Sekilas, tak ada yang berbeda dari sosok Rafi Ridwan. Namun, saat berbicara dengannya, barulah ketahuan bahwa remaja berusia 13 tahun ini adalah seorang tuna rungu.

Tapi, apakah dia minder dan kemudian hanya meratapi nasibnya? Oh, tentu tidak. Justru dalam dunia heningnya, Rafi bisa mengukir banyak prestasi. Salah satunya adalah diperkenalkan secara khusus oleh Tyra Banks, saat grand final America’s Next Top Models cycle 20. Luar biasa, bukan?

Secara fisik, Rafi yang bernama lengkap Rafi Abdurrahman Ridwan ini sebenarnya mirip remaja biasa. Kulitnya yang hitam manis, berpadu apik dengan kacamata yang dikenakannya. Kalau anak-anak sekarang bilang, mungkin terlihat cool.

Rafi yang pernah  dianugerahi rekor MURI sebagai Perancang Busana Tuna Rungu Termuda Berprestasi Internasional ini,  merupakan anak pertama dari tiga bersaudara dari pasangan Sinta Ayu dan Muhammad Ridwan. Sinta, sang bunda sebenarnya sudah mendeteksi kondisi Rafi sejak di dalam kandungan. “Dokter menyebut saya terkena virus Rubella. Kemudian saya diberi pilihan, menggugurkan atau meneruskan. Saya pilih meneruskan kehamilan ini dan percaya sekali bahwa saya akan berjuang untuk anak ini, bagaimanapun caranya,” kenang Sinta.

Perkiraan sang dokter memang benar. Saat lahir, Rafi kemudian diketahui menjadi tuna rungu. Namun, dalam sunyi senyap, Rafi menemukan bakat lain sebagai… desainer. Adalah Sinta yang tentu saja menemukan bakatnya. Di usia dua tahun, Rafi mulai terlihat suka menggambar. Inspirasinya adalah tokoh dongeng Ariel, the little mermaid. Rafi memang sangat menggemari air dan ikan. Tak heran, jika di rumahnya di kawasan Pondok Gede, Bekasi, Rafi juga memelihara ikan dan gemar berenang. “Walaupun dia takut kulitnya bertambah hitam, ” jelas Sinta penuh tawa.

Sadar bahwa bakat menggambar anaknya begitu luar biasa, Sinta kemudian memutar otak. Mencari sosok yang tepat untuk mendampingi dan melatih Rafi. Pilihannya kemudian jatuh kepada desainer Barli Asmara. Berkat pelatihan dari Barli, Rafi kemudian bisa mewujudkan impiannya menjadi desainer sungguhan. Pagelaran busana perdananya dilangsungkan di Canteen, Plaza Indonesia pada 20 Juli 2011. Kemudian, di Jakarta Fashion Week 2011, Rafi berkolaborasi dengan Purana dan Aarti, memamerkan 24 gaun batik. Pencapaian ini tentu sangat luar biasa.

Prestasi Rafi tak berhenti sampai di situ. Pada Oktober 2015 silam, Rafi diundang untuk memamerkan karyanya di gedung prestisius, City Hall, New York, Amerika Serikat. Prestasi ini tentu bukan main-main untuk seorang desainer, apalagi bagi Rafi yang masih sangat belia.

Saat itu, Rafi juga menitipkan sehelai baju dari tenun ikat untuk Michelle Obama, lewat seorang pegawai gedung putih.  Bagaimana Rafi yang tuna rungu dan masih remaja menjalankan usaha ini? Ternyata, menurut sang bunda, mendesain pakaian masih sekadar menjadi hobi. Dan Rafi hanya mengerjakan pesanan kalau memang baju pesanan kliennya memang cocok dan pas di hatinya.

Sinta pun berkisah, salah seorang langganan Rafi yang merupakan sosialita Arab Saudi, pernah “ditolak” pesanannya, karena Rafi menilai baju itu kurang cocok dikenakan kliennya.

Saat seseorang memesan baju rancangannya, Rafi pun tak bisa terburu-buru mengerjakannya. Selain karena butuh waktu yang khusus untuk mendesainnya, yang menjahit dan mengerjakan baju pesanannya adalah rekan-rekan Rafi yang juga tuna rungu, dengan rentang usia 40 sampai 50 tahun. “Saya bangga dan penuh haru, karena Rafi bisa membantu rekan-rekan sesamanya,” jelas Sinta.

Saat mendesain, Rafi memang masih mengandalkan mood-nya. Pernah hingga berbulan-bulan, Rafi tidak menyentuh alat gambarnya. Namun, ketika mood-nya sudah datang, dia bisa menggambar di mana saja. Saat di sebuah Mall, Rafi bahkan pernah menggambar di sebuah toko yang memajang kompor, karena begitu terinspirasi. Kali lain, Rafi pernah menggambar di trotoar jalan Orchard Singapura. “Bahkan sampai ditegur petugas keamanan yang heran dengan sikapnya,” kisah Sinta.

Di tahun 2016 ini, perjalanan Rafi sebagai desainer baru memasuki tahun kelima. Tapi, sayap Rafi terus mengepak hingga ke penjuru dunia. Pada Oktober lalu, Rafi bahkan dipercaya menggelar peragaan busana di museum Fowler yang terletak di dalam komplek University of California, Los Angeles, Amerika.

Saat ke Amerika itu, Rafi juga meluncurkan koleksi terbarunya yang diberi nama Nekamese, dalam sebuah acara yang digelar di santa Monica Promenade, California.

Nama Rafi Ridwan sebagai desainer memang tergolong baru. Kariernya pun masih panjang dan bukan tak mungkin kelak Rafi akan jauh lebih sukses dari saat ini. Sosok Rafi tentu saja menjadi contoh dan inspirasi bagi semua. Jadi, siapa pun pasti setuju, jika seseorang yang disebut kekurangan, pasti punya kelebihan lain.(mhp)