Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya adalah Malaikat-malaikat yang kasar dan keras”. (Qs: At Tahrim : 6)

Diriwayatkan dari Ibnu Jarir dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhu bahwa ayat ini mengandung makna : “Beramallah dalam ketaatan kepada Allah, jagalah diri kalian dari kemaksiatan kepada-Nya, dan perintahkanlah anak-anak kalian untuk menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Maka dengan itulah kalian menjaga (diri kalian dan keluarga) dari api neraka”.

Sesungguhnya memperhatikan pendidikan anak-anak adalah perkara yang sangat penting dan agung.

Wajib bagi para ayah untuk melihat, memperhatikan, dan mengintrospeksi diri akan perkara penting ini. Khususnya pada zaman sekarang yang begitu besar gelombang fitnah dan begitu asingnya nilai agama. Sangat banyak tarikan dan dorongan untuk berbuat kerusakan (di muka bumi ini), sampai-sampai seorang ayah terhadap anak-anaknya seperti penggembala yang menjaga kambing-kambingnya ketika berada di tempat yang di sana terdapat binatang buas yang siap memangsa. Ketika penggembala tadi lengah maka kambing-kambing tadi diterkam oleh srigala-srigala.

Sesungguhnya penjagaan Islam dalam pendidikan dan kebaikan bagi anak-anak sudah nampak jelas sejak awal. Yaitu sejak disyariatkannya seorang pria memilih pasangannya yang shalihah, yang baik agamanya dan berakhlak mulia.
Wanita adalah laksana tanah yang siap menerima benih. Bila wanita tadi shalihah maka akan dapat membantu sang suami dalam mendidik anak-anaknya.

Dan disyariatkan juga bagi suami ketika akan berhubungan dengan istrinya untuk berdoa :

بسم الله، اللهم جنبنا الشيطان و جنب الشيطان ما رزقتنا

“Bismillah, Ya Allah jauhkanlah kami dari syaithan dan jauhkanlah syaithan dari apa yang Engkau berikan rizki kepada kami”.

Banyak dari para suami mengira bahwa mendidik anak adalah tanggung jawab istri, suami tidak dituntut kecuali untuk memenuhi kebutuhan materi anak-anak dan istrinya. Akibatnya, suami sering menghabiskan waktunya di luar rumah bersama rekan-rekannya dan ketika kembali ke rumah langsung istirahat di kamar sambil menyuruh istrinya menjaga anak-anak agar tidak mengganggu tidur dan impiannya.

Akan tetapi seorang suami yang memahami pentingnya tarbiyah (pendidikan), akan melakukan perannya sejak istrinya hamil hingga melahirkan, ketika anak berumur dua atau tiga bulan maka ayah akan semakin menampakkan perannya sebab anak sudah mulai mengenali suara ayahnya.

Ketika usia anak menginjak dua tahun atau lebih, ayah berperan mengajak anak bermain bersama. Nabi Muhammad Saw telah memberi teladan yang sangat baik. Dari Abu Qatadah, bahwa Rasul pernah shalat sambil menggendong Umamah binti Zainab, cucu beliau dari Abu al-Ash bin Rabi’.  Apabila berdiri beliau menggendongnya dan apabila sujud, beliau meletakkannya. Dan itu dilakukan oleh beliau saat shalat wajib.

Terhadap cucu yang disayanginya yaitu Hasan dan Husien beliau duduk dan bercanda ria dengan keduanya. Diriwayatkan Abu Hurairah dalam Shahih Bukhari Bab “Adab”, kedua telingaku ini mendengar dan kedua mataku ini melihat ketika Rasulullah Saw memegang telapak Hasan atau Husien, sementara kedua kaki mereka menginjak kaki Rasulullah Saw, kemudian Rasulullah berkata, “Naiklah,” maka anak itu menaiki tubuh Rasulullah sehingga kedua kaki mereka sampai pada dada Rasulullah kemudian berkata, “Bukalah mulutmu.” Kemudian Rasul menciumnya sambil berdoa, “Ya Allah, cintailah anak ini karena aku mencintainya.”

Saat usia anak empat tahun, ayah sebaiknya mengajak anak keluar rumah, mengajak ke masjid, pasar, mengunjungi tetangga, dan saudara. Hal ini menjadikan jiwa sosial anak tumbuh dengan baik, dan bisa menyerap tingkah laku dan akhlak ayahnya saat bergaul dengan orang lain.

Samiah Hamam seorang peneliti menemukan kesamaan sifat dari anak-anak yang salah satu dari orangtuanya tidak dapat melakukan tarbiyah (pendidikan) bersama, sifat-sifat itu diantaranya sebagai berikut.

  1. Cemburu kepada anak-anak lain yang selalu bersama dengan kedua orangtuanya sehingga rasa cemburu ini bisa berkembang menjadi iri dan dengki.
  2. Anak akan merasa kehilangan perlindungan terutama saat terjadi perceraian antara kedua orangtuanya karena perasaan dan pikiran anak akan terbagi-bagi diantara kedua orangtuanya yang telah terpisah. Akhirnya hancurlah perasaan dan hilanglah makna perlindungan yang dulu ia dapatkan dari orangtuanya.
  3. Anak akan mencari teman dan berkumpul bersama anak yang senasib dengannya.

Wahai ayah sesungguhnya yang berpesan tentang mendidik anak adalah seorang laki-laki yang bernama Luqman, namanya telah Allah abadikan dengan  sebuah surah di dalam  Al-Qur’an, yaitu surah Luqman. Luqman berpesan kepada anaknya.

  1. Jangan berbuat syirik
  2. Allah mengetahui keadaan hamba-Nya
  3. Dirikan shalat, amar ma’ruf nahi mungkar, dan sabar
  4. Jangan sombong
  5. Bersikaplah pertengahan

Wahai ayah, sesungguhnya saat dewasa anak-anak sangat bangga ketika kau berikan keteladan terbaik kepada mereka. Sungguh keteladanan itu bukan hanya sebuah kebanggaan saja, namun sejatinya ia adalah harapan setiap anak-anakmu.(dlh)