Siapa diantara kita yang tidak tahu mengenai berita hangat mengenai rencana pemindahan ibukota Indonesia? Semua orang khususnya masyarakat Indonesia pasti telah mendengar kabar ini, bahkan dari tahun-tahun lalu sebelum pemerintah mulai merealisasikan rencana pemindahan.

Rencana pemindahan Ibukota Indonesia yang dicanangkan ini tentu dilatar belakangi dengan sebab dan hal-hal lain yang mendukung. Tanpa penyebab atau hal serius, pemerintah tidak akan mungkin merencanakan hal yang menyangkut banyak pihak semacam ini. Ada beberapa penyebab pindahnya ibukota Indonesia yang semula di Jakarta menuju Kalimantan, mari kita simak berikut ini : 

  1. Jakarta Sudah Terlalu Padat

Seperti yang kita ketahui, Jakarta merupakan kota yang letaknya cukup strategis di Indonesia. Letak yang strategis inilah yang menyebabkan banyaknya aktivitas-aktivitas masyarakat yang seolah memusatkan diri hanya di Jakarta. Bukan hal yang tabu lagi, mengingat Jakarta adalah kota penuh huru-hara kesibukan.

Mulai dari perkantoran, pusat perbelanjaan, gedung-gedung pemerintahan semuanya terletak di kota ini. Dan begitu pula dengan orang-orang di sekitar pulau yang mencari tempat strategis untuk mendapatkan pekerjaan di ibukota. Dan Jakarta menjadi tujuan yang tepat untuk berkumpulnya para pekerja hingga membuat kota ini semakin terasa sempit dan sesak.

  1. Kesenjangan Pembangunan

Banyaknya masyarakat desa yang berbondong-bondong datang ke Jakarta dengan dalih untuk mencari pekerjaan, tak elak bagi mereka juga untuk menemukan tempat tinggal. Dari sinilah, masalah kembali hadir. Pemerintah seakan hanya peduli dan selalu menomor satukan ibukota untuk selalu dibenahi. Lihat saja, ada banyak bangunan-bangunan megah dengan gedung pencakar langit yang menjulang ke atas. Serta perumahan-perumahan elit banyak kita temukan di kota Jakarta.

Sementara untuk kalangan miskin, emperan toko dan kolong jembatan menjadi tempat ternyaman untuk mereka. Masalah akan pembangunan yang tidak merata kembali mencuat yang pada akhirnya, kota-kota lain selain Jakarta menjadi terkesampingkan. Pembangunan yang tidak merata terjadi di kota-kota kecil, di pelosok-pelosok desa yang nyatanya masih berada dalam lingkup negara Indonesia.

  1. Pulau Jawa Menjadi Pusat Segala Aktivitas

Kota Jakarta terletak di Pulau Jawa. Pulau yang terkenal akan kepadatan penduduknya. Disamping kota Jakarta, kota-kota lain di sekitarnya juga mengalami hal yang sama. Seperti padatnya penduduk dan pembangunan yang tidak merata. Kesibukan aktivitas yang mulanya berpusat di Jakarta tentu akan menular ke kota-kota lain, seperti Bandung, Surabaya, dan Yogyakarta.

Jawa pun menjadi pusat aktivitas, khususnya produksi. Misalnya saja produk konveksi lebih banyak di produksi di pulau Jawa terutama Kota Bandung, dibandingkan dengan kota lain di luar Pulau Jawa. Selain itu pabrik-pabrik makanan dan kesibukan akan sarana transportasi seperti pelabuhan, terminal dan bandara lebih tertonjol di sekitar Pulau Jawa saja.

  1. Macet

Sebagai sebuah kota metropolitan, Jakarta tentunya tak bisa menghindari kemacetan. Banyak para petinggi atau para pekerja kantoran yang saat ini memiliki kendaraan, belum lagi para pengendara sepeda motor seperti tukang ojek online yang kian meramaikan suasana jalanan ibukota.

Apalagi di jam-jam sibuk seperti pergi dan pulang kantor, maka suasana kemacetan akan menghidupi jalanan Ibukota yang kenyataannya, Indonesia juga merupakan salah satu negara dengan pemakai kendaran bermotor terbesar di dunia. Dari masalah kemacetan yang tak pernah usai, menjadi salah satu penyebab rencana pindahnya ibukota Indonesia.

  1. Musibah Banjir

Banyaknya manusia yang mendiami pulau Jawa tentu membuat hal negatif akan muncul. Seperti musibah banjir, di mana para masyarakat pesisir kota lebih sering membuang sampah sembarangan di aliran sungai tanpa mau tahu akan dampak yang ditimbulkan. Kondisi ini pun menjadi sisi buruk bagi sebuah ibukota negara. 

  1. Gempa

Gempa juga merupakan bahan pertimbangan pemerintah untuk memindahkan Ibukota Indonesia. Pulau Jawa termasuk pulau dengan tingkat kerawanan gempa yang tinggi. Hal ini dikarenakan, kawasan pesisir Jawa dilalui oleh deret gunung berapi yang masih aktif. Berbeda halnya jika dibandingkan dengan Kalimantan yang jarang terjadi gempa.

Dari alasan di atas tentu sudah jelas bahwa rencana pemindahan Ibukota Indonesia tak serta merta hanya rencana belaka tanpa persoalan yang serius. Hal ini perlu kita dukung karena menyangkut keseimbangan negara Indonesia dan kebaikan untuk nama baik bangsa. Pemerintah tentu akan melakukan yang terbaik untuk negara Indonesia.(slk)