Sebuah data bukan hanya catatan, tetapi ada cerita atau kisah yang menyajikan berbagai fakta. Sungguh sedih bila data hanya diam dan membisu tanpa ada lanjutannya, baik dalam tindakan atau program. Data yang terlupakan seakan melupakan realita, di sana ada kenyataan dan kehidupan yang menjadi sajian dalam kehidupan. Data adalah bukti yang ditemukan dari hasil penelitian yang dapat dijadikan dasar kajian atau pendapat. Data ini dapat diwujudkan dalam bentuk simbol angka, simbol huruf, atau simbol gambar yang menggambarkan nilai suatu variabel tertentu sesuai dengan kondisi data di lapangan. Simbol angka, huruf atau gambar sering disebut dengan data mentah atau besaran yang belum menunjukkan suatu ukuran terhadap suatu konsep atau gejala tertentu. Besaran data tersebut belum memiliki arti apa pun jika belum dilakukan pengolahan atau analisis lebih lanjut dalam bentuk informasi atau indikator.

Selasa, 27 November 2018, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia mempublikasikan analisa riset penelitian dalam pemberdayaan penelitian yang bersumber dari beberapa penelitian. Dalam hal ini, hadir selaku narasumber Ibu Indah Budiati, Bapak Nur Syahrizal, Bapak Yoyo Karyono, dan Bapak Dendi Romadhon. Publikasi data pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak tahun 2018, bisa menjadi pijakan dalam membangun masyarakat dan generasi yang lebih baik.

Bapak Fakih Usman selaku moderator memandu proses diskusi. Narasumber pertama, Bapak Nur Syahrizal memaparkan profil perempuan Indonesia. Pada sajian penelitian yang dipaparkannya bahwa terdapat beberapa hal yang menunjukkan kategori capaian Pendidikan perempuan, kualitas kesehatan perempuan, peran perempuan dalam dunia kerja, serta akses dan penggunaan internet perempuan. Proses pemilihan kategori variable ini berdasarkan dengan SDG’s (Sustainable Development Goals) yang ditetapkan.

Adapun Bapak Dendi Romadhon memaparkan profil anak Indonesia. Begitu pula dengan profil anak, dalam data merujuk pada SDG’s (Social Development Goals) yang berkaitan dengan pembangunan anak, yang mana anak sebagai aset pembangunan sehingga mendapatkan gambaran lebih akurat tentang kondisi anak dan ketersediaan bermacam indikator anak sangat penting untuk sebuah pembangunan.

Adapun tujuan dari penelitian ini untuk penghapusan kemiskinan anak, menciptakan lingkungan ramah anak, tidak ada lagi anak kekurangan gizi dan meninggal karena penyakit yang bisa diobati, dan memenuhi kebutuhan pendidikan anak, khususnya Pendidikan di usia dini. Profil anak Indonesia 2018 ini menyajikan informasi tentang anak Indonesia berusia 0-17 tahun.

Selanjutnya, Bapak Yoyo Karyono memaparkan tentang indeks pembangunan Indonesia berbasis gender. Secara gamblang Pak Yoyo paparkan tentang pembangunan Indonesia pada perempuan yang menunjukkan bahwa indeks keterwakilan perempuan dalam parlemen ada 57,47%, indeks perempuan sebagai tenaga professional, kepemimpinan dan teknisi ada 99,49%, dan indeks pembangunan pendapatan perempuan ada 58,26%.

Berikutnya Ibu Indah memaparkan tentang profil generasi milenial. Pada data tersebut mengungkapkan generasi milenial, peran generasi milenial dalam politik, generasi milenial dalam politik, sosial demografi dan milenial dengan teknologi. Generasi milenial ini merupakan generasi muda Indonesia yang akan menjadi penerus bangsa Indonesia.

Bu Indah paparkan bahwa generasi milenial itu adalah masyarakat yang ingin serba cepat, mudah berpindah pekerjaan dalam waktu singkat, kreatif, dinamis, melek teknologi, dan dekat dengan media sosial. Pada penelitian menunjukkan bahwa komposisi generasi milenial lebih tinggi dari lainnya. Generasi milenial ada 33,75 %, generasi pasca milenial (generasi Z) ada 29,23 %, generasi X ada 25,74% dan generasi boo + veteran ada 11,27%.

Dari hal tersebut menunjukkan bahwa saat ini generasi milenial sangat dominan. Adapun berdasarkan jenis kelamin untuk generasi milenial, 50,31% untuk laki-laki dan 49,69 % untuk perempuan. Dengan demikian, data penelitian dapat menjadi pedoman atau acuan untuk program yang akan datang.(yr)