Berdasarkan laporan dari BPBA Aceh dan BPBD Pidie Jaya, hingga Kamis (8/12/2016) pukul 09.00 Wib jumlah korban 102 orang tewas, 700-an luka-luka dan 3.267 masyarakat mengungsi akibat gempa 6.5 SR di Kabupaten Pidie Jaya, Pidie dan Bireueun.

Dampak gempa Aceh yang parah membuat Presiden Joko Widodo pada Kamis, 8 Desember 2016 langsung bertolak ke Aceh usai mengikuti rangkaian kunjungan kerja di Bali. Hari itu juga, tepatnya pukul 17.35 WIB, Presiden Joko Widido tiba di Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, Banda Aceh, sekitar pukul 17.35 WIB.

Di Banda Adeh, Presiden langsung memimpin rapat koordinasi penangananan bencana Pidie Jaya di ruang pertemuan di tempat Presiden menginap. Rapat koordinasi tersebut dihadiri oleh Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri PU dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki dan Plt Gubernur Aceh Soedarmo.

Jumat 9 Desember 2016, Presiden Joko Widodo diagendakan untuk melihat langsung penanganan musibah gempa bumi yang terjadi di Kabupaten Pidie Jaya. Beliau ingin memastikan langsung penanganan penyaluran bantuan, evakuasi para korban, dan perbaikan infrastruktur pendukung berjalan dengan baik. Selain itu, Presiden juga akan menjenguk para korban musibah gempa tersebut.

presiden-gempa-aceh

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo telah menginstruksikan Kepala Staf Presiden Teten Masduki, Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo dan jajaran terkait lainnya untuk bertolak menuju Aceh mendahului dirinya. Presiden ingin memastikan betul bahwa kedatangan dirinya nanti di Aceh tidak mengganggu jalannya proses evakuasi yang tengah berlangsung.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, data dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan bahwa telah terjadi gempa bumi dengan kekuatan 6,5 SR di Kabupaten Pidie Jaya, Provinsi Aceh sekitar pukul 05.36 WIB, Rabu, 7 Desember 2016. Pusat gempa bumi terletak pada 5,25 LU dan 96,24 BT, tepatnya di darat pada jarak 106 km arah tenggara Kota Banda Aceh pada kedalaman 15 km.

Kamis, 8 Desember 2016, BNPB mengirimkan bantuan logistik dan pralatan ke Pidie Jaya dengan menggunakan pesawat Hercules TNI-AU dan pesawat cargo dari Lanud Halim Perdanakusuma ke Bandara Blang Bintang. Bantuan senilai Rp 3,5 milyar berupa tenda pengungsi 20 peti, genset 2.800 watt 30 unit, velbed 100 unit, tenda gulung 1.000 unit, lauk-pauk, tikar, peralatan dapur, selimut dan lainnya. Pada Jumat (9/12/2016) akan diterbangkan kembali bantuan logistik dan peralatan ke Aceh.

BNPB terus mengkoordinir potensi nasional untuk membantu penanganan darurat pasca gempabumi 6,5 SR di Kabupaten Pidie Jaya, Pidie dan Bireuen, Provinsi Aceh. Kepala BNPB, Willem Rampangilei, di Pidie Jaya menyatakan bahwa sesuai arahan Presiden Joko Widodo (Jokowi), hari ini (8/12) masih dilakukan upaya pencarian dan penyelamatan korban. Willem menambahkan bahwa pencarian dilakukan tiga tim SAR dengan fokus ruko Merdu, Bandar Dua, dan mobile. Upaya ini dipimpin oleh Basarnas dengan dukungan TNI, Polri, BPBD dan relawan.” Presiden Jokowi juga meminta BNPB, kementerian/lembaga dan Pemerintah daerah untuk melakukan pendampingan dan pemberian bantuan selama masa tanggap darurat dan pemulihan. Kepala Staf Presiden Teten Masduki mengatakan bahwa Presiden Jokowi meminta pengurusan korban ditangani sebaik-baiknya. “Presiden juga meminta kebutuhan logistik, obat-obatan dan lain-lainnya di pos pengungsian ditangani secara baik,” kata Teten seperti dikutip di rilis yang diterima Serempak.id

Data sementara terdapat 10.534 unit rumah rusak, dimana 2.015 rumah rusak berat, 85 rumah rusak sedang, dan 8.434 rumah rusak ringan. 105 ruko roboh, 19 ruko rusak berat, dan 55 masjid rusak berat. Beberapa bangunan seperti kantor pemerintah, sekolah, mushola dan lainnya terdapat kerusakan. Untuk bantuan korban, Kementerian Sosial akan memberikan santunan kepada korban meninggal Rp 15 juta/orang dan luka berat maksimal Rp 5 juta/orang. Korban luka dirujuk di beberapa rumah sakit di Banda Aceh, Sigli, Bireuen, maupun rumah sakit lapangan. (rab)