Keberhasilan pemberian ASI eksklusif sangat ditentukan salah satunya oleh komitmen tenaga medis atau tenaga kesehatan. Mereka merupakan ujung tombak dalam proses pemberian ASI ekslusif. Tingkat pengetahuan ibu yang sangat beragam menjadikan peran tenaga kesehatan sangat penting.

Tenaga medis harus dapat bekerja efektif dalam membimbing proses belajar menyusui pada para ibu baru. Karenanya, diperlukan usaha untuk memaksimalkan peran tenaga kesehatan dalam meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif.

Kurang kuatnya komitmen tenaga kesehatan terhadap pemberian ASI eksklusif bisa menjadi kendala. Seringnya, kondisi ini disebabkan keberpihakan tenaga medis pada produk-produk susu formula pengganti ASI. Gencarnya pemasaran produk-produk susu formula tak jarang mampu meluluhkan idealisme  pengelola rumah sakit bersalin, yang selanjutnya akan berimbas pada anjuran-anjuran yang diberikan pihak tenaga medis kepada ibu dan keluarga bayi yang mereka rawat.

Banyak kita temui, kegagalan memberikan ASI ekslusif disebabkan sang Ibu belum memproduksi ASI pada hari kelahiran. Hal ini menjadi argumen utama yang biasanya “mengharuskan” bayi langsung diberi susu formula. Padahal secara alamiah bayi dapat bertahan tanpa asupan apapun sampai tiga hari. Bayi baru lahir diciptakan sedemikian untuk mengantisipasi kemungkinan kelambatan produksi ASI ibunya. Hal ini seharusnya dapat dihindari dengan melakukan Inisiasi Menyusui Dini (IMD) pada saat persalinan.

IMD dalam satu jam setelah kelahiran merupakan tahap penting untuk mengurangi kematian bayi dan mengurangi banyak kematian bayi baru lahir (neonatal). Menyelamatkan 1 bayi dimulai dengan satu tindakan yaitu IMD dalam satu jam pertama kelahiran. Konferensi tentang hak anak mengakui bahwa setiap anak berhak untuk hidup dan bertahan untuk melangsungkan hidup dan berkembang setelah persalinan. Ibu mempunyai hak untuk mengetahui dan menerima dukungan yang diperlukan untuk melakukan inisiasi menyusu dini yang sesuai.

The World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) mengeluarkan beberapa kebijakan tentang IMD dalam Pekan ASI sedunia (World Breastfeeding Week) :

  1. Menggerakkan dunia untuk menyelamatkan 1 juta bayi dimulai dengan satu tindakan sederhana yaitu memberi kesempatan pada bayi untuk melakukan IMD dalam satu jam pertama kehidupannya.
  2. Menganjurkan segera terjadi kontak kulit antara ibu dan bayi dan berlanjut dengan menyusui untuk 6 bulan secara eksklusif .
  3. Mendorong Menteri Kesehatan atau pihak berwenang lainnya untuk satu pendapat bahwa IMD dalam satu jam pertama adalah indikator kesehatan bayi yang paling penting.
  4. Memastikan keluarga mengetahui pentingnya satu jam pertama untuk bayi dan memastikan mereka melakukan yang terbaik pada bayi mereka.
  5. Memberikan dukungan terhadap peningkatan kualitas Rumah Sakit Sayang Bayi dengan memberi perhatian tentang IMD

Praktik IMD di Indonesia sendiri, masih harus terus disosialisasikan, baik di kalangan tenaga medis yang membantu persalinan, pihak Rumah Sakit, maupun sang Ibu dan keluarganya. Dalam banyak kasus IMD terkadang dilakukan hanya sebatas proses prosedural yang sifatnya simbolik. Hal yang tentu sangat disayangkan mengingat pentingnya tahapan ini dalam proses tumbuh kembang bayi.

Pihak  Rumah Sakit atau Rumah Bersalin serta tenaga kesehatan di dalamnya tentu menjadi sangat signifikan dalam proses IMD. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 Tentang Pemberian Air Susu Ibu Eksklusif menyatakan bahwa Tenaga Kesehatan dan penyelenggara Fasilitas Pelayanan Kesehatan wajib melakukan inisiasi menyusu dini terhadap Bayi yang baru lahir kepada ibunya paling singkat selama 1 (satu) jam. IMD dilakukan dengan cara meletakkan Bayi secara tengkurap di dada atau perut ibu sehingga kulit Bayi melekat pada kulit ibu.

Dalam rangka mensukseskan pemberian ASI eksklusif, pihak Rumah Sakit atau rumah bersalin dan tenaga kesehatan wajib menempatkan ibu dan bayi dalam 1 (satu) ruangan, kecuali jika ada hambatan berupa indikasi medis yang ditetapkan oleh dokter. Hal ini bermaksud memudahkan ibu untuk setiap saat dapat memberikan ASI Eksklusif kepada bayi.

Tenaga medis dilarang memberikan susu formula dan/atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI Eksklusif. Pada kondisi di mana pemberian ASI Eksklusif tidak dimungkinkan karena pertimbangan medis yang ditetapkan dokter, ibu bayi tidak ada, atau bayi terpisah dari Ibunya, maka baru bayi boleh diberi susu formula. Tenaga kesehatan juga dilarang mempromosikan susu formula atau produk bayi lainnya yang dapat menghambat program pemberian ASI Eksklusif. Larangan yang sama juga berlaku bagi penyelenggara Layanan Kesehatan.(oz)