Perempuan Sebagai Agen Anti-hoax

0
18

Turn back hoax. Begitu gerakan yang dideklarasikan di beberapa kota secara serentak pada awal tahun ini. Gerakan ini mengajak masyarakat luas untuk lebih bijak dalam menggunakan media sosial dan menanggapi berita yang belum jelas kebenarannya.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII) sepanjang tahun 2016, di Indonesia sendiri terdapat 132,7 juta orang yang telah terhubung ke internet dari total penduduk 256,2 juta orang. Jumlah ini berarti meningkat sebesar 51,8 % dari jumlah pengguna pada tahun 2014 (kompas.com).

                Masih dikutip dari Asosiasi Penyelenggara Jaringan Internet Indonesia (APJII), pada tahun 2014 ternyata dari jumlah pengakses internet di Indonesia, 51% nya adalah perempuan. Dari fakta ini, perempuan–bersama dengan para programmer, bloger, selebgram, dan sederet profesi hits di media sosial–punya potensi besar untuk menjadi agen anti-hoax.

                Perempuan, seperti yang kita tahu, memiliki interaksi luar biasa masif di internet. Lingkaran pertemanan, komunitas, dan jejaring perempuan semakin luas dengan hadirnya beragam platform online. Jejaring pertemanan perempuan di media sosial dan internet secara umum lebih kompleks. Dengan karakter yang cenderung lebih ‘cerewet’, perempuan lebih mudah memviralkan konten-konten yang berseliweran di linimasa.

                 Di sisi lain, perempuan identik dengan tugas-tugas keibuan, yang salah satunya menjadi garda terdepan dalam tumbuh kembang generasi anak bangsa. Tanggung jawab ini, didukung dengan jejaring yang luas, membuat perempuan berpotensi besar untuk menjadi agen anti-hoax. Cara yang utama adalah dengan semakin selektif saat membagikan informasi maupun isu yang banyak bertebaran di linimasa media sosial. Karakter perempuan yang cenderung mudah terbawa perasaan saat membaca konten berita heboh ataupun menyedihkan seringkali menjadi pangkal viralnya konten hoax. Perasaan mudah terpengaruh dengan judul yang fantastis seringkali membuat perempuan tidak teliti melihat alamat website, penulis konten, maupun data yang dipaparkan dalam sebuah tulisan.

                Panduan sederhana di bawah ini bisa membuat perempuan menjadi agen anti-hoax.

  1. Bijak dalam pertemanan

Banyak teman banyak rejeki. Dengan karakter perempuan secara umum yang suka mengobrol, ungkapan ini tepat untuk menggambarkan relasi teman sebagai salah satu bentuk networking yang tidak hanya memperluas silaturahmi, namun juga peluang bisnis. Namun, ini bukan berarti harus mengesampingkan check and recheck sebelum mengkonfirmasi permintaan pertemanan. Bijak dalam pertemanan bukan saja berarti hanya berteman dengan yang sependapat atau satu ‘frekuensi’, melainkan juga pandai memilih teman di dunia maya yang membawa energi positif, tidak suka menghasut atau menyebar berita bohong. Pelajari track record teman atau calon teman di media sosial untuk meminimalisir kemungkinan ikut menjadi bagian dari lingkaran pertemanan yang salah.

  1. Kenali pembuat konten

Sebelum share artikel maupun berita tertentu, pastikan sudah membaca secara utuh konten artikel tersebut. Jangan terpancing emosi karena judul yang fenomenal atau gambar meyakinkan semata. Karena, hampir semua konten digital dapat dimanipulasi. Sebagai langkah preventif, kenali media-media online yang telah memiliki kredibilitas. Jangan men-share artikel dari situs yang alamatnya website maupun kredibilitas penulisnya diragukan, apalagi jika tidak diikuti dengan sumber data dan berita yang valid.

  1. Edukasi lingkungan terdekat

Word of mouth atau interaksi dari mulut ke mulut adalah salah satu bentuk penyebaran informasi yang paling jadul sekaligus paling efektif hingga kini. Apalagi jika pelaku word of mouth itu adalah selebritas–orang yang terlihat lebih aktif atau yang memiliki ribuan pengikut–internet. Memiliki jejaring pertemanan online yang luas menjadikan perempuan berpotensi dalam hal-hal terkait pemanfaatan internet secara positif bagi masyarakat. Dimulai dari lingkungan dan lingkaran pertemanan terdekat, seorang perempuan mampu menjadi agen penyebaran tren bijak menggunakan media sosial dan internet secara umum.(wf)