-benar berfungsi secara maksimal dan positif.

Sedangkan Nova Eliza sebagai seorang public figure yang bergerak di bidang seni, adalah founder Yayasan Suara Hati Perempuan, yang bertujuan memberikan edukasi dan advokasi sosial melawan kekerasan pada perempuan dan anak. Kampanye yayasan ini banyak menggunakan media sosial yang dirasa efektif, di era digital ini.

Sesi selanjutnya diisi oleh ibu Martha Simanjuntak SE MM, Ketua Pokja Serempak juga merupakan founder IWITA. Beliau banyak memberikan penjelasan bagaimana jika portal SEREMPAK memiliki tujuan untuk memberikan pembelajaran dalam berbagai aspek kehidupan.

Melalui IT lah portal SEREMPAK akan mengedukasi seluruh lapisan masyarakat, sebaliknya, SEREMPAK membuka kesempatan juga kepada seluruh lapisan masyarakat untuk memanfaatkan portal ini sebagai bentuk kepedulian terhadap perempuan dan anak.

Ada sinergi yang berlandaskan pada Teknologi Informasi melalui portal SEREMPAK, di satu sisi ketersediaan informasi yang edukatif dan di sisi lain peran serta masyarakat juga diharapkan bisa memberi konstribusi pada portal SEREMPAK.

 

serempak.1

 

Artikel ini diikutsertakan dalam lomba menulis serempak