Oleh Mariana Lusia Resubun

“Perempuan ibarat permen yang manis, sehingga banyak orang berebutan menghisap sari manisnya, apabila permen itu sudah dibuka bungkusnya dan dihisap oleh seseorang. Apakah ada orang lain yang ingin menghisapnya?” Sebuah perumpamaan tentang perempuan dari seorang sahabat, yang menentang adanya hubungan pacaran sebelum menikah demi menjaga kesucian, hingga saatnya tiba dan menjadi sah di mata Tuhan dan manusia.

perempuan

“Perempuan ibarat lubang kunci, apabila sebuah kunci sudah pernah dimasukkan ke dalam lubang kunci, akan ada bekas” Pernyataan seorang polisi wanita ketika memberikan sosialisasi tes keperawanan sebagai syarat penerimaan polisi wanita (Polwan). Sebuah pernyataan yang saya dengarkan di masa SMA, ketika mengikuti sosialisasi penerimaan anggota Polri.

“Perempuan dilihat dari masa lalunya dan lelaki dilihat dari masa depannya” Sebuah nasehat dari seorang sahabat kepada saya, perihal menjaga diri sebagai seorang perempuan.

“Jagalah dirimu seperti bunga yang indah di tepi karang, indah dan mudah dipandang tetapi susah untk dijangkau” Sebuah catatan dari seorang sahabat di masa SD, ketika mengisi buku diary saya yang berisi biodata teman-teman.

“Perempuan harus punya ilmu bela diri, terutama apabila perempuan tersebut bekerja dan dituntut tinggal bersama para lelaki. Misalnya pekerjaan sebagai surveyor yang mengharuskan hidup di hutan. Karena perempuan punya benda berharga yang dibawa kemana-mana”. Sebuah kalimat yang sering diucapkan seorang dosen separuh baya di ruang kuliah Degradasi Tanah dan Rehabilitasi Lahan. Kalimat yang membuat kami mahasiswanya senyum-senyum sendiri, antara malu dan sedikit risih karena pembicaraan yang agak sensitif ini dibicarakan di tengah ruang perkuliahan.

“Karena saya tidak mendapatkan istri saya secara utuh, maka anak ini menjadi ganti ibunya”. Sebuah kalimat yang sering diucapkan dan menjadi alasan seorang ayah tiri melakukan tindakan kekerasan seksual terhadap anak tirinya. Atau karena mendapati sang istri sudah tidak “utuh”, menjadi alasan dan pembenaran seorang suami melakukan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ataupun perselingkuhan.

Begitu berharganya seorang perempuan, sehingga begitu banyak nasehat dan petuah perihal menjaga kehormatan dan kesucian diri seorang perempuan. Ya perempuan, makhluk ciptaan Nya yang dilimpahi sebuah tugas mulia untuk mengandung, melahirkan, dan menjadi seorang ibu. Bukan salah seorang perempuan ketika dia menjadi korban pelecehan seksual. Namun dunia terkadang tidak adil dalam menghakimi perempuan. Itu salah perempuan sendiri, kurang menjaga diri sehingga hanya menjadi objek dari sebuah ketidakadilan.

Perjuangan hidup seorang perempuan, tidaklah berhenti ketika seorang Raden Ajeng Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan untuk setara dengan kaum laki-laki. Dimana zaman dahulu perempuan dipingit, tidak bersekolah, hidupnya hanya di rumah, mempelajari segala urusan kewanitaan dan mengurus rumah. Menunggu datangnya pinangan, menjadi istri dan ibu, mengurus suami dan anak. Peran perempuan hanya sekadar urusan dapur dan ranjang, perempuan tidak mempunyai hak bicara dan mengeluarkan pendapat.

Di zaman sekarang perempuan memegang peranan penting dalam pembangunan. Pada setiap bidang dan sektor pembangunan, perempuan ada dan menjadi pelaku aktif. Baik sebagai tenaga pendidik, tenaga kesehatan, perbankan, politik, pertahanan dan keamanan dan lain sebagainya. Perempuan di zaman ini tidak hanya berperan sebagai istri dan ibu, namun juga bersama-sama dengan suami mencari nafkah. Sebuah tuntutan zaman agar asap dapur tetap mengepul, susu dan popok anak dapat dibeli, cicilan rumah dapat dibayarkan, membayar biaya pendidikan anak yang selangit, dan tidak lupa untuk mendukung gaya hidup “kekinian” dengan smart phone yang canggih atau sekedar memanjakan diri di salon atau berwisata kuliner.

Terima kasih kepada RA Kartini, sehingga di zaman ini kaum perempuan bisa bersekolah setinggi-tingginya. Bukan hanya sekadar menambah gelar di depan maupun di belakang nama pemberian orang tua. Tetapi melalui pendidikan, perempuan lebih memantaskan diri menjadi lebih baik lagi, sebagai modal mengasuh, mendidik dan membesarkan buah hatinya kelak. Terkadang, rasa ingin menyerah hadir akibat begitu besarnya tantangan yang harus dihadapi. Namun semangat untuk terus berjuang harus selalu ada, walaupun dengan berlinang air mata. Semangat untuk menjadi lebih baik, dan menjadi yang terbaik untuk orang-orang yang dicintai.

Tidak semua wanita beruntung dan tetap menjaga “keutuhan” diri, hingga saatnya tiba dipersunting dan sah dimata Tuhan dan sesama. Tetapi apapun keadaanmu, tubuh dan dirimu adalah milikmu sendiri. Apapun masa lalumu, kamu berharga cantik. Teruslah berkarya. Hanya Tuhan yang berhak menghakimi segala khilafmu.

Selamat untuk para perempuan hebat. Semoga tidak ada lagi diskriminasi, kekerasan dan pelecehan seksual terhadap kaum perempuan.

#anak kampung dari Merauke