Belum lama ini,  pemberitaan media massa diramaikan oleh peristiwa yang menggemparkan yaitu berita pembunuhan yang dilakukan seorang ibu pada buah hatinya. Adakah solusi mengatasi masalah sosial ini? 

Peristiwa tersebut bisa disebut sadis, bisa pula tragis, karena bukan pembunuhan yang biasa, melainkan pembunuhan yang dilakukan oleh seorang ibu, dan korban pembunuhan itu adalah anaknya sendiri.

Peristiwa pertama terjadi Palembang dan yang ke dua adalah kejadian dimana seorang ibu menendang anaknya hingga ke ulu hati, hingga tewas.

Beberapa tahun sebelumya, ada seorang ibu yang membakar kedua anaknya, sebelum akhirnya ibu itu membakar dirinya sendiri.

Kalau kita cermati, peristiwa tragis ini sudah terjadi berulang-ulang di sekitar kita, dari waktu ke  waktu.

Siapa yang tidak teriris perasaannya mendengar tragedi ini? Siapa yang tega mendengar kisah pilu ini? Serasa tidak masuk di akal, bagaimana mungkin seorang ibu tega melakukan tindakan keji itu terhadap seorang anak yang tak berdaya? Terlebih pembunuhnya adalah sang ibu yang melahirkannya ke dunia ini.

Siapapun orangnya, yang pertama kali mendengar berita ini pasti akan merasa kaget, heran lalu dilanjutkan dengan sikap heran, marah, dan feed back buruk lainnya.

Siapapun boleh marah mendengar tragedi ini, itu reaksi spontan yang manusiawi. Karena sebuas-buasnya singa tak akan membunuh anaknya sendiri.

Akan tetapi agar kita belajar tidak menghakimi dan bisa bersikap adil sejak dalam pikiran. Mari kita mencoba tarik ke belakang, pada persoalan sebab, kenapa peristiwa tragis itu bisa terjadi.

Kalau selama ini kita cenderung mangambil respon pada sebuah akibat – pembunuhan anak oleh ibunya – maka kita akan mencoba bersedia untuk tahu dan memahami penyebab terjadinya tragedi itu.

pendamping-sosial

Ruang sosial yang menyempit

Bunuh diri sebagai sebuah kesengajaan mengakhiri hidup, dan membunuh darah daging, dengan alasan apapun tentunya kita tidak sependapat.

Kalau dicari penyebabnya, penyebab seseorang bunuh diri mungkin bermacam-macam. Ada masalah ekonomi keluarga, ada masalah perselisihan rumah tangga, karena sakit menahun, gangguan kejiwaan dan banyak sebab lagi.

Kenapa bunuh diri? Akar penyebabnya banyak, tetapi muaranya adalah adanya keputusasaan. Rasa tidak mampu yang amat sangat, mengatasi persoalan yang dihadapi, sudah tidak melihat harapan apapun didepannya.

Kenapa tidak melihat harapan? Apa yang menyebabkan seseorang tak melihat lagi harapan? Salah satu penyebabnya  karena minimnya interaksi sosial.

Inilah yang disebut dengan wabah individualistis, sebuah budaya dimana orang hanya memikirkan kepentingannya sendiri saja.Lalu budaya kebersamaan yng dulu menjadi milik masyarakat sudah semakin menipis.

Kesenjangan sosial semakin lebar, sehingga ada individu-individu yang kehilangan ruang sosialnya untuk berbagi beban yang dia miliki. Individu yang tidak memiliki kekuatan untuk berpacu dengan jaman, dia akan merasa kalah dan sampai pada titik putus asa.

Keputusasaan itulah yang mendorong individu untuk mengakhiri hidupnya, mengakhiri hidup keluarganya.

Ketika ada individu yang merasakan keputusasaan yang sangat dalam menghadapi kehidupan, ini juga menjadi bagian dari masyarakat untuk membantu mengangkat bebannya.

Pendampingan Sosial oleh Perempuan Melalui Kelompok

Apakah kita harus bertanggungjawab terhadap persoalan orang lain? Apakah kita harus mengurusi persoalan orang lain? Apakah kita wajib menyelesaikan persoalan orang lain? Jawabannya tidak, tetapi ada ranah dimana kita sebagai sesama manusia dituntut untuk peduli.

Ada yang bisa dilakukan oleh ibu untuk membantu sesamanya, meringankan bebannya. Ada pendampingan sosial yang bisa dilakukan untuk memberdayakan para ibu di masyarakat.

Kelompok sosial bisa dibangun berdasarkan wilayah, mulai dari tingkatan Rukun Tetangga ( RT ). Jika selama ini sudah ada PKK sejak dari tingkat RT, maka kelompok PKK ini sudah seharusnya diberdayakan kembali.

Keikutsertaan seorang perempuan dalam kelompok-kelompok kemasyarakatan akan memberikan manfaat positif pada individu/ perempuan yang tergabung dalam kelompok tersebut.

Keuntungan yang diperoleh dalam berkelompok di antaranya :

  • Dengan memiliki kelompok, seorang individu merasa memiliki kawan, merasa tidak sendirian. Seorang individu merasa memiliki arti dalam hidupnya, karena ada yang menyayangi, ada yang menunggu, ada yang memperhatikan.
  • Dengan memiliki kelompok, maka pengetahuan dan wawasan yang dimiliki seorang individu akan terus berkembang. Dengan wawasan yang luas, maka terhindar dari pola pikir yang pendek dan dangkal.
  • Dengan berkelompok, seorang individu memiliki rujukan tentang siapa dirinya, dan dari kelompok seorang individu mampu mendefinisikan dirinya sendiri. Seorang individu memiliki rujukan atau referensi bagaimana harus bersikap dan bertingkah laku.
  • Maka dengan berkelompok, akan bisa memberikan rasa aman dan hangat pada individu yang tergabung didalamnya. Meskipun masalah yang dihadapi tidak bisa teratasi secara langsung, setidaknya persoalan sedikti terurai dengan masukan dari individu lain yang ada dalam kelompok.

Itulah sebabnya, kelompok  memiliki kemampuan mengikis rasa indidualisme yang kini semakin menggejala di masyarakat.  Dengan menghidupkan sikap hidup gotong royong, saling peduli, akan mampu membantu menimbulkan rasa aman bagi siapapun yang ada di dalamnya.

Individu yang tergabung dalam kelompok, akan terhindar dari rasa putus asa karena memiliki banyak kawan dalam melanjutkan kehidupannya.

Peneguhan kelompok sosial, khususnya kelompok sosial perempuan dibutuhkan untuk memberi kontribusi psikologis pada perempuan sebagai individu.(nf)

1 COMMENT