Perjuangan Perempuan Tangguh untuk Kemerdekaan Indonesia

0
77

Kolonialisme Belanda dan Jepang di Nusantara sungguh sangat menyengsarakan. Tidak hanya kekayaan alam, sumber daya manusia pun yang dikeruk oleh penjajah. Siapa yang menentang kebijakan pemerintah kolonial otomatis dianggap sebagai pemberontak. Ancamannya minimum hukuman. Tak sedikit pula yang diburu dan dibunuh tanpa peradilan.

Namun seberat apapun ancaman itu tidak lantas menyurutkan perjuangan seluruh rakyat Nusantara. Berbagai perlawanan dilakukan dengan bermacam cara. Mereka bahu-membahu untuk mengusir para penindas. Kesadaran soal tindakan penjajah sebagai bentuk kesewenang-wenangan terhadap kebebasan suatu bangsa melahirkan rasa nasionalisme bangsa–rasa yang membuat setiap orang rela mengorbankan harta dan nyawa demi sebuah kebebasan. Rasa yang sangat mengidamkan sebuah kedaulatan dan kemerdekaan.

Di sepanjang sejarah bangsa ini memperjuangkan kebebasan, kaum perempuan telah menjadi bagian yang tak terpisahkan. Tidak sedikit yang terjun ke medan laga, memegang senjata dengan gigih untuk mengusir penjajah. Namun, karena medan laga mayoritas dimainkan oleh laki-laki, peran perempuan sering dilihat sebelah mata. Sering sulit untuk menyadari bahwa perjuangan tak harus menantang pedang dan timah panas musuh. Perempuan berjuang dengan cara mereka sendiri. Ada yang mengambil peran sebagai tenaga palang merah, ada yang memilih sebagai pendidik anak bangsa. bahkan

Salah satu pejuang wanita yang mungkin tidak asing dalam sejarah Indonesia adalah Cut Nyak Dien. Perempuan Aceh ini merupakan salah satu perempuan yang diakui sebagai pejuang tangguh. Kebenciannya terhadap penjajah semakin memuncak ketika suaminya terbunuh saat bertempur melawan Belanda. Cut Nyak Dien pun bersumpah untuk terus mengobarkan perlawanan rakyat Aceh.

Setelah Cut Nyak Dhien diperistri Teuku Umar, dua sejoli itu pun yang menjadi sepasangan panglima perang di medan laga. Sampai akhirnya Teuku Umar harus terbunuh dan Cut Nyak Dien tertangkap dan diasingkan ke Sumedang, Jawa Barat hingga akhir hayatnya. Karena kegigihan dalam melawan penjajah, wanita asal tanah rencong ini pun diangkat sebagai pahkawan nasional dan diabadikan dalam mata uang pecahan 10.000. Selain itu, jasa besarnya diabadikan sebagai nama salah satu kapal perang TNI AL.

Perjuangan Cut Nyak Dien Diabadikan pada  pecahan uang Rp 10.000

Perempuan tangguh lain yang juga berjuang pada masa penjajahan adalah R.A Kartini. Namanya sangat populer di kalangan perempuan, bahkan dijadikan sebagai ikon emansipasi kaum perempuan dalam kedudukan sosialnya pada masyarakat Indonesia.

Waktu itu, konstruksi sosial yang diciptakan pemerintah kolonial meletakkan perempuan di kelas bawah, sebagai pelengkap pencapaian sosial kaum laki-laki, bahkan sebagai budak nafsu. Kodrat wanita sebagai penerus keturunan dimanfaatkan justru untuk mengeksploitasi dan membatasi hak asasi mereka habis-habisan. Perannya dibatasi hanya mengurus keperluan dapur dan anak.

Kartini menganggap, perempuan berhak mengenyam pendidikan–sebuah keinginan yang kontraproduktif dengan kenyataan sosial pada masa itu. Untuk memperjuangkan berbagai ketidakadilan terhadap perempuan, Raden Ajeng Kartini mendirikan sekolah di Rembang, Cirebon, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Sekolah ini difokuskan untuk memberi pendidikan kepada setiap perempuan pribumi. Kartini berharap, dengan bersekolah perempuan Indonesia memiliki intelektualitas yang setara dengan kaum pria, seperti yang sering ia nyatakan dalam surat-surat yang dibukukan dengan judul  “Habis Gelap terbitlah Terang.”

R.A Kartini Pejuang Emansipasi Wanita

Wanita Tangguh Pahlawan Pejuang Kemerdekaan Indonesia

Selain Cut Nyak Dhien dan Kartini, masih banyak perempuan tangguh yang memainkan peran penting dalam kemelut perjuangan kemerdekaan Indonesia. Dewi Sartika, Martha Chistina Tiahahu, dan Nyi Ageng Serang adalah sebagian kecil nama-nama perempuan yang diingat oleh sejarah Indonesia. Bahkan Bendera Pusaka, yang menjadi simbol fisik kemerdekaan Indonesia, lahir dari tangan Fatmawati, seorang perempuan yang menjadi istri Proklamator Soekarno. Fakta-fakta ini menunjukkan, perempuan memiliki peranan yang tidak bisa dikesampingkan dari sejarah perjuangan Indonesia. Benih-benih generasi penerus bangsa akan terus lahir dari perempuan cerdas dan tangguh yang saat ini berjuang mengisi kemerdekaan.(as)