Siapa yang menyangka, tubuh atletis dan senang berolahraga tapi bisa terkena penyakit jantung? Itulah yang dialami oleh Marcelino Lefrandt, bintang iklan sekaligus bintang film terkenal.
 
“Saya pernah terkena penyakit jantung, “ katanya. Hal itu dia sampaikan saat Talkshow bertajuk ‘Pergeseran Lifestyle dan Resiko Penyakit Jantung’ yang diadakan oleh RS Awal Bros Bekasi Timur tanggal 1 November lalu.
 
Semua bermula saat ia merasa baik-baik saja dengan gaya hidupnya selama ini. Ia mengaku tak pernah merokok, rajin berolahraga hingga mampu menurunkan berat badan 10 kilogram dalam setahun bahkan tak pernah merasakan nyeri jantung. Semua itu menjadi berubah saat sang ayah
menyarankan dia untuk memeriksakan kesehatan jantung. Hasil cek tekanan darah dan echo jantung, semuanya normal. Namun saat menjalani pemeriksaan MRI, barulah hasil tes nya menunjukkan bahwa ada gejala abnormal, yang menandakan bahwa adanya penyempitan pembuluh darah jantung di sebelah kiri.
 
Alhasil, ia kemudian disarankan melakukan pemasangan ring. Namun belum juga dilakukan pemasangan ring, dokter memutuskan untuk tidak jadi memasang ring karena pembuluh darah yang menyempit itu bersifat genetik. Jadi, jika berada dalam kondisi stres, olahraga yang berlebihan dapat memicu terjadinya penyempitan pembuluh darah.
                                                                                                                    
Penyakit Jantung Koroner (PJK) adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan otot jantung atas oksigen dengan persediaan yang diberikan oleh pembuluh darah koroner. Nah, ketidakmampuan pembuluh darah koroner untuk menyediakan oksigen biasanya disebabkan oleh penyumbatan pada pembuluh darah oleh plak atherom.
 
 
Jadi, apabila pembuluh darah tersumbat, maka otot jantung tidak mendapatkan oksigen yang cukup untuk bekerja. Jika pasokan oksigen berkurang, maka kekuatan pompa jantung pun akan berkurang dan jantung tidak mampu mensuplai oksigen yang cukup ke seluruh organ-organ vital ke seluruh tubuh.
 
Jika pembuluh darah tersumbat total dan pasokan oksigen terhenti, maka otot jantung mengalami kematian sehingga terjadilah serangan jantung.
dr. Manoefris Kasim Sp.JP(K), Sp.KN, FIHA, FACC, FASCC, yang merupakan Dokter Spesialis Jantung menyampaikan data kematian karena PJK (Penyakit Jantung Koroner) dan Stroke di beberapa negara. Teryata Rusia merupakan negara yang memiliki tingkat kematian PJK dan Stroke terbesar di antara Polandia, Firlandia, New Zealand, Inggris, Amerika, Italia, Spayol dan Jepang.
 
Faktor genetik merupakan salah satu faktor resiko penyakit jantung koroner. Selain faktor genetik, ada beberapa faktor lain yang menyebabkan timbulnya penyakit jantung koroner yakni:
  1. Usia
  2. Gender
  3. Merokok
  4. Dislipidemia (gangguan lipid)
  5. Hipertensi (darah tinggi)
  6. Diabetes (kencing manis)
“Pria lebih berpotensi terkena penyakit jantung koroner dibandingkan perempuan,” kata dr Manoefris lagi. Perbandingannya jantung koroner bagi pria dan perempuan adalah 3:1. Jika merokok mempunyai potensi terkena penyakit jantung sebesar 68,0 % dan penderita hipertensi sebesar 50,5%.
 
Lalu, apa yang harus dilakukan jika ada yang terkena jantung koroner?
Jadi, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengamankan diri dan lokasi serta mengenalkan diri. Upaya untuk tetap tenang juga harus dilakukan agar bisa membantu memberikan pertolongan pertama.
 
Setelah itu melakukan pengecekan kesadaran. Pengecekan kesadaran itu dapat dilakukan dengan memanggil nama korban lalu menepuk-nepuk korban atau menggoyangkan bahu korban.  Kemudian melakukan memeriksa urat nadi di tangan atau di leher untuk mengetahui kesadaran korban.
 
Lakukanlah resusitasi jantung paru. Proses ini terdiri dari penakanan dada dan bantuan napas. Penekanan ini dilakukan dengan prinsip tekan kuat, tekan cepat. Untuk memaksimalkan efektivitas penekanan dada, korban harus berada di tempat yang rata. Pihak yang menolong berlutut di samping korban dan meletakkan pangkal telapak tangan di tengah dada korban dan meletakkan tangan yang lain di atas tangan yang pertama dengan jari-jari saling mengunci dan lengan tetap lurus. Lakukan ini sebanyak 30 kali
 
Setelah itu, lakukan cara membuka jalan napas korban dengan teknik menengadahkan kepala dan mengangkat dagu. Menjepit hidung korban lalu memberikan napas bantuan 2 kali masing-masing sekitar 1 detik melalui mulut ke mulut atau menggunakan pelindung wajah. Jangan lupa untuk segera membawa korban ke rumah sakit.
 
Penyakit jantung masih bisa dicegah dengan menjaga pola makan yang tepat, gaya hidup yang benar, hindari merokok dan olahraga yang teratur. (rab)