Peran Keluarga Mencegah Niat Bunuh Diri

0
33

Belum lama ini, kita dikagetkan dengan laporan media tentang serentetan kasus bunuh diri. Akhir Juni 2017, diduga karena depresi seorang remaja di Bogor melakukan tindakan gantung diri. Pada 14 Juli 2017, seorang laki-laki juga melakukan tindakan bunuh diri dengan melompat dari Menteng Square. Di Bandung, dua orang kakak beradik meregang nyawa setelah melompat dari jembatan akhir Juli lalu. Masih di pekan yang sama, seorang pria di Cengkareng diduga berusaha bunuh diri dengan membakar diri.

Itu adalah kejadian yang waktunya berdekatan yang ditayangkan oleh media massa. Masih banyak kasus bunuh diri yang luput dari mata media. Badan Pusat statistik (BPS) mencatat bahwa  pada tahun 2015, setidaknya ada 812 kasus bunuh diri yang tercatat di kepolisian di seluruh wilayah Indonesia.

Namun, yang perlu digarisbawahi dalam rentetan kasus bunuh diri ini adalah persoalan daya tahan mental dalam menghadapi persoalan kehidupan. Daya tahan mental setiap orang berbeda satu sama lain. Sebuah kesulitan yang sama dapat menimbulkan tekanan mental yang berbeda bagi masing-masing orang.

Peran keluarga

Sebenarnya, sebelum sampai pada keputusan untuk melakukan tindakan bunuh diri, menurut para ahli, korban bunuh diri mengirimkan sinyal yang bisa dikenali, berupa perilaku yang tidak seperti biasanya. Sinyal ini sangat mungkin dikenali, terutama oleh orang-orang terdekat yang ada di sekitar para pelaku bunuh diri itu.

Keluarga adalah lingkup sosial pertama bagi setiap orang, sebelum dia mengenal kelompok sosial lebih luas lagi dalam masyarakat. Sekolah, kawan dalam pergaulan, dan lingkungan masyarakat adalah lingkungan kedua setelah keluarga. Hubungan yang hangat di antara anggota keluarga akan meminimalkan kemungkinan timbulnya hasrat bunuh diri. Biasanya, dorongan terakhir seseorang bunuh diri adalah perasaan tidak punya siapa-siapa di dunia.

Di sini, peran keluarga menjadi penting untuk  melakukan pengenalan pada tanda-tanda yang muncul saat salah satu anggota keluarganya menghadapi masalah berat. Keluarga bisa memainkan peran yang signifikan dalam mencegah kemungkinan salah satu anggotanya melakukan bunuh diri. Tanggung jawab terbesar tentu saja ada pada pundak orang tua, ayah dan ibu.

  1. Tumbuhkan suasana saling menyayangi
    Saling menyayangi satu sama lain dan hubungan yang penuh kehangatan akan membuat seluruh anggota keluarga merasa nyaman. Rasa memiliki dalam keluarga akan membuat anggota keluarga menomorsatukan keluarga apabila mengalami kesulitan hidup.
  2. Keterbukaan
    Keterbukaan yang proporsional akan membuat setiap anggota keluarga memiliki ruang yang cukup lapang untuk saling berdialog tentang kehidupan masing-masing. Keterbukaan ini akan membantu anggota keluarga membuka sumbatan-sumbatan persoalan pribadi yang mungkin dihadapi.
  3. Gali dan munculkan potensi
    Menumbuhkan suasana yang memungkinkan munculnya potensi masing-masing anggota keluarga berguna untuk membangun rasa percaya diri dan pertahanan mental yang kuat. Memiliki ketahanan mental akan mengurangi risiko psikologis yang bisa muncul akibat kesulitan hidup.
  4. Saling mendampingi
    Ketika suatu saat salah satu anggota keluarga menghadapi kesulitan hidup yang berat, hadirlah dan dampingi dengan penuh sayang. Pendampingan ini akan membuat dia merasa memiliki ruang yang hangat, tidak merasa sendirian lagi.
  5. Mengenali gejala yang sedang bermasalah
    Ketika salah satu anggota keluarga sudah menunjukkan gelagat berbeda, seperti tertutup, menjauh dari interaksi keluarga, murung, suka menyendiri, emosional, sebaiknya mulai diwaspadai dan jangan dibiarkan sendirian.
  6. Bantu temukan masalah
    Bila perlu ditanya masalahnya, atau diajak ngobrol sampai mau berterus terang menyampaikan masalahnya. Jika sudah, jangan segan memberikan beberapa pilihan solusi padanya untuk menyelesaikan masalahnya, bagaimana keluar dari masalah dengan bertanggungajwab.
  7. Bangkitkan optimisme
    Perlahan-lahan bangkitkan optimismenya menghadapi kehidupan. Nyatakan padanya bahwa keluarga akan memberikan dukungan dan support pada dirinya, sehingga kecemasan dan kekhawatitannya akan hilang.
  8. Menemui ahlinya
    Jika dirasa perlu, tak ada salahnya menemui psikolog ataupun psikiater untuk membantu menangani persoalannya.

Keluarga membentuk fondasi mental utama bagi setiap individu untuk bertahan dari berbagai persoalan kehidupan yang menimpanya.(nf)